Penulis dapat menciptakan novel fiksi yang memikat dengan menjadikan karakter unik Surabaya—seperti budaya Arek yang egaliter, sejarah maritim yang kuat, dan cuaca panas yang ekstrem—sebagai fondasi utama dalam membangun kota masa depan, alih-alih sekadar meniru estetika kota-kota Barat. Selanjutnya, menggabungkan elemen lokal seperti tradisi cangkruk di warung kopi dengan teknologi futuristik akan menghasilkan fiksi ilmiah yang orisinal dan terasa dekat bagi pembaca Indonesia. Oleh karena itu, penulis harus berani mengeksplorasi bagaimana kemajuan teknologi berinteraksi dengan masalah urban khas Kota Pahlawan, seperti banjir rob atau kemacetan jalur industri, untuk menciptakan konflik yang logis dan mendalam.
Menemukan Jiwa Kota Pahlawan di Masa Depan
Banyak penulis pemula sering kali terjebak dalam stereotip ketika menulis fiksi berlatar Indonesia. Akibatnya, mereka cenderung “memindahkan” Jakarta ke masa depan, atau bahkan lebih buruk lagi, menempelkan nama kota lokal pada setting yang sebenarnya terasa seperti Tokyo atau New York. Padahal, Surabaya memiliki jiwa yang sangat distingtif dan berbeda. Kota ini tidak memiliki keanggunan feodal seperti Solo atau hiruk-pikuk elitis seperti Jakarta Selatan. Sebaliknya, Surabaya itu keras, lugas, panas, namun hangat dalam persaudaraan.
Saya sering menghabiskan waktu berjalan kaki di sekitar Jalan Tunjungan atau duduk di pinggir Kalimas saat sore hari. Di sana, saya mengamati bagaimana gedung-gedung kolonial tua berdiri kokoh menantang hotel-hotel kaca yang menjulang tinggi. Kemudian, kontras ini memicu imajinasi liar saya. Bagaimana wajah kota ini seratus tahun lagi? Apakah Patung Sura dan Baya akan berubah menjadi hologram raksasa? Atau, apakah Jembatan Merah masih menjadi saksi sejarah atau telah berubah menjadi jalur kereta levitasi magnetik?
Menulis novel fiksi dengan latar kota ini menuntut penulis untuk menangkap semangat “Wani” (berani) yang mengalir dalam darah warganya. Selain itu, pembaca ingin melihat bagaimana mentalitas Bonek—dalam arti positif sebagai semangat pantang menyerah—bertahan di era kecerdasan buatan. Oleh sebab itu, membangun kota dalam imajinasi Anda harus mulai dari memahami manusianya, bukan sekadar mendirikan gedung pencakar langit.
Estetika Industrial: Surabaya sebagai Kota Pelabuhan Cyberpunk
Jika Bali cocok untuk Solarpunk (masa depan yang hijau dan alami) dan Yogyakarta cocok untuk Steampunk (masa depan retro klasik), maka Surabaya adalah kandidat sempurna untuk Cyberpunk atau Industrial Sci-Fi. Hal ini dikarenakan kota ini adalah jantung perdagangan dan industri Indonesia Timur. Bahkan, Pelabuhan Tanjung Perak bukan sekadar tempat kapal bersandar, melainkan gerbang ekonomi raksasa yang menopang kehidupan jutaan orang.
Wajah Tanjung Perak di Tahun 2090
Bayangkan Tanjung Perak di masa depan. Penulis bisa mendeskripsikan crane (derek) raksasa yang bergerak otomatis mengangkat kontainer berisi kargo sintetik. Sementara itu, robot-robot kuli panggul bekerja bahu-membahu dengan manusia yang mengenakan kerangka luar (exoskeleton) untuk menambah kekuatan fisik. Di samping itu, debu industri, bau oli, dan aroma garam laut tetap menyengat, bercampur dengan ozon dari mesin-mesin canggih.
Estetika ini memberikan tekstur yang kasar dan nyata pada fiksi ilmiah Anda. Oleh karena itu, jangan membuat kota yang terlalu bersih. Biarkan ada karat pada mesin-mesin itu. Selanjutnya, biarkan ada minyak yang tercecer di lantai dermaga. Kesan “gritty” atau kotor ini sangat sesuai dengan karakter kota industri. Alhasil, pembaca akan merasakan atmosfer kerja keras yang menjadi ciri khas kota ini sejak zaman kolonial hingga masa depan.
Arsitektur Anti-Panas
Salah satu ciri paling ikonik dari kota ini adalah cuacanya yang terkenal panas menyengat. Bahkan, orang sering berkelakar bahwa matahari di sini ada dua. Maka dari itu, penulis harus merespons fakta geografis ini saat membangun kota imajiner. Bagaimana arsitektur masa depan mengatasi panas ekstrem?
Mungkin gedung-gedung tinggi di Jalan Basuki Rahmat memiliki lapisan kulit biologis yang bisa berkeringat untuk mendinginkan suhu interior. Atau, pemerintah kota membangun kubah energi transparan di atas taman-taman kota seperti Taman Bungkul untuk memantulkan sinar UV. Inovasi teknologi yang lahir dari kebutuhan nyata (mengatasi panas) akan membuat dunia cerita terasa jauh lebih logis dan meyakinkan.
Budaya Arek dan Teknologi: Egalitarianisme Digital
Aspek sosiologis sering kali terabaikan dalam novel fiksi futuristik. Sayangnya, penulis terlalu sibuk membahas mobil terbang hingga lupa membahas bagaimana orang berinteraksi. Padahal, masyarakat Surabaya terkenal dengan budaya Arek yang egaliter, terbuka, dan ceplas-ceplos. Teknologi boleh berubah, tetapi karakter dasar manusianya biasanya bertahan lama.
Tradisi Cangkruk di Era Metaverse
Apakah budaya cangkruk (nongkrong) di warung kopi akan hilang? Kemungkinan besar tidak. Akan tetapi, bentuknya mungkin berevolusi secara drastis. Bayangkan sebuah warung kopi (warkop) di pinggir jalan Darmo. Orang-orang masih duduk mengangkat satu kaki di kursi panjang, menyesap kopi hitam yang pekat. Namun, bedanya, mereka mungkin sedang berdebat tentang politik galaksi dengan lawan bicara yang hadir melalui proyeksi hologram dari planet lain.
Penulis harus berani membenturkan tradisi lokal dengan teknologi tinggi. Oleh sebab itu, jangan hilangkan pisang goreng atau tahu tek, tetapi berikan sentuhan baru. Mungkin petis-nya terbuat dari protein alga hasil rekayasa genetika karena udang sudah punah. Detail kecil seperti ini akan membuat pembaca tersenyum getir sekaligus merasa terhubung dengan realitas yang Anda sajikan.
Bahasa Suroboyoan dalam Algoritma AI
Bahasa adalah identitas. Di sisi lain, dalam banyak cerita fiksi ilmiah, semua orang tiba-tiba berbicara bahasa baku atau bahasa Inggris. Tentu saja, ini tidak realistis. Surabaya memiliki dialek yang kuat dan ekspresif.
Cobalah bayangkan sebuah Kecerdasan Buatan (AI) pengatur lalu lintas di Jalan Ahmad Yani yang diprogram dengan kepribadian lokal. Alih-alih berkata “Harap berhati-hati,” AI tersebut mungkin akan menegur pelanggar dengan kalimat, “He, Koen! Minggiro sithik, Rek!” Penggunaan dialek lokal pada entitas non-manusia akan memberikan warna unik yang tidak akan pembaca temukan di novel terjemahan. Dengan demikian, ini menegaskan bahwa teknologi global pun akan mengalami lokalisasi saat masuk ke suatu daerah.
Konflik Lingkungan: Ancaman Banjir dan Rob
Fiksi ilmiah yang baik selalu merespons isu hari ini dan memproyeksikannya ke masa depan. Salah satu ancaman nyata bagi kota pesisir seperti Surabaya adalah kenaikan permukaan air laut dan banjir rob. Oleh karena itu, penulis dapat menjadikan isu lingkungan ini sebagai konflik utama atau latar belakang yang mencekam.
Kenjeran sebagai Kota Air
Bayangkan wilayah Kenjeran atau pesisir utara telah tenggelam permanen. Akan tetapi, alih-alih ditinggalkan, warga membangun kota terapung di atasnya. Mereka membangun rumah panggung modern dengan teknologi anti-korosi. Bahkan, Jembatan Suramadu mungkin sudah tidak lagi menghubungkan daratan dengan daratan, melainkan menjadi pangkalan utama bagi pemukiman laut.
Narasi tentang adaptasi manusia terhadap bencana iklim (Climate Fiction) sangat relevan saat ini. Selanjutnya, tunjukkan ketangguhan warga dalam bertahan hidup. Mungkin mereka menanam bakau mutan yang bisa menyaring garam laut menjadi air tawar. Akibatnya, konflik perebutan air bersih atau lahan kering bisa menjadi pemicu drama yang intens antar-karakter.
Ketimpangan Sosial Vertikal
Seperti kota metropolitan lainnya, Surabaya memiliki kesenjangan sosial. Dalam novel fiksi Anda, kesenjangan ini bisa bermanifestasi secara fisik. Kelompok elit mungkin tinggal di menara-menara pencakar langit di Surabaya Barat yang udaranya sudah terfilter bersih. Sementara itu, kelas pekerja tinggal di level bawah, di gang-gang sempit yang lembap dan terpapar polusi langsung.
Akan tetapi, ingatlah karakter egaliter Arek Suroboyo. Meskipun ada perbedaan kelas, interaksi antar-kelas di kota ini biasanya lebih cair dibanding tempat lain. Mungkin ada pasar gelap di “zona tengah” tempat si kaya dan si miskin bertemu untuk bertransaksi barang selundupan atau sekadar makan rawon terenak di kota itu.
Menggali Sejarah untuk Memprediksi Masa Depan
Bung Karno pernah berkata “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Surabaya adalah Kota Pahlawan. Oleh sebab itu, jejak pertempuran 10 November 1945 meninggalkan trauma sekaligus kebanggaan kolektif. Bagaimana memori ini bertahan di tahun 2100?
Monumen yang Berbicara
Penulis bisa menghidupkan kembali sejarah melalui teknologi. Contohnya, Tugu Pahlawan mungkin bukan lagi sekadar batu, melainkan server memori raksasa yang menyimpan kesadaran digital para pejuang masa lalu. Sehingga, warga bisa “berziarah” dan berdialog langsung dengan avatar Bung Tomo untuk meminta nasihat tentang keberanian.
Namun, teknologi ini juga bisa memicu konflik. Bagaimana jika ada pihak yang ingin meretas dan mengubah sejarah? Atau, bagaimana jika data memori itu dimanipulasi untuk kepentingan politik masa depan? Tema tentang manipulasi sejarah akan memberikan kedalaman filosofis pada fiksi ilmiah Anda.
Semangat Perlawanan (Resistance)
Jika cerita Anda mengambil tema distopia (masa depan yang suram), maka semangat perlawanan Arek-arek Suroboyo adalah modal plot yang kuat. Sebab, jika kota dikuasai oleh korporasi jahat atau rezim otoriter, perlawanan paling sengit pasti akan lahir dari kota ini.
Gambarkan adegan “robek bendera” di Hotel Yamato (sekarang Majapahit) dalam versi futuristik. Mungkin mereka meretas layar iklan raksasa korporasi untuk menampilkan simbol perlawanan rakyat. Akhirnya, semangat “Merdeka atau Mati” bisa penulis terjemahkan ulang menjadi semangat kebebasan data atau kedaulatan digital.
Langkah Praktis Memulai Riset
Menulis novel fiksi yang kredibel membutuhkan riset, meskipun itu cerita masa depan. Sebab, imajinasi harus berpijak pada realitas.
Pertama, Lakukan Observasi Lapangan. Pergilah ke kampung-kampung lama seperti Peneleh atau Ampel. Rasakan lorong-lorong sempitnya. Bayangkan bagaimana kabel fiber optik dan pipa gas akan berjejal di lorong sempit itu di masa depan. Bau rempah di Ampel mungkin tidak akan hilang, tapi bercampur dengan bau cairan pendingin server.
Kedua, Pelajari Rencana Tata Kota. Cari dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Surabaya. Lihat ke arah mana pembangunan kota akan bergerak. Dengan demikian, penulis bisa menggunakan data ini untuk membuat prediksi yang akurat. Misalnya, jika pemerintah berencana memperluas jalur trem atau kereta, masukkan itu ke dalam cerita Anda.
Ketiga, Bicara dengan Warga Lokal. Dengarkan keluhan mereka. Apa yang mereka takutkan? Banjir? Macet? Penggusuran? Ketakutan warga hari ini adalah benih konflik untuk cerita masa depan Anda. Sesungguhnya, membangun kota dalam fiksi harus berbasis pada empati terhadap penghuninya.
Penutup
Menulis novel fiksi ilmiah dengan latar Surabaya adalah upaya merayakan identitas lokal di panggung masa depan. Kita tidak perlu meminjam New York atau Tokyo untuk menceritakan kisah tentang teknologi canggih. Pasalnya, Kota Pahlawan memiliki karakter, sejarah, dan tantangan unik yang justru membuat cerita fiksi ilmiah menjadi lebih kaya dan berdarah.
Tugas Anda sebagai penulis adalah menjadi arsitek imajinasi. Anda membangun kota baru di atas fondasi kota lama. Pertahankan panasnya, pertahankan debunya, dan yang terpenting, pertahankan jiwa Wani-nya. Biarkan pembaca merasakan sensasi makan Lontong Balap di tengah hutan beton futuristik.
Oleh karena itu, jangan ragu untuk mulai mencoret-coret peta kota di buku catatan Anda. Tarik garis imajiner, tambahkan gedung pencakar langit, tenggelamkan sebagian pantai, tapi biarkan hati kotanya tetap berdetak. Selamat menulis, dan mari kita bawa Surabaya melesat menembus batas waktu!





