Rocky Gerung: Melawan Kedunguan dengan Akal Sehat

Rocky Gerung

Dalam Artikel Ini

Rocky Gerung adalah seorang filsuf, akademisi, dan pengamat politik Indonesia yang dikenal luas karena kemampuan retorikanya yang tajam serta keberaniannya mendekonstruksi logika kekuasaan menggunakan pisau bedah filsafat. Ia mempopulerkan istilah “akal sehat” dan “dungu” dalam diskursus publik bukan sebagai bentuk makian emosional, melainkan sebagai kategori logis untuk menantang kebijakan publik yang tidak rasional dan penuh kecacatan berpikir, menjadikannya ikon intelektual bagi mereka yang merindukan perdebatan substansial di tengah hiruk-pikuk pencitraan politik.

***

Pernahkah kamu menonton berita atau membaca pernyataan seorang pejabat negara, lalu dahimu berkerut karena merasa ada yang tidak beres dengan omongan mereka? Kamu merasa bingung, “Kok jawabannya muter-muter? Kok alasannya tidak masuk akal?” Namun, kamu tidak tahu bagaimana cara merumuskan kebingungan itu menjadi sebuah argumen. Kamu hanya merasa kesal, lalu mematikan televisi atau menutup aplikasi media sosial dengan perasaan jenuh. Rasanya, kita hidup dalam sebuah drama kolosal di mana naskahnya berantakan dan para aktornya berakting buruk, tetapi mereka memaksa kita untuk tepuk tangan.

Jika kamu pernah merasakan kegelisahan intelektual semacam itu, maka kamu sedang mengalami apa yang Rocky Gerung sebut sebagai “defisit akal sehat”. Di tengah banjir informasi dan serbuan buzzer yang bising, kita sering kehilangan orientasi tentang mana yang benar dan mana yang sekadar pembenaran. Kehadiran Rocky Gerung di panggung publik sering kali memicu dua reaksi ekstrem: sorak sorai kekaguman atau kemarahan yang meluap-luap.

Akan tetapi, terlepas dari apakah kamu menyukainya atau membencinya, kita tidak bisa memungkiri satu fakta. Rocky Gerung telah mengubah cara kita bertengkar di ruang publik. Ia memaksa kita untuk melihat kembali definisi “pintar” dan “bodoh”. Artikel ini tidak bertujuan untuk memujanya sebagai nabi baru, melainkan mengajakmu menyelami jalan pikiran seorang provokator intelektual yang percaya bahwa pikiran itu harus merdeka, liar, dan berbahaya.

Lebih dari Sekadar “No Rocky, No Party”

Bagi generasi media sosial, Rocky Gerung mungkin identik dengan potongan video pendek di TikTok yang berisi kalimat-kalimat pedas atau slogan “No Rocky, No Party”. Namun, memahami sosok ini memerlukan penelusuran yang lebih dalam daripada sekadar meme internet. Rocky memiliki latar belakang akademis yang kuat sebagai pengajar di Departemen Filsafat Universitas Indonesia (UI) selama belasan tahun. Menariknya, ia mengajar di sana tanpa memegang gelar doktor atau profesor, sebuah anomali dalam dunia akademis yang gila gelar. Ia mengajar mahasiswa doktoral (S3) meskipun ia “hanya” lulusan S1.

Fakta ini menunjukkan satu hal penting tentang karakternya: Rocky menghargai substansi di atas formalitas. Ia tidak peduli pada selembar ijazah jika isi kepalanya kosong. Ia lebih memilih mendaki gunung dan membaca sastra klasik daripada mengejar jabatan struktural di kampus. Kecintaannya pada alam dan panjat tebing juga membentuk cara berpikirnya. Saat memanjat tebing, seseorang harus fokus, presisi, dan tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun karena taruhannya adalah nyawa. Prinsip presisi ini ia bawa ke dalam debat politik. Ia menuntut ketepatan logika yang sama dari para penguasa.

Rocky sering menyebut dirinya sebagai “presiden akal sehat”. Istilah ini terdengar arogan bagi sebagian orang. Akan tetapi, jika kita menelisik lebih jauh, ia sebenarnya sedang melakukan satir terhadap sistem presidensial dan demokrasi kita yang sering kali kehilangan arah. Ia memposisikan dirinya sebagai oposisi abadi. Bagi Rocky, tugas seorang intelektual adalah mencurigai kekuasaan. Siapa pun presidennya, entah itu kawan atau lawan, Rocky akan tetap mengkritiknya. Ia percaya bahwa kekuasaan memiliki kecenderungan alamiah untuk korup dan menipu, sehingga “akal sehat” harus selalu berdiri di seberangnya sebagai anjing penjaga.

Gagasan Inti: “Dungu” sebagai Kategori Logis, Bukan Makian

Salah satu kontroversi terbesar yang melekat pada Rocky Gerung adalah penggunaan kata “dungu”. Banyak orang merasa tersinggung karena menganggap kata itu kasar, tidak sopan, dan tidak sesuai dengan budaya ketimuran yang santun. Namun, Rocky memiliki penjelasan filosofis yang menarik di balik penggunaan diksi tersebut.

Menurut Rocky, “dungu” bukanlah tentang rendahnya IQ atau kecerdasan otak seseorang. Seseorang bisa saja bergelar profesor atau jenderal, tetapi tetap “dungu” dalam definisi Rocky. Dungu, dalam perspektifnya, adalah ketidakmampuan seseorang untuk menghubungkan satu premis dengan premis lainnya secara logis. Dungu adalah ketika kekuasaan membuat kebijakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan, lalu mencari-cari alasan pembenaran yang konyol.

Sebagai contoh konkret, bayangkan seorang pejabat melarang mudik lebaran dengan alasan mencegah penularan virus, tetapi di saat yang sama ia membuka tempat wisata dan mengizinkan warga negara asing masuk. Secara logika, kebijakan ini bertabrakan. Virus tidak membedakan antara pemudik, turis, atau warga asing. Ketika kebijakan itu lahir dari kontradiksi berpikir, Rocky akan melabelinya sebagai kedunguan publik. Ia menyerang argumennya, bukan pribadinya.

Oleh karena itu, Rocky mengajak kita untuk membedakan antara “sopan santun” dan “kebenaran logis”. Sering kali, kita terjebak dalam budaya eufemisme (penghalusan bahasa). Kita takut menyebut sebuah kesalahan sebagai kesalahan. Kita membungkus kritik dengan bahasa yang berputar-putar agar tidak menyinggung perasaan bapak pejabat. Akibatnya, esensi kritik itu hilang. Rocky mendobrak budaya feodal ini. Ia menunjukkan bahwa dalam demokrasi, bahasa harus lugas. Jika kebijakan itu bodoh, katakan bodoh. Memoles kebodohan dengan bahasa santun justru merupakan bentuk penipuan terhadap rakyat.

Gagasan ini mengajarkan kita untuk berhenti menjadi munafik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjadi “dungu” karena kita malas berpikir atau takut berbeda pendapat. Kita menelan informasi dari grup WhatsApp keluarga tanpa verifikasi. Kita ikut-ikutan membenci seseorang hanya karena teman-teman kita membencinya. Rocky menampar kita agar bangun dari tidur dogmatis tersebut.

Menjadi Jomblo yang Berdaulat

Selain politik, Rocky Gerung juga sering berbicara tentang cinta, kesepian, dan statusnya sebagai seorang lajang (jomblo) di usia matang. Tentu saja, ia membahasnya dengan kacamata filsafat yang unik. Bagi Rocky, menikah itu indah, tetapi menjadi jomblo juga merupakan sebuah kemewahan yang menawarkan kedaulatan penuh atas diri sendiri.

Di era modern yang penuh tekanan sosial ini, banyak anak muda merasa gagal atau tidak berharga jika belum memiliki pasangan di usia tertentu. Kita sering menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain. Rocky menawarkan perspektif yang membebaskan: kebahagiaan tertinggi adalah kebebasan berpikir. Ia menunjukkan bahwa seseorang bisa hidup utuh, bahagia, dan bermakna tanpa harus mengikuti skenario sosial pada umumnya.

Relevansi pemikiran Rocky juga sangat kuat bagi generasi overthinker. Banyak anak muda hari ini terjebak dalam kecemasan berlebihan (anxiety) akan masa depan. Kita cemas akan karier, cemas akan citra diri di media sosial, dan cemas akan validasi orang lain. Rocky mengajarkan critical thinking (berpikir kritis) sebagai obat bagi overthinking.

Apa bedanya? Overthinking adalah memutar-mutar masalah di kepala tanpa solusi, yang berujung pada ketakutan emosional. Sebaliknya, critical thinking adalah membedah masalah tersebut, melihat akar penyebabnya, dan menyusun argumen untuk mengatasinya. Rocky selalu terlihat tenang meskipun diserang oleh ribuan orang karena ia menggunakan critical thinking. Ia tidak membiarkan emosi orang lain mendikte suasana batinnya. Ia memiliki kedaulatan mental.

Belajar dari Rocky berarti belajar untuk memiliki mental baja. Di dunia kerja atau pergaulan, kamu pasti akan bertemu dengan orang-orang yang tidak suka padamu, orang yang menyebar gosip, atau atasan yang tidak adil. Jika kamu menggunakan mentalitas korban, kamu akan hancur. Namun, jika kamu menggunakan logika Rocky, kamu akan melihat serangan mereka sebagai cacat logika atau ketidakmampuan mereka dalam berargumen. Kamu akan tersenyum sinis, lalu melanjutkan hidupmu dengan kepala tegak.

Batas Tipis Antara Kritis dan Arogan

Tentu saja, mengidolakan Rocky Gerung tanpa sikap kritis adalah sebuah ironi yang menggelikan. Rocky sendiri pasti akan menertawakan orang yang memujanya secara buta. Sebagai manusia dan pemikir, Rocky pun memiliki sisi gelap dan paradoks yang perlu kita cermati.

Kritik terbesar terhadap Rocky adalah gaya komunikasinya yang sering kali dianggap elitis dan arogan. Ia menggunakan istilah-istilah filsafat tingkat tinggi yang sulit dipahami oleh rakyat jelata—orang-orang yang sebenarnya ingin ia bela. Ketika ia berbicara tentang “epistemologi”, “ontologi”, atau “silogisme”, sebagian besar pendengarnya mungkin hanya melongo. Akibatnya, pesan yang seharusnya mencerahkan justru menjadi eksklusif. Niat untuk mengedukasi publik bisa tergelincir menjadi ajang pamer intelektualitas (intelektual flexing).

Selain itu, skeptisisme Rocky terkadang terasa berlebihan. Ia mencurigai segala hal yang datang dari pemerintah. Padahal, dalam beberapa kasus, tidak semua kebijakan pemerintah itu buruk atau “dungu”. Sikap oposisi biner (hitam-putih) ini bisa berbahaya jika kita telan mentah-mentah. Kita bisa menjadi sinis terhadap segala hal, kehilangan kepercayaan pada institusi, dan akhirnya menjadi apatis. Padahal, tujuan kritik adalah perbaikan, bukan sekadar penghancuran.

Ada juga bahaya bahwa retorika Rocky hanya menjadi hiburan politik semata. Orang-orang menontonnya bukan untuk belajar logika, melainkan untuk melihatnya “membantai” lawan debat. Debat politik berubah menjadi gladiator, di mana kita bersorak melihat darah tertumpah (secara metaforis) tetapi lupa pada esensi masalahnya. Rocky sadar akan hal ini, namun ia tampak menikmati perannya sebagai “penjahat” yang dicintai.

Menghadapi paradoks ini, kita sebagai pembaca yang cerdas harus mengambil jarak. Ambillah metode berpikirnya, pisau analisisnya, dan keberaniannya. Namun, kita tidak perlu meniru arogansinya atau gaya bicaranya yang merendahkan. Kita bisa menjadi kritis tanpa harus kehilangan empati. Kita bisa menjadi tajam tanpa harus melukai hati orang lain secara personal.

Mengasah Pisau Pikiran di Dapur Sendiri

Lantas, apa yang bisa kita bawa pulang dari fenomena Rocky Gerung untuk kehidupan kita yang jauh dari panggung politik nasional? Bagaimana “akal sehat” bisa membantu kita menghadapi tagihan bulanan, drama percintaan, atau kejenuhan rutinitas?

Pertama, budayakan membaca. Rocky Gerung adalah seorang kutu buku yang fanatik. Ia tidak mungkin memiliki kosa kata yang kaya dan argumen yang tangkas jika ia tidak melahap ribuan buku. Di era di mana kita lebih suka menonton video 15 detik, Rocky mengingatkan kita bahwa kedalaman berpikir hanya bisa kita raih melalui literasi yang kuat. Membaca bukan sekadar mengeja huruf, melainkan berdialog dengan pemikiran-pemikiran besar sepanjang sejarah. Jika kamu merasa hidupmu dangkal, mungkin karena asupan bacaanmu juga dangkal.

Kedua, berani berdebat dengan diri sendiri. Sebelum mengkritik orang lain, Rocky mengajarkan kita untuk menguji pikiran kita sendiri. Apakah keputusan yang aku ambil ini rasional? Apa aku membeli barang ini karena butuh atau karena gengsi (emosional)? Mungkinkah aku bertahan dalam hubungan toxic ini karena cinta atau karena takut sendirian? Dengan rutin menantang asumsi diri sendiri, kita akan terhindar dari keputusan-keputusan “dungu” yang merugikan masa depan kita.

Ketiga, jangan takut menjadi minoritas. Rocky sering berdiri sendirian melawan arus opini publik yang mayoritas. Ia membuktikan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah suara (voting). Meskipun satu juta orang mengatakan bahwa 2+2=5, hal itu tidak mengubah fakta bahwa 2+2=4. Dalam hidup, kamu mungkin akan berada di posisi di mana teman-temanmu melakukan hal yang salah (menyontek, korupsi kecil-kecilan, bergosip). Keberanian ala Rocky adalah keberanian untuk berkata “tidak”, meskipun kamu akan dikucilkan.

Terakhir, Rocky mengajarkan kita bahwa politik adalah hak setiap warga negara. Kita sering berkata “aku benci politik” atau “aku golput saja”. Namun, Rocky mengingatkan bahwa harga beras, tarif listrik, dan ketersediaan lapangan kerja adalah produk politik. Jika orang-orang waras menjauh dari politik, maka orang-orang “dungu” akan menguasainya. Oleh karena itu, peduli pada politik adalah bentuk pertahanan diri (self-defense) agar hidup kita tidak diacak-acak oleh kebijakan yang ngawur.

Merawat Harapan dengan Akal Sehat

Rocky Gerung bukanlah juru selamat. Ia tidak akan menyelesaikan masalah hidupmu. Ia tidak menawarkan solusi praktis bagaimana cara cepat kaya atau cara cepat bahagia. Sebaliknya, ia menawarkan sesuatu yang lebih menyakitkan tetapi lebih berharga: sebuah cermin.

Ia menyodorkan cermin ke wajah kita dan memaksa kita melihat betapa seringnya kita malas berpikir. Ia memaksa kita mengakui bahwa kita sering kali menjadi bagian dari masalah karena kita diam saja melihat ketidaklogisan merajalela. Kehadirannya adalah alarm yang berisik, yang membangunkan kita dari tidur nyenyak dalam kenyamanan semu.

Mungkin kita tidak setuju dengan semua ucapannya. Mungkin kita kesal dengan gayanya. Namun, di tengah gersangnya dunia intelektual Indonesia, Rocky Gerung adalah hujan asam yang diperlukan untuk meluruhkan karat-karat feodalisme dan kemunafikan. Ia merawat harapan bahwa bangsa ini masih bisa diselamatkan, bukan dengan doa-doa pasrah, melainkan dengan argumen yang kuat dan akal yang sehat.

Jadi, besok pagi, ketika kamu menghadapi dunia yang membingungkan ini, cobalah pinjam sedikit “kegilaan” Rocky Gerung. Tataplah masalahmu, bedahlah dengan logika yang dingin, dan jangan biarkan siapa pun—entah itu bosmu, pasanganmu, atau pemerintahmu—mengambil alih kedaulatan pikiranmu. Karena pada akhirnya, hanya akal sehatlah yang bisa membuat kita tetap waras di dunia yang sering kali tidak masuk akal ini.

Buku Karya Rocky Gerung

Rocky Gerung

Obat Dungu Resep Akal Sehat: Filsafat untuk Republik Kuat, versi original ambil di sini 

Habis Dungu Terbitlah Bajingan Tolol: Filsafat untuk Indonesia Selamat, versi original ambil di sini