Sudah Kerja Keras Bagai Kuda tapi Tetap Merasa Hampa? Belajar Seni Bahagia Sederhana dari Epicurus

Dalam Artikel Ini

Filsafat Epicurus adalah ajaran yang menekankan bahwa tujuan hidup manusia bukanlah mengejar kenikmatan fisik yang berlebihan, melainkan mencapai Ataraxia atau ketenangan batin melalui cara hidup sederhana, menjalin persahabatan yang tulus, dan menghindari penderitaan yang tidak perlu.

Pernahkah kamu merasa lelah luar biasa setelah seharian bekerja, tetapi saat melihat saldo rekening, rasanya pengorbanan itu tidak sebanding? Kamu bangun pagi buta, menembus kemacetan Jakarta yang gila, bertarung dengan tenggat waktu, dan baru pulang saat matahari sudah lama tenggelam. Siklus ini berulang terus-menerus. Orang-orang menyebutnya hustle culture atau semangat produktivitas. Namun, jauh di lubuk hati, kamu merasa seperti hamster yang berlari di dalam roda putar.

Kamu berlari kencang, tetapi tidak bergerak ke mana-mana.

Selanjutnya, kamu mencoba mengobati kelelahan itu dengan “self-reward”. Kamu membeli kopi mahal yang harganya setara tiga kali makan siang di warteg. Mencicil gadget terbaru agar terlihat mapan di depan teman-teman nongkrong. Kamu liburan ke Bali hanya demi konten Instagram. Akan tetapi, anehnya, rasa senang itu hanya bertahan sekejap. Begitu kembali ke kamar kos atau rumah, perasaan kosong itu datang lagi. Kamu cemas memikirkan masa depan, takut ketinggalan (FOMO), dan merasa hidup orang lain jauh lebih bahagia.

Jika kamu sedang berada di titik ini, berhentilah sejenak. Tarik napas panjang. Kamu tidak membutuhkan motivasi untuk bekerja lebih keras lagi. Sebaliknya, kamu membutuhkan pemikiran Epicurus, seorang filsuf Yunani kuno yang sering kali orang salahpahami, namun justru memegang kunci jawaban atas kegelisahan manusia modern.

Epicurus: Sang Hedonis Palsu yang Lebih Suka Roti daripada Pesta

Banyak orang sering salah kaprah ketika mendengar nama Epicurus. Istilah “hedonisme” sering kali menempel padanya. Dalam percakapan sehari-hari, kita mengartikan hedonisme sebagai gaya hidup foya-foya, mabuk-mabukan, seks bebas, dan makan sepuasnya. Kita membayangkan Epicurus sebagai pria gendut yang berpesta pora setiap malam.

Padahal, kenyataannya bertolak belakang 180 derajat.

Epicurus adalah sosok yang sangat sederhana. Ia tidak tinggal di istana, melainkan di sebuah rumah biasa dengan kebun yang luas yang ia sebut “The Garden” (Sang Taman). Di sana, ia tinggal bersama teman-temannya. Makanan sehari-hari mereka hanyalah roti, zaitun, dan air putih. Sesekali, jika ingin “pesta”, mereka hanya menambahkan sedikit keju.

Bagi Epicurus, kenikmatan (pleasure) memang merupakan tujuan hidup tertinggi. Namun, definisi kenikmatan menurutnya bukanlah pemuasan nafsu tanpa batas. Sebaliknya, kenikmatan sejati adalah ketiadaan rasa sakit (aponia) dan ketenangan jiwa (ataraxia).

Ia percaya bahwa penderitaan manusia muncul bukan karena kita kekurangan uang atau jabatan. Penderitaan muncul karena kita memiliki keinginan yang salah dan rasa takut yang tidak berdasar. Oleh karena itu, Epicurus hadir bukan untuk menyuruhmu berpesta, melainkan untuk mengajarimu cara menikmati segelas air putih seolah-olah itu adalah minuman paling lezat di dunia.

Melawan Racun “Hustle Culture” dengan Resep Kebahagiaan Kuno

Generasi muda hari ini hidup dalam tekanan yang luar biasa. Media sosial terus membombardir kita dengan standar kesuksesan yang tidak masuk akal. Akibatnya, kita merasa “kurang” jika belum punya rumah di usia 25 atau belum punya tabungan ratusan juta. Kita bekerja sampai sakit tifus demi mengejar standar tersebut.

Epicurus, melalui ajarannya, menawarkan penawar racun yang ampuh. Ia membagi keinginan manusia menjadi tiga kategori. Memahami kategori ini akan menyelamatkan dompet dan kewarasanmu.

Pertama, Keinginan Alamiah dan Perlu (Natural and Necessary). Ini adalah kebutuhan dasar seperti makan, minum, tempat berteduh, dan pakaian. Tanpa ini, kita menderita. Pemenuhannya pun mudah dan tidak membutuhkan banyak uang. Nasi bungkus sudah cukup menghilangkan lapar, sama efektifnya dengan steak mahal.

Kedua, Keinginan Alamiah tapi Tidak Perlu (Natural but Not Necessary). Contohnya adalah makanan enak, rumah mewah, atau pakaian bermerek. Kamu secara alami menginginkannya karena enak dan nyaman. Namun, kamu tidak membutuhkannya untuk bahagia atau bertahan hidup. Sering kali, usaha untuk mendapatkan hal ini justru membawa lebih banyak penderitaan daripada kenikmatannya. Kamu harus lembur, berhutang, atau menipu orang lain demi mendapatkannya.

Ketiga, Keinginan Tidak Alamiah dan Tidak Perlu (Vain and Empty). Inilah sumber utama penderitaan manusia modern: keinginan akan ketenaran, kekuasaan, status sosial, dan validasi orang lain. Keinginan ini tidak memiliki batas. Jika kamu punya 1.000 followers, kamu ingin 10.000. Jika kamu punya mobil satu, kamu ingin dua. Keinginan ini ibarat ember bocor; seberapa banyak pun kamu mengisinya, ember itu tidak akan pernah penuh.

Oleh karena itu, Epicurus menyarankan kita untuk fokus pada kategori pertama saja. Jika kamu bisa makan hari ini, punya tempat tidur, dan badanmu sehat, kamu sudah memiliki modal utama untuk bahagia. Sisanya hanyalah bonus, bukan syarat. Pola pikir ini adalah senjata ampuh untuk melawan hustle culture. Kamu bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja mengejar keinginan kategori ketiga yang sia-sia.

Persahabatan: Obat Penenang Paling Mujarab

Selain menyederhanakan keinginan, Epicurus menekankan satu hal yang sering kita lupakan di zaman digital ini: Persahabatan.

Ia pernah berkata, “Dari segala hal yang kebijaksanaan sediakan untuk kebahagiaan hidup, yang terpenting adalah persahabatan.”

Epicurus bahkan rela meninggalkan hiruk-pikuk kota Athena demi hidup bersama teman-temannya di “The Garden”. Ia percaya bahwa makan sendirian itu menyedihkan, semewah apa pun makanannya. Sebaliknya, makan roti kering akan terasa seperti pesta jika kita menyantapnya bersama sahabat yang tulus.

Namun, mari kita refleksikan kondisi kita sekarang. Kita memiliki ribuan teman di Facebook dan pengikut di Instagram. Kita terhubung 24 jam. Akan tetapi, berapa banyak dari mereka yang benar-benar mengenalmu? Berapa banyak yang akan datang membawa sup hangat saat kamu sakit?

Kita sering menukar waktu bersama sahabat dengan waktu lembur demi uang. Kita membatalkan janji temu karena “sibuk”. Akibatnya, kita mengalami epidemi kesepian. Epicurus mengajarkan bahwa koneksi manusia yang nyata adalah sumber keamanan dan ketenangan batin. Sahabat membuat kita merasa aman menghadapi dunia yang jahat. Oleh sebab itu, investasi terbaik bukanlah saham atau kripto, melainkan waktu berkualitas bersama orang-orang terdekat.

Seni bahagia epicurus

Seni Berbahagia Rp75.000 jadi Rp52.500 dapatkan di sini.

Sisi Gelap Epicurus: Apakah Kita Harus Menjadi Egois?

Tentu saja, tidak ada pemikiran yang sempurna. Saat membaca gagasan Epicurus, mungkin muncul pertanyaan kritis di kepalamu: “Apakah ini berarti kita harus masa bodoh dengan dunia?”

Kritik utama terhadap Epicureanisme adalah sifatnya yang cenderung pasif dan menarik diri. Epicurus menyarankan pengikutnya untuk menjauhi politik dan kehidupan publik. Ia memiliki semboyan Lathe Biosas atau “Hiduplah dalam ketersembunyian”. Menurutnya, keterlibatan dalam politik dan ambisi sosial hanya akan mengganggu ketenangan jiwa (Ataraxia).

Di konteks Indonesia yang memiliki banyak masalah sosial—mulai dari kemiskinan hingga ketidakadilan hukum—sikap ini bisa terlihat egois. Jika semua orang cerdas memilih hidup tenang di kebun dan tidak peduli pada negara, siapa yang akan memperbaiki sistem? Siapa yang akan membela rakyat kecil?

Selain itu, gaya hidup ala Epicurus mungkin terdengar seperti privilese. Mudah bagi seseorang untuk berkata “bahagia itu sederhana” jika ia sudah memiliki kebun warisan atau tabungan yang cukup. Namun, bagi buruh yang gajinya pas-pasan untuk bayar kontrakan, nasihat “kurangi keinginan” mungkin terdengar seperti penghinaan.

Akan tetapi, kita bisa melihat kritik ini dari sudut pandang lain. Epicurus tidak melarang kita berbuat baik. Ia hanya mengingatkan bahwa kita tidak bisa menyelamatkan dunia jika jiwa kita sendiri sedang hancur. Menjaga kewarasan diri sendiri adalah langkah pertama sebelum kita bisa berkontribusi bagi orang lain.

Menemukan “Taman” di Tengah Hutan Beton

Lantas, bagaimana kita bisa menerapkan ajaran kakek tua Yunani ini di tengah kemacetan Jakarta atau hiruk-pikuk Surabaya? Kita tidak mungkin berhenti kerja besok dan pindah ke hutan, bukan?

Penerapan Epicureanisme di abad ke-21 tidak harus ekstrem. Kita bisa memulainya dengan perubahan pola pikir kecil namun radikal.

Pertama, auditlah keinginanmu. Sebelum kamu checkout belanjaan di marketplace, tanyakan pada dirimu: “Apakah ini keinginan alamiah yang perlu? Atau ini hanya keinginan kosong demi status?” Sering kali, kita membeli barang bukan karena fungsinya, melainkan karena kita ingin orang lain melihat kita memilikinya. Dengan memangkas keinginan kategori ketiga, kamu akan merasakan beban finansialmu berkurang drastis. Kamu tidak perlu bekerja sekeras kuda jika kebutuhanmu ternyata tidak banyak.

Kedua, ciptakan ritual ketenangan. Di tengah dunia yang bising, carilah momen Ataraxia setiap hari. Mungkin itu berupa 15 menit duduk diam tanpa memegang ponsel di pagi hari. Atau mungkin menikmati teh hangat di sore hari sambil melihat langit. Epicurus mengajarkan kita untuk “menikmati saat ini”. Jangan biarkan kecemasan akan masa depan merampok kedamaianmu hari ini.

Ketiga, prioritaskan manusia, bukan benda. Mulai akhir pekan ini, cobalah ganti agenda “jalan-jalan ke mall” dengan “mengobrol di teras rumah teman”. Bawa makanan sederhana, letakkan ponsel, dan bicaralah dari hati ke hati. Kamu akan menemukan bahwa kebahagiaan yang kamu cari selama ini tidak ada di etalase toko, melainkan di dalam tawa renyah sahabatmu.

Terakhir, berdamailah dengan rasa cukup. Kalimat ini terdengar klise, namun efeknya magis. Ketika kamu merasa cukup, kamu menjadi orang paling kaya di dunia. Kamu tidak lagi iri melihat pencapaian orang lain karena kamu tahu apa yang kamu butuhkan untuk bahagia sudah kamu miliki.

Penutup

Hidup di era modern memang merancang kita untuk selalu merasa lapar, selalu merasa kurang, dan selalu ingin berlari lebih cepat. Sistem ekonomi kita bergantung pada ketidakpuasan kita. Jika kita semua merasa cukup, roda konsumerisme akan berhenti berputar.

Oleh karena itu, memilih untuk hidup sederhana dan bahagia ala Epicurus adalah sebuah tindakan pemberontakan.

Kamu memberontak terhadap sistem yang ingin menjadikanmu robot pekerja. Memberontak terhadap budaya pamer yang membuat jiwa kering. Kamu memilih untuk turun dari treadmill yang melelahkan itu dan mulai berjalan santai menikmati pemandangan.

Epicurus mengingatkan kita bahwa kebahagiaan itu murah; justru gengsilah yang mahal. Ketenangan itu gratis; justru ambisilah yang menuntut bayaran mahal.

Jadi, nanti malam, cobalah rayakan hidupmu. Bukan dengan pesta mewah di kelab malam, melainkan dengan makan malam sederhana, tidur yang nyenyak, dan hati yang tenang karena menyadari bahwa kamu sudah memiliki semua yang kamu perlukan untuk bahagia. Selamat beristirahat, wahai jiwa yang lelah. Kamu sudah cukup.