Sinopsis Buku
Semua orang mengenal Ali sebagai sosok yang tenang
Di ruang rapat, ia selalu terlihat paling mampu menjaga kejernihan pikiran ketika situasi menjadi rumit.
Namun tidak banyak yang tahu bahwa setiap langkah, baik besar maupun kecil, yang ia ambil sering lahir dari percakapari yang sangat sunyi, percakapan dengan dirinya sendiri. Sebuah sunyi yang paling jujur.
Lintang pernah berada di sisi lain dari kesunyian itu. la adalah seseorang yang selalu berusaha menjaga semua orang tetap nyaman, me angahi konflik, dan memastikan tidak ada yang merasa terluka. Sampai suatu hari ia menyadari bahwa kepedulian yang terus-menerus diberikan kepada orang lain perlahan mengikis ruang bagi dirinya sendiri untuk bernapas, sebuah sikap yang mulia, namun tidak selalu ringan untuk dijalani
Di tengah dunia kerja yang semakin cepat dan penuh tekanan, Ali dan Lintang menemukan satu hal yang jarang dibicarakan dalam kepemimpinan: kesunylan yang menyertal tanggung jawab.
Tanggung jawab atas keputusan. Tanggung jawab atas arah hidup yang mereka pilih.
Melalui kisah yang tenang namun tajam, buku ini mengajak pembaca melihat kembali hubungan antara kepribadian, refleksi, dan keberanian mengambil keputusan. Dengan perspektif psikologi kepribadian, terutama openness dan conscientiousness, kesunyian tidak lagi dipandang sebagai kelemahan, melainkan sebagai ruang kognitif yang memungkinkan seseorang berpikir lebih jernih ketika dunia di sekelilingnya semakin bising.
Buku ini adalah cerita fiksi yang lahir dari perenungan dan riset kecil tentang manusia, keputusan, dan kesunyian yang sering kita hindari.
Karena pada akhirnya, keputusan-keputusan yang paling menentukan dalam hidup sering tidak diambil di hadapan banyak orang.
“Ada percakapan yang tidak pernah terdengar oleh siapa pun, tetapi justru di sanalah banyak keputusan besar lahir.”
Buku ini ditulis untuk mereka yang pernah merasakan hal yang
sama: untuk mereka yang diam-diam bersahabat dengan kesunyian, untuk mereka yang belum menyadarinya, dan juga untuk mereka yang masih menganggap sunyi sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Padahal, sering kali justru di sanalah kita akhirnya menemukan diri sendiri.





