Saat ini, dunia literasi Indonesia terus berkembang dengan pesat. Terbukti, minat masyarakat untuk menuangkan gagasan ke dalam bentuk buku, baik fiksi maupun non-fiksi, menunjukkan tren yang sangat positif. Tentu saja, keinginan untuk meninggalkan jejak intelektual atau sekadar berbagi cerita imajinatif merupakan dorongan yang mulia. Akan tetapi, keinginan kuat saja tidak cukup untuk melahirkan sebuah buku yang berkualitas. Faktanya, di antara naskah yang berhasil terbit dan ribuan naskah yang berakhir di tumpukan penolakan penerbit, terdapat perbedaan mendasar, yaitu penguasaan teknik dan pemahaman akan kesalahan-kesalahan elementer.
Sering kali, penulis pemula terjebak dalam euforia penciptaan. Akibatnya, rasa bangga setelah menyelesaikan satu bab kerap menutupi kelemahan teknis yang sebenarnya fatal bagi keterbacaan naskah. Tanpa sadar, banyak penulis membiarkan naskah mereka “gugur sebelum berkembang” bukan karena idenya buruk, melainkan karena eksekusinya penuh dengan cacat logika, struktur yang rapuh, dan gaya bahasa yang melelahkan pembaca.
Oleh karena itu, artikel ini bertujuan membedah secara mendalam kesalahan-kesalahan yang paling sering penulis lakukan saat baru merintis karir. Dengan demikian, penulis dapat melakukan swasunting (self-editing) yang lebih tajam dan menghasilkan naskah yang matang serta layak saing di industri penerbitan, khususnya dalam ranah self-publishing.
Mitos Bakat vs Realitas Kerajinan (Craft)
Pertama-tama, kita harus meluruskan kesalahan konsep yang paling mendasar, yakni anggapan bahwa menulis adalah murni soal bakat alam. Banyak pemula beranggapan bahwa penulis besar mampu menghasilkan karya best-seller dalam sekali duduk. Padahal, realitasnya menulis adalah sebuah kerajinan (craft) yang menuntut disiplin teknis, sama seperti mengukir kayu atau merancang bangunan.
Sebenarnya, mengabaikan aspek teknis dan hanya mengandalkan “aliran inspirasi” adalah resep utama kegagalan. Biasanya, naskah yang lahir hanya saat inspirasi datang memiliki nada yang tidak konsisten dan struktur yang berantakan. Sebaliknya, penulis profesional memahami bahwa mereka harus membangun naskah yang baik melalui perencanaan, penulisan yang disiplin, dan revisi yang berulang-ulang. Selanjutnya, mari kita simak analisis mendalam mengenai kesalahan teknis dan substantif yang kerap menjegal langkah penulis pemula.
1. Pembukaan yang Lambat dan Penuh Eksposisi (Infodump)
Perlu Anda ingat bahwa halaman pertama sebuah buku adalah etalase. Di sinilah pembaca mengambil keputusan untuk berinvestasi waktu atau menutup buku selamanya. Sayangnya, kesalahan paling umum penulis pemula adalah memulai cerita dengan infodump atau menumpuk informasi latar belakang secara berlebihan.
Jebakan Latar Belakang
Sering kali, penulis merasa cemas pembaca tidak akan mengerti ceritanya jika mereka tidak menjelaskan sejarah lengkap dunia cerita, silsilah keluarga tokoh utama, atau kondisi politik negara tersebut di bab pertama. Akibatnya, bab satu terasa seperti buku pelajaran sejarah, bukan novel. Otomatis, pembaca tidak memiliki ikatan emosional dengan karakter, sehingga mereka akan merasa bosan saat harus menelan informasi sebanyak itu.
Solusinya, mulailah cerita di titik di mana konflik atau perubahan bermula (in media res). Kemudian, sisipkan latar belakang dan sejarah sedikit demi sedikit (sprinkling) dalam dialog atau narasi seiring berjalannya cerita, tetapi hanya ketika informasi tersebut relevan dengan adegan yang sedang berlangsung.
Klise “Bangun Tidur”
Selain itu, memulai novel dengan adegan tokoh utama bangun tidur, mematikan alarm, melihat cermin, dan mendeskripsikan fisiknya sendiri adalah klise yang paling editor benci. Pasalnya, adegan ini tidak menawarkan konflik dan sangat pasif. Kecuali bangun tidur tersebut memicu kejadian luar biasa (misalnya bangun di rumah sakit atau di abad yang berbeda), sebaiknya Anda menghindari pembukaan semacam ini.
2. Sindrom Ruang Putih (White Room Syndrome)
Dalam upaya fokus pada dialog, penulis pemula sering lupa menempatkan karakter dalam ruang fisik yang nyata. Kita menyebut fenomena ini sebagai White Room Syndrome atau Sindrom Ruang Putih.
Bayangkan, penulis menyuguhi pembaca percakapan panjang antara dua tokoh, tetapi tidak ada deskripsi di mana mereka berada. Apakah mereka duduk? Berdiri? Apakah di kafe yang bising, di perpustakaan sunyi, atau di tengah badai? Tanpa penanda sensorik (suara, bau, visual), pembaca akan membayangkan karakter-karakter tersebut melayang di ruang hampa berwarna putih.
Hal ini membuat adegan terasa datar dan tidak membumi. Bahkan, dialog yang hebat sekalipun akan kehilangan dampaknya jika pembaca tidak bisa memvisualisasikan adegan tersebut. Oleh sebab itu, penulis perlu menyisipkan action beats atau interaksi karakter dengan lingkungan sekitarnya untuk memberikan dimensi pada adegan.
Contoh yang salah:
“Aku tidak bisa menerimanya,” kata Budi. “Kenapa tidak?” tanya Ani. “Terlalu berbahaya,” jawab Budi.
Contoh perbaikan (memberi konteks ruang):
“Aku tidak bisa menerimanya.” Budi melempar berkas itu ke atas meja kayu yang penuh goresan. Ani berhenti mengaduk kopinya, denting sendok beradu dengan gelas keramik memecah keheningan kafe. “Kenapa tidak?” Budi menatap jalanan macet di luar jendela, menghindari tatapan Ani. “Terlalu berbahaya.”
3. Penggunaan Kata Filter (Filter Words)
Selanjutnya, kesalahan teknis yang sering luput dari perhatian tetapi sangat mempengaruhi kedalaman immersion (keterlibatan) pembaca adalah penggunaan kata filter. Secara definisi, kata filter adalah kata kerja yang menempatkan jarak antara pembaca dan pengalaman karakter.
Kata-kata tersebut meliputi: melihat, mendengar, merasa, mencium, tahu, menyadari, memutuskan. Ketika Anda menggunakan kata-kata ini, Anda mengingatkan pembaca bahwa mereka sedang membaca cerita tentang seseorang, bukan mengalami cerita itu sendiri.
Contoh dengan Filter:
Andi melihat asap hitam membumbung dari balik bukit. Dia mendengar suara sirine meraung-raung. Dia merasa takut.
Dalam contoh di atas, pembaca mengamati Andi yang sedang mengamati sesuatu. Jelas sekali, ada jarak di sana.
Contoh Tanpa Filter (Direct Experience):
Asap hitam membumbung dari balik bukit, pekat dan mencekik langit. Sirine meraung-raung, memecah keheningan sore. Jantung Andi berdegup kencang, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Dengan menghapus kata filter, Anda langsung menghadapkan pembaca pada asap dan suara sirine, serta reaksi fisik Andi, sehingga pengalaman membaca menjadi lebih mendesak dan nyata.
4. Dialog yang Tidak Efektif dan Berlebihan (Over-dialogue)
Dialog memang elemen vital, namun penulis sering menyalahgunakannya. Secara umum, ada dua ekstrem kesalahan dalam dialog penulis pemula:
Dialog “Ping-Pong” yang Kosong
Pertama, percakapan yang meniru realitas secara berlebihan sering kali membosankan. Dalam kehidupan nyata, orang banyak berbasa-basi (“Apa kabar?”, “Baik”, “Sudah makan?”, “Belum”). Namun dalam fiksi, dialog harus memiliki fungsi ganda: memajukan plot atau mengungkapkan karakter. Jadi, jika Anda bisa menghapus sebuah percakapan tanpa mengubah jalan cerita, maka Anda harus membuangnya.
Penjelasan yang Dipaksakan (Maid and Butler Dialogue)
Kedua, hal ini terjadi ketika dua karakter membicarakan sesuatu yang sebenarnya sudah sama-sama mereka ketahui, semata-mata demi memberi informasi kepada pembaca. Tentu saja, dialog semacam ini terdengar sangat tidak natural dan kaku. Penulis harus mempercayai kecerdasan pembaca untuk menyimpulkan konteks tanpa harus menyuapi mereka melalui dialog eksposisi yang canggung.
5. Kelemahan dalam Struktur Plot (The Sagging Middle)
Sering kali, banyak penulis pemula memiliki ide pembukaan yang brilian dan bayangan ending yang epik. Akan tetapi, mereka bingung mengisi bagian tengah cerita. Akibatnya, muncullah fenomena Sagging Middle atau bagian tengah yang kendur.
Di bagian ini, cerita kerap berjalan di tempat. Karakter hanya melakukan aktivitas repetitif tanpa ada perkembangan konflik yang berarti. Akhirnya, cerita berubah menjadi episodik (kejadian A, lalu kejadian B, lalu kejadian C) tanpa hubungan sebab-akibat yang kuat.
Ingatlah bahwa struktur cerita yang baik harus bersifat kausalitas: Kejadian A menyebabkan Kejadian B, yang mengakibatkan Kejadian C. Oleh karena itu, setiap bab di bagian tengah harus menaikkan taruhan (stakes) dan mempersulit posisi tokoh utama, bukan sekadar menunda waktu hingga mencapai bab akhir. Saya menyarankan penulis menggunakan outline atau kerangka karangan untuk memetakan grafik ketegangan di bagian tengah cerita.
6. Karakter yang Pasif
Pada dasarnya, tokoh utama (protagonis) harus menjadi penggerak cerita. Sayangnya, kesalahan fatal penulis pemula adalah menciptakan tokoh utama yang pasif—tokoh yang hanya bereaksi terhadap kejadian di sekitarnya, bukan menciptakan kejadian.
Jika tokoh utama hanya menunggu penyelamat, menunggu petunjuk datang, atau terseret arus takdir tanpa melakukan perlawanan aktif, maka pembaca akan kehilangan simpati. Faktanya, pembaca menyukai karakter yang proaktif, yang berani mengambil risiko dan membuat pilihan (meskipun pilihan itu salah).
Jadi, pastikan keputusan atau tindakan tokoh utama memicu setiap titik balik dalam plot, bukan semata-mata karena kebetulan atau bantuan tiba-tiba dari tokoh lain (Deus Ex Machina).
7. Ketidakkonsistenan Nada dan Gaya Bahasa
Selain itu, konsistensi adalah kunci profesionalisme. Penulis pemula sering kali belum menemukan “suara” mereka, sehingga gaya bahasa dalam satu naskah bisa berubah-ubah.
Terkadang, penulis memulai dengan gaya bahasa yang puitis dan metaforis, namun di pertengahan bab berubah menjadi gaya bahasa pop yang santai dan penuh slang, lalu kembali lagi menjadi formal di akhir. Jelas, ketidakkonsistenan ini membingungkan pembaca mengenai tone atau nuansa apa yang sebenarnya ingin penulis bangun.
Hal ini juga berlaku untuk Sudut Pandang (Point of View/POV). Perpindahan POV secara acak dalam satu adegan (head-hopping) menandakan penulis belum matang. Jika menggunakan POV Orang Ketiga Terbatas, penulis harus setia pada pikiran satu karakter saja dalam satu bab atau satu pemisah adegan. Melompat ke pikiran karakter lain secara tiba-tiba akan merusak fokus narasi.
8. Pengabaian Logika Internal Cerita
Meskipun fiksi adalah karangan imajinatif, tetapi fiksi harus memiliki logika internal yang konsisten. Dalam genre fantasi sekalipun, sistem sihir harus memiliki aturan. Misalnya, jika di bab satu penulis mengatakan bahwa sihir membutuhkan energi besar dan membuat penggunanya pingsan, maka di bab sepuluh tokoh utama tidak boleh tiba-tiba menggunakan sihir berkali-kali tanpa kelelahan hanya karena “plot membutuhkannya”.
Lubang logika (plot hole) sekecil apa pun akan mencederai kepercayaan pembaca. Penulis pemula sering memaksakan karakter melakukan tindakan bodoh yang tidak masuk akal hanya agar plot bisa bergerak ke arah yang penulis inginkan. Kita menyebut ini Idiot Plot—plot yang hanya bisa berjalan jika semua karakternya bertindak bodoh. Oleh sebab itu, hindari hal ini dengan memastikan setiap tindakan karakter memiliki motivasi yang kuat dan logis sesuai kepribadian mereka.
9. Atribusi Dialog yang Mengganggu (Said Bookism)
Masalah lainnya adalah penulis pemula sering takut menggunakan kata “kata” (said) secara berulang dalam dialog tag. Mereka berusaha memvariasikannya dengan kata-kata yang “kreatif” namun sering kali mengganggu.
Contoh berlebihan:
“Jangan pergi!” pekik Rina. “Kenapa?” sembur Doni. “Aku takut,” cicit Rina. “Itu masalahmu,” dengus Doni.
Penggunaan variasi tag yang berlebihan seperti mengeram, mendesis, menyalak, mengeluh, menukas justru menarik perhatian pembaca keluar dari dialog itu sendiri. Padahal, kata “kata” atau “ujar” adalah kata yang transparan; mata pembaca melewatinya tanpa berhenti, sehingga fokus tetap pada isi percakapan.
Lebih baik lagi jika penulis menggunakan action beat (tindakan) daripada dialog tag.
Contoh dengan Action Beat:
“Jangan pergi!” Rina mencengkeram lengan jaket Doni. Doni menepis tangan itu kasar. “Kenapa?”
Cara ini jauh lebih visual dan efektif daripada sekadar mencari sinonim kata “ucap”.
10. Mengabaikan Kaidah Bahasa (PUEBI)
Terakhir, tidak ada yang lebih cepat menurunkan kredibilitas penulis selain naskah yang penuh dengan kesalahan ejaan dan tata bahasa dasar. Banyak penulis pemula beranggapan, “Ah, nanti kan ada editor.” Sikap ini keliru. Editor di penerbit (bahkan penerbit self-publishing yang menawarkan jasa editing) akan lebih menghargai naskah yang bersih. Naskah yang terlalu kotor oleh kesalahan dasar menunjukkan kemalasan penulis.
Kesalahan yang paling sering kita temui meliputi:
-
Penulisan “di” sebagai kata depan (dipisah) vs “di-” sebagai awalan (disambung).
-
Penggunaan huruf kapital yang salah (misalnya kapitalisasi jabatan yang tidak diikuti nama orang).
-
Penggunaan tanda baca dalam dialog (tanda koma sebelum tanda petik penutup, bukan titik, jika diikuti dialog tag).
-
Penggunaan kata baku dan tidak baku yang tertukar.
Singkatnya, penguasaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) adalah syarat mutlak, bukan pilihan, bagi siapa saja yang ingin menyebut dirinya penulis.
Menulis adalah Menulis Ulang
Daftar kesalahan di atas mungkin terlihat menakutkan, namun kesadaran adalah langkah pertama menuju perbaikan. Penulis pemula sering kali merasa bahwa naskah draf pertama mereka adalah mahakarya yang tidak boleh disentuh. Pola pikir ini harus segera Anda ubah. Penulis profesional memahami bahwa, mengutip sebuah adagium terkenal, “Writing is rewriting” (Menulis adalah menulis ulang).
Naskah pertama hampir selalu buruk, dan itu wajar. Justru di dalam proses penyuntinganlah penulis membentuk cerita menjadi karya seni. Jangan takut melihat naskah Anda penuh dengan coretan revisi. Jangan ragu membuang satu bab penuh jika bab tersebut tidak berkontribusi pada cerita.
Bagi Anda yang berniat menerbitkan buku melalui Penerbit Kolofon, jadikan daftar kesalahan ini sebagai daftar periksa (checklist) sebelum mengirimkan naskah. Bacalah ulang naskah Anda dengan kritis. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah pembukaannya sudah menarik? Apakah karakternya aktif? Apakah saya terlalu banyak memberi tahu (telling) daripada menunjukkan (showing)?
Dengan ketekunan untuk terus belajar dan kerendahan hati untuk memperbaiki diri, transisi dari penulis pemula menjadi penulis yang kompeten bukanlah hal yang mustahil. Teruslah menulis, teruslah belajar, dan biarkan karya Anda menemukan bentuk terbaiknya.





