Mengapa Hidup Terasa Melelahkan? Jawaban Jujur dari Filsafat Pesimisme

Menurunkan Ekspektasi untuk Menaikkan Kebahagiaan

Dalam Artikel Ini

Filsafat pesimisme adalah sebuah pandangan realistis yang mengakui bahwa penderitaan, kekurangan, dan ketidakpuasan merupakan kondisi alami dari kehidupan manusia, sehingga kebahagiaan sejati bukanlah tujuan akhir yang masuk akal, melainkan sekadar momen singkat bebas dari rasa sakit.

Sejak kecil, lingkungan sekitar menanamkan keyakinan bahwa hidup memiliki skenario linear yang indah. Orang tua dan guru sering berkata jika seorang anak belajar rajin, ia akan masuk universitas ternama. Selanjutnya, lulusan terbaik pasti mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Kemudian, puncak dari semua kerja keras itu adalah pernikahan bahagia, rumah mewah, dan hidup tenang selamanya.

Akan tetapi, realitas sering kali menampar kita dengan skenario yang jauh berbeda.

Mungkin saat ini pekerjaan impian itu sudah ada di tangan, tetapi rutinitas 9-to-5 justru terasa seperti penjara yang membosankan. Barang mewah yang bulan lalu sangat didambakan kini tergeletak begitu saja di sudut kamar, sementara mata mulai melirik barang lain yang lebih mahal. Rasanya seperti berlari di atas treadmill; keringat bercucuran, kaki pegal, napas memburu, namun posisi tubuh tidak bergerak ke mana pun.

Perasaan lelah ini, serta rasa muak terhadap siklus keinginan yang tidak berujung, bukanlah tanda kurang bersyukur. Sebaliknya, itu adalah momen kejujuran eksistensial. Kamu sedang melihat wajah asli kehidupan tanpa filter. Selamat datang di klub orang-orang yang “sadar”. Mari kita duduk sejenak dan berbincang tentang Arthur Schopenhauer, seorang kakek tua pemarah dari Jerman yang mungkin adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahamimu saat ini.

Arthur Schopenhauer: Patron Para Pemikir yang Murung

Sebelum menyelami gagasannya yang gelap namun menenangkan, perkenalan dengan sosok di balik pemikiran ini sangatlah penting. Arthur Schopenhauer bukanlah tipe motivator yang akan meneriakkan semangat kosong di telinga pendengarnya. Justru, dia adalah antitesis dari semua itu. Hidup pada abad ke-19, filsuf ini menghabiskan waktunya untuk mengamati dunia dengan tatapan sinis, bermain seruling sendirian, dan memelihara anjing pudel yang ia anggap lebih setia daripada manusia.

Ia sangat membenci optimisme buta. Baginya, optimisme adalah cara berpikir yang agak kejam karena menjanjikan surga yang mustahil tercapai, sehingga akhirnya hanya menciptakan kekecewaan mendalam. Schopenhauer menawarkan jalan lain. Ia memperkenalkan filsafat pesimisme bukan untuk menyebarkan depresi, melainkan untuk menyelamatkan mental manusia dari harapan-harapan palsu.

Gagasan intinya berpusat pada satu konsep besar yang ia sebut “Kehendak” (The Will).

Bayangkan sebuah kekuatan buta, irasional, dan tidak pernah puas yang menggerakkan seluruh alam semesta. Kekuatan inilah yang memaksa tanaman tumbuh menembus aspal, mendorong hewan saling memangsa demi bertahan hidup, dan membuat manusia terus-menerus mengejar hal-hal baru.

Schopenhauer berpendapat bahwa manusia bukanlah makhluk rasional yang memegang kendali penuh. Sebaliknya, kita hanyalah boneka yang bergerak karena tarikan benang “Kehendak” tersebut. Seseorang merasa ia memilih untuk jatuh cinta, mengejar karier, atau membeli gawai baru. Padahal, menurut Schopenhauer, itu hanyalah insting biologis buta yang memaksa makhluk hidup untuk terus bertahan dan bereproduksi tanpa tujuan jelas selain “terus ada”.

Akibatnya, hidup menjadi proyek yang melelahkan karena manusia menjadi budak dari tuan yang tidak pernah kenyang. Inilah akar dari segala keresahan yang muncul setiap malam Minggu atau setiap Senin pagi.

Pendulum Penderitaan: Antara Rasa Sakit dan Kebosanan

Schopenhauer menggunakan sebuah analogi yang sangat brilian—dan sedikit mengerikan—untuk menggambarkan kondisi manusia. Ia menyatakan bahwa hidup ini berayun seperti pendulum, bergerak bolak-balik antara dua titik ekstrem: Penderitaan dan Kebosanan.

Mari membedah konsep ini dalam konteks kehidupan sehari-hari di Indonesia.

Pertama, manusia berada di fase “Kekurangan”. Saat menginginkan sesuatu—misalnya pekerjaan baru, pacar, atau ponsel pintar terbaru—seseorang akan merasakan penderitaan. Rasa cemas dan gelisah muncul karena merasa ada yang kurang. Keinginan manusia menciptakan lubang di dada yang menuntut pemenuhan. Inilah fase penderitaan.

Kemudian, perjuangan mati-matian pun dimulai. Lembur bagai kuda, menabung ketat, atau melakukan pendekatan intensif ke orang yang disukai menjadi agenda harian. Akhirnya, keberhasilan tercapai. Target itu berhasil didapatkan.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah kebahagiaan abadi datang?

Sayangnya tidak. Euforia itu hanya bertahan sekejap mata. Setelah rasa senang sesaat itu hilang, adaptasi terjadi. Ponsel baru menjadi barang biasa. Pasangan yang dulu dikejar setengah mati kini mulai terasa membosankan atau bahkan menyebalkan. Pekerjaan impian berubah menjadi rutinitas menjemukan.

Di sinilah fase kedua masuk: Kebosanan.

Schopenhauer menjelaskan bahwa begitu satu keinginan terpenuhi, “Kehendak” akan langsung menciptakan keinginan baru. Rasa bosan terhadap apa yang sudah dimiliki memicu keinginan akan hal lain. Ambisi naik jabatan, keinginan ganti mobil, atau harapan mendapat pasangan yang lebih pengertian mulai tumbuh. Siklus penderitaan pun berputar lagi dari awal.

Oleh karena itu, penderitaan hidup bagi Schopenhauer bukanlah sebuah kecelakaan. Penderitaan adalah setelan pabrik (default setting) keberadaan manusia. Kita menderita karena tidak punya, dan kita bosan setelah punya. Manusia terjebak di tengah-tengah, berayun tanpa henti sampai akhirnya kematian menghentikan pendulum tersebut.

Di era digital saat ini, ayunan pendulum bergerak semakin cepat dan brutal. Algoritma media sosial merancang sistem untuk memproduksi keinginan-keinginan baru setiap detik. Melihat teman liburan ke Jepang memicu penderitaan karena ingin ke sana. Melihat influencer memamerkan saldo ATM memicu rasa miskin. Media sosial adalah mesin pesimisme yang bekerja dengan cara menjual mimpi yang tidak akan pernah memuaskan dahaga.

Cinta Hanyalah Tipuan Biologis

Salah satu bagian paling kontroversial namun menarik dari pemikiran Schopenhauer adalah pandangannya tentang asmara. Bagi para hopeless romantic yang percaya pada konsep belahan jiwa, bersiaplah untuk sedikit kecewa.

Menurut Schopenhauer, cinta romantis hanyalah ilusi atau tipuan besar.

Ia berargumen bahwa saat jatuh cinta, seseorang merasa pasangannya adalah satu-satunya sumber kebahagiaan. Pengorbanan karier, tindakan irasional, hingga perlawanan terhadap orang tua sering terjadi atas nama cinta. Pelaku asmara berpikir mereka sedang mengejar kebahagiaan pribadi.

Akan tetapi, Schopenhauer menertawakan tingkah laku tersebut. Baginya, rasa cinta yang menggebu-gebu itu hanyalah strategi “Kehendak Untuk Hidup” (insting spesies) yang ingin memastikan kelangsungan umat manusia. Alam bawah sadar menipu manusia agar mau bereproduksi dan menghasilkan keturunan.

Alam tahu bahwa membesarkan anak itu sulit, mahal, dan melelahkan. Jika manusia berpikir rasional murni, mungkin populasi akan punah. Oleh karena itu, alam menciptakan ilusi bernama “Cinta” yang memabukkan agar manusia terjebak dalam skenario tersebut.

Begitu tujuan biologis tercapai, selubung ilusi itu sering kali terangkat. Inilah sebabnya banyak pasangan merasa “kaget” setelah menikah. Mereka bingung ke mana perginya rasa mabuk kepayang yang dulu ada. Schopenhauer seolah berkata: “Tugasmu sudah selesai, wahai budak alam. Sekarang hadapilah realitas.”

Pandangan ini terdengar sangat dingin. Namun, jika direnungkan kembali, perspektif ini justru bisa menyelamatkan banyak hubungan. Jika tuntutan agar pasangan menjadi sumber kebahagiaan abadi berhenti, hubungan yang lebih realistis, penuh toleransi, dan minim drama justru bisa terbangun.

Munafik atau Manusiawi?

Tentu saja, menelan mentah-mentah pemikiran tokoh mana pun tanpa sikap kritis adalah tindakan kurang bijak. Meskipun Schopenhauer berbicara panjang lebar tentang pentingnya hidup sederhana (asketisme) dan menyangkal keinginan duniawi, kenyataan hidupnya justru penuh paradoks.

Schopenhauer bukanlah seorang petapa yang tinggal di gua sunyi. Sebaliknya, ia adalah seorang borjuis yang menikmati makanan enak, sering bermain wanita, dan sangat terobsesi dengan ketenaran. Ia bahkan pernah terlibat kasus hukum karena mendorong seorang wanita tua yang berisik di depan apartemennya, yang mengakibatkan ia harus membiayai hidup wanita itu sampai mati.

Selain itu, filsafat pesimisme miliknya sering mendapat kritik karena berpotensi memicu kepasifan. Jika hidup ini hanya penderitaan dan usaha manusia sia-sia, untuk apa bangun pagi? Pemikiran ini bisa menjadi alasan bagi sebagian orang untuk menyerah sebelum bertanding atau menjadi sinis tanpa kontribusi.

Akan tetapi, kemunafikan Schopenhauer bisa dilihat dari sudut pandang lain. Kegagalannya dalam menjalani filosofinya sendiri justru membuktikan tesis utamanya: bahwa “Kehendak” atau dorongan nafsu manusia memang sangat kuat dan sulit ditaklukkan. Bahkan seorang filsuf jenius yang memahami cara kerjanya pun masih kalah melawannya. Ini membuktikan bahwa kerentanan adalah hal yang manusiawi.

Seni dan Belas Kasih Sebagai Obat Penawar

Lantas, jika hidup ini begitu suram, apakah bunuh diri menjadi solusi? Schopenhauer dengan tegas menjawab: TIDAK.

Bunuh diri, menurutnya, bukanlah penolakan terhadap “Kehendak”, melainkan justru bentuk frustrasi dari keinginan yang tidak terpenuhi. Orang yang bunuh diri sebenarnya ingin hidup, mereka hanya tidak tahan dengan kondisi hidup mereka saat ini.

Schopenhauer menawarkan dua jalan keluar utama untuk “beristirahat” sejenak dari siklus penderitaan ini.

Pertama, melalui Seni dan Estetika. Mendengarkan lagu sedih saat galau sering kali memberikan rasa lega. Begitu pula saat menonton film berkualitas, beban tagihan listrik yang belum lunas bisa terlupakan sejenak.

Schopenhauer menempatkan seni, terutama musik, di posisi yang sangat tinggi. Saat menikmati seni, seseorang berhenti menjadi “pelaku” yang menginginkan sesuatu. Ia berubah menjadi “pengamat murni”. Jiwa tenggelam dalam keindahan, dan sejenak, “Kehendak” yang buas itu tertidur. Tidak ada keinginan, hanya kenikmatan murni.

Oleh karena itu, kunjungan ke museum, mendengarkan musik klasik, atau membaca novel fiksi bukan sekadar hiburan. Itu adalah terapi metafisik untuk membebaskan jiwa dari perbudakan keinginan.

Kedua, melalui Belas Kasih (Compassion/Mitleid). Inilah puncak etika Schopenhauer yang mengejutkan. Meskipun terkenal galak, ia mengajarkan bahwa satu-satunya dasar moral yang valid adalah belas kasih.

Ketika kesadaran muncul bahwa orang lain—teman yang menyebalkan, bos yang galak, atau orang asing di jalan—sebenarnya juga merupakan sesama korban dari “Kehendak”, hati akan melunak.

Semua manusia berada di kapal yang sama yang sedang karam. Semua sama-sama dikejar oleh monster keinginan yang tidak pernah puas. Penderitaan itu universal, hanya bentuk dan kemasannya saja yang berbeda. Si kaya menderita karena kebosanan, sementara si miskin menderita karena kekurangan.

Pemahaman ini seharusnya melahirkan solidaritas. Schopenhauer mengajak untuk memandang orang lain bukan sebagai musuh, melainkan sebagai “teman seperjalanan dalam penderitaan” (fellow sufferers).

Sikap menghakimi teman yang pamer di media sosial bisa berubah menjadi empati saat menyadari mungkin dia sedang menutupi rasa insecure. Kemarahan pada pasangan yang menuntut perhatian bisa mereda saat memahami dia juga berjuang melawan kekosongan batin. Hidup akan terasa jauh lebih ringan dengan toleransi ini.

Menurunkan Ekspektasi untuk Menaikkan Kebahagiaan

Setelah menelusuri lorong gelap pemikiran Schopenhauer, secercah cahaya hangat justru terlihat. Filsafat pesimisme bukanlah ajakan untuk bersedih sepanjang hari. Sebaliknya, ini adalah strategi manajemen harapan yang sangat canggih.

Sumber utama kekecewaan biasanya adalah kesenjangan antara realitas dan ekspektasi. Harapan bahwa hidup ini adil sering kali berbenturan dengan kenyataan yang tidak adil. Harapan bahwa orang lain selalu baik sering kali hancur oleh ego manusia.

Dengan mengadopsi sedikit pesimisme Schopenhauer, ekspektasi bisa turun ke level yang lebih membumi.

Ketika masalah datang, keterkejutan atau ratapan “Kenapa aku?” tidak akan terjadi lagi. Sebaliknya, respons yang muncul adalah, “Ah, tentu saja masalah ini datang. Inilah hidup. Mari selesaikan.” Tameng mental menjadi lebih kuat.

Selain itu, pesimisme membuat penghargaan terhadap momen-momen kecil meningkat. Karena kesadaran bahwa penderitaan adalah norma sudah tertanam, maka momen minum kopi dengan tenang atau tertawa lepas dengan sahabat akan terasa sebagai anugerah luar biasa. Tuntutan akan kebahagiaan yang meledak-ledak berhenti, berganti dengan rasa syukur atas ketiadaan rasa sakit.

Dalam budaya yang sering menuntut kepositifan beracun (toxic positivity), Schopenhauer adalah teman yang berani berkata jujur bahwa “tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja”. Dia memvalidasi perasaan lelah dan menegaskan bahwa bertahan hidup sampai detik ini adalah sebuah kehebatan.

Penutup

Mungkin terdengar paradoksal, tetapi membaca karya filsuf paling pesimis dalam sejarah justru bisa membuat tidur lebih nyenyak malam ini.

Pengejaran terhadap bayang-bayang kesempurnaan yang tidak ada bisa berhenti. Penyiksaan diri karena belum mencapai standar sukses algoritma pun usai. Kesadaran bahwa keinginan tidak akan pernah habis membuat lari kencang tanpa arah menjadi tidak berguna.

Hidup ini, seperti kata Schopenhauer, mungkin memang penuh dengan nada-nada sumbang. Namun, justru karena itulah pencarian harmoni di sela-selanya menjadi penting. Nikmatilah seni, kasihilah sesama manusia yang sama-sama sedang berjuang, dan bersikaplah lembut pada diri sendiri.

Jika hidup ini hanyalah pendulum yang berayun antara sakit dan bosan, setidaknya pilihan untuk menikmati pemandangan saat ayunan itu bergerak masih tersedia. Selamat beristirahat dari ekspektasi yang melelahkan.