Performative male adalah istilah psikologis dan sosiologis yang menggambarkan perilaku seorang pria yang secara sadar atau tidak sadar “memainkan peran” maskulinitas berlebihan demi mendapatkan validasi sosial, alih-alih mengekspresikan jati diri yang autentik. Fenomena ini melibatkan upaya terus-menerus untuk memenuhi standar gender yang kaku, memanipulasi citra diri agar terlihat dominan, serta menyembunyikan sisi emosional demi menghindari penolakan dari lingkungan sekitar.
Dunia sosial kita sedang mengalami pergeseran nilai yang cukup membingungkan. Kita sering melihat sosok laki-laki yang tampak begitu sempurna di media sosial atau lingkungan pergaulan. Mereka menampilkan citra tangguh, sukses, dan tak tersentuh. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya apakah itu wajah asli mereka atau sekadar topeng? Keraguan ini membawa kita pada pembahasan serius tentang sebuah kondisi yang kian mewabah.
Banyak orang mungkin belum familiar dengan istilah ini, tetapi gejalanya pasti sering Anda temukan dalam kehidupan sehari-hari. Saya pribadi melihat fenomena ini sebagai “lelah yang tak terucapkan”. Bayangkan betapa beratnya harus bersandiwara setiap hari hanya untuk membuktikan bahwa Anda adalah seorang lelaki sejati. Artikel ini akan membedah secara rinci apa itu perilaku performatif pada laki-laki, tanda-tanda khususnya, serta akar masalah yang memicu hal tersebut.
Memahami Definisi Performative Male Secara Utuh
Istilah ini merujuk pada tindakan melakukan maskulinitas, bukan sekadar menjadi maskulin secara alami. Seorang pria dengan kecenderungan performatif menganggap gender mereka sebagai sebuah panggung pertunjukan. Mereka merasa harus terus-menerus membuktikan kejantanan mereka melalui tindakan, perkataan, dan pilihan gaya hidup tertentu yang masyarakat anggap “laki banget”.
Oleh karena itu, konsep ini sangat erat kaitannya dengan ketidakamanan (insecurity). Mereka tidak merasa cukup hanya dengan menjadi diri sendiri. Sebaliknya, mereka membangun dinding pertahanan berupa perilaku yang hiper-maskulin. Judith Butler, seorang filsuf gender terkemuka, pernah mencetuskan teori bahwa gender adalah sebuah performa. Dalam konteks ini, performative male mengambil konsep tersebut ke level yang ekstrem dan sering kali beracun (toxic).
Opini saya, kondisi ini sangat menyedihkan karena menghilangkan keunikan individu. Seseorang rela membunuh karakter aslinya demi masuk ke dalam cetakan sempit yang masyarakat buat. Akibatnya, mereka menjalani hidup yang penuh kepalsuan dan kehilangan koneksi dengan perasaan mereka sendiri.
Perbedaan Antara Maskulinitas Sehat dan Performatif
Kita perlu menarik garis tegas antara maskulinitas alami dan yang bersifat performatif. Maskulinitas sehat muncul dari dalam diri secara natural. Seorang pria yang memiliki maskulinitas sehat akan merasa nyaman dengan dirinya, melindungi orang lain, dan bertanggung jawab tanpa perlu pengakuan berlebihan.
Sebaliknya, perilaku performatif selalu membutuhkan penonton. Mereka melakukan sesuatu bukan karena nilai tersebut benar menurut hati nurani, melainkan karena mereka ingin orang lain melihatnya. Contoh sederhananya, seorang lelaki yang maskulin secara sehat akan berolahraga untuk kesehatan. Namun, lelaki performatif akan berolahraga keras hanya agar bisa memamerkan ototnya di media sosial demi mendapatkan pujian atau like, sembari mengabaikan kesehatan internal tubuhnya.
Ciri-Ciri Utama Pria yang Terjebak dalam Perilaku Performatif
Mendeteksi keberadaan performative male di sekitar kita sebenarnya tidak terlalu sulit jika kita jeli mengamati pola perilakunya. Tanda-tanda ini biasanya muncul secara konsisten dalam berbagai situasi sosial. Berikut adalah karakteristik utama yang sering muncul ke permukaan.
1. Obsesi Berlebihan pada Citra dan Validasi Sosial
Ciri paling mencolok adalah rasa lapar yang tak terpuaskan akan pengakuan orang lain. Mereka menaruh harga diri mereka sepenuhnya pada opini publik. Anda akan melihat mereka sangat peduli pada simbol-simbol status yang melekat pada tubuh atau kepemilikan mereka.
Mobil mewah, jam tangan mahal, atau cerita-cerita heroik tentang petualangan cinta sering kali menjadi senjata utama mereka. Akan tetapi, tujuan utama dari kepemilikan ini bukanlah kepuasan pribadi. Mereka menggunakan benda-benda tersebut sebagai properti panggung untuk meyakinkan dunia bahwa mereka sukses dan dominan. Jika tidak ada orang yang memuji, mereka akan merasa cemas dan tidak berharga.
2. “Bro-Code” dan Performa di Depan Sesama Pria
Fenomena ini juga sangat terlihat ketika mereka berada dalam kelompok sesama lelaki (homosocial). Seringkali, seorang pria akan mengubah kepribadiannya secara drastis saat berkumpul dengan teman-teman lelakinya dibandingkan saat bersama pasangan atau keluarga.
Dalam lingkungan tongkrongan, mereka berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling “jantan”. Hal ini sering kali mewujud dalam bentuk obrolan yang merendahkan wanita, membanggakan kenakalan, atau menertawakan hal-hal sensitif. Mereka melakukan ini karena takut kelompoknya akan mengucilkan mereka jika terlihat “lembek”. Padahal, mungkin jauh di lubuk hati, mereka tidak setuju dengan perilaku tersebut.
3. Ketidakmampuan Menunjukkan Kerentanan Emosional
Pria performatif memandang emosi—seperti sedih, takut, atau ragu—sebagai musuh bebuyutan. Mereka meyakini dogma kuno bahwa “laki-laki tidak boleh menangis” atau mengeluh. Akibatnya, mereka membangun tembok emosional yang sangat tebal.
Jika mereka menghadapi masalah berat, reaksi yang muncul biasanya adalah kemarahan atau kebisuan, bukan kesedihan yang wajar. Mereka lebih memilih membanting pintu atau berteriak daripada mengakui bahwa mereka sedang terluka. Saya menganggap ini sebagai ciri paling berbahaya karena menumpuk bom waktu psikologis yang sewaktu-waktu bisa meledak dan merusak mental mereka sendiri.
4. Merendahkan Hal-Hal yang Dianggap Feminin
Ciri selanjutnya adalah kecenderungan untuk menjauhi atau bahkan mencemooh segala sesuatu yang berasosiasi dengan feminitas. Mereka sangat takut orang lain akan melabeli mereka feminin. Oleh sebab itu, mereka menghindari aktivitas, warna, atau hobi tertentu yang stereotipnya milik perempuan.
Sikap ini bukan sekadar preferensi, melainkan bentuk ketakutan irasional (fobia). Mereka harus terus-menerus menegaskan posisi mereka di kutub maskulin dengan cara menolak kutub feminin secara agresif.
Mengapa Fenomena Ini Sangat Marak di Indonesia?
Konteks budaya Indonesia memegang peran besar dalam menyuburkan fenomena performative male. Kita hidup dalam masyarakat yang masih memegang teguh budaya patriarki dan kolektivisme. Dalam budaya kolektif, pandangan orang lain adalah segalanya. Istilah “Jaim” (Jaga Image) sudah mendarah daging dalam nadi masyarakat kita.
Selain itu, tekanan sosial terhadap pria di Indonesia sangatlah spesifik. Masyarakat menuntut laki-laki untuk menjadi kepala keluarga yang mapan, pemimpin yang tegas, dan pelindung yang tak tergoyahkan. Harapan-harapan ini sering kali tidak realistis dengan kondisi ekonomi atau kemampuan individu.
Akibatnya, banyak lelaki yang merasa gagal memenuhi standar tersebut memilih jalan pintas: berpura-pura. Mereka menciptakan ilusi kesuksesan dan kekuatan semu agar lingkungan tetap menghormati mereka. Di sinilah perilaku performatif tumbuh subur sebagai mekanisme pertahanan diri menghadapi tuntutan sosial yang mencekik.
Penyebab Psikologis di Balik Topeng Performatif
Memahami akar masalah adalah langkah awal untuk mengurai benang kusut ini. Perilaku ini tidak muncul begitu saja dari ruang hampa. Ada faktor-faktor mendalam yang memicu seorang pria memutuskan untuk memakai topeng sepanjang hidupnya.
Pola Asuh Masa Kecil
Penyebab paling fundamental sering kali bermuara pada masa kanak-kanak. Banyak orang tua, sadar atau tidak, menanamkan bibit performatif ini sejak dini. Kalimat seperti “Masa begitu saja nangis?” atau “Anak laki harus berani!” sering terdengar di telinga anak-anak.
Didikan seperti ini mengajarkan anak bahwa cinta dan penerimaan orang tua bersyarat. Mereka hanya akan mendapatkan kasih sayang jika berhasil menunjukkan perilaku “kuat”. Selanjutnya, anak tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi diri sendiri yang apa adanya (termasuk saat lemah) adalah tiket menuju penolakan.
Insecurity dan Rasa Rendah Diri (Low Self-Esteem)
Ironisnya, di balik tampilan luar yang penuh percaya diri, performative male sering kali menyimpan rasa rendah diri yang akut. Mereka merasa diri mereka yang asli tidaklah cukup baik, tidak cukup menarik, atau tidak cukup hebat.
Oleh karena itu, mereka menciptakan persona alter-ego yang mereka anggap lebih superior. Performa maskulinitas yang berlebihan hanyalah kompensasi dari perasaan kerdil di dalam hati. Semakin keras seseorang berusaha terlihat hebat, biasanya semakin besar lubang ketidakamanan yang sedang ia coba tutupi.
Pengaruh Media dan Budaya Populer
Kita tidak bisa mengabaikan peran media dalam membentuk persepsi ideal tentang laki-laki. Film, iklan, dan media sosial membombardir kita dengan citra pria alfa yang kaya raya, dikelilingi banyak wanita, dan memiliki fisik sempurna.
Algoritma media sosial memperparah hal ini dengan terus menyajikan konten-konten “sigma male” atau gaya hidup mewah yang sering kali tidak realistis. Pria-pria muda kemudian menelan mentah-mentah standar ini dan berusaha menirunya, meskipun harus mengorbankan jati diri mereka yang sebenarnya.
Dampak Buruk Bagi Diri Sendiri dan Pasangan
Menjalani hidup sebagai aktor di panggung dunia nyata tentu memiliki konsekuensi serius. Dampak negatif dari gaya hidup performatif ini tidak hanya merusak pelakunya, tetapi juga orang-orang terdekatnya.
Kelelahan Mental (Burnout)
Bayangkan energi yang harus terbuang setiap hari untuk mempertahankan citra diri. Hal ini sangat melelahkan secara mental. Pelaku performative male rentan mengalami stres kronis, kecemasan, dan depresi. Mereka hidup dalam ketakutan konstan bahwa suatu saat topeng mereka akan terlepas dan orang-orang akan melihat “kegagalan” mereka.
Saya percaya bahwa tidak ada manusia yang sanggup bersandiwara selamanya. Pada titik tertentu, pertahanan ini akan runtuh, dan dampaknya bisa sangat fatal bagi kesehatan mental yang bersangkutan.
Hubungan yang Dangkal dan Toksik
Dalam ranah asmara, pria tipe ini akan kesulitan membangun kedalaman emosional (intimacy) dengan pasangan. Mereka sibuk menjaga gengsi daripada membuka hati. Komunikasi yang jujur menjadi barang langka.
Pasangan mereka sering kali merasa kesepian meskipun memiliki pendamping. Sang wanita merasa tidak bisa menjangkau hati pasangannya karena terhalang tembok ego. Hubungan yang terbangun akhirnya hanya bersifat transaksional atau sekadar pencitraan di depan publik, namun kosong di dalamnya.
Kesimpulan: Melepaskan Topeng dan Menjadi Diri Sendiri
Fenomena performative male adalah sebuah tragedi modern di mana banyak pria terjebak dalam sangkar emas ekspektasi sosial. Mereka menukar kebebasan berekspresi dengan validasi semu yang tidak akan pernah memuaskan batin. Masyarakat, budaya, dan pola asuh berkontribusi besar dalam menciptakan aktor-aktor yang kelelahan ini.
Namun, perubahan selalu mungkin terjadi. Langkah pertama untuk keluar dari jebakan ini adalah menyadari bahwa menjadi manusia biasa dengan segala kelemahan dan kelebihannya adalah hal yang wajar. Kekuatan sejati tidak terletak pada seberapa keras Anda membusungkan dada, melainkan seberapa berani Anda menjadi diri sendiri tanpa kepura-puraan.
Mari kita mulai menormalisasi kejujuran emosional pada kaum adam. Kita harus berhenti menuntut kesempurnaan maskulin yang tidak realistis. Jika Anda merasa artikel ini menyinggung sisi personal Anda, mungkin ini saatnya untuk bercermin dan bertanya: “Apakah saya sedang menjadi diri sendiri, atau saya sedang berakting untuk orang lain?” Melepaskan topeng memang menakutkan, tetapi udara segar kebebasan yang akan Anda hirup setelahnya sangatlah berharga.




