Apa Itu Doomscrolling? Dampaknya bagi Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya

Doomscrolling

Dalam Artikel Ini

Doomscrolling adalah perilaku kompulsif mengonsumsi berita negatif secara terus-menerus melalui gawai, di mana seseorang terus menggulir layar untuk mencari informasi yang menyedihkan atau memancing amarah meskipun mengetahui hal tersebut merusak suasana hati. Istilah ini menggabungkan kata doom (kemalangan) dan scrolling (menggulir), yang sering menyebabkan kecemasan berlebih dan fenomena brainrot atau penurunan fungsi kognitif akibat paparan konten digital yang tidak bermutu secara masif.

Jarum jam sudah menunjuk angka dua dini hari. Seharusnya, tubuh kita sudah beristirahat di balik selimut hangat demi menyongsong aktivitas esok hari. Akan tetapi, tangan kita masih erat menggenggam ponsel pintar yang menyala terang. Mata kita terpaku pada layar di kegelapan kamar. Jari jempol terus bergerak mengusap layar ke atas, menggulir satu per satu berita tentang bencana alam, kerusuhan politik, prediksi ekonomi yang suram, hingga komentar pedas netizen. Jantung berdegup kencang dan perasaan cemas mulai menjalar ke seluruh tubuh. Namun, anehnya kita tidak bisa berhenti. Fenomena mengkhawatirkan inilah yang dunia modern sebut sebagai doomscrolling.

Kita mungkin sering melakukan hal tersebut tanpa menyadari namanya. Jujur saja, saya pun pernah terjebak dalam lubang hitam informasi ini. Saat pandemi melanda atau ketika musim pemilu memanas di Indonesia, rasanya sulit sekali melepaskan diri dari arus informasi negatif. Kita merasa perlu tahu segalanya agar tetap waspada. Padahal, kebiasaan ini justru menggerogoti kewarasan kita secara perlahan.

Oleh karena itu, memahami mekanisme di balik perilaku ini sangatlah penting. Kita tidak boleh membiarkan algoritma media sosial mengendalikan emosi kita. Artikel ini akan mengupas tuntas segala hal tentang konsumsi berita negatif yang berlebihan ini. Pertama, kita akan membedah pengertiannya secara mendalam. Selanjutnya, kita akan menghubungkannya dengan istilah brainrot, mengenali ciri-ciri, penyebab, hingga contoh nyatanya dalam keseharian kita. Mari kita mulai perjalanan detoksifikasi digital ini agar hidup menjadi lebih tenang.

Menelisik Pengertian Doomscrolling Secara Mendalam

Istilah ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang tua, namun sangat akrab bagi generasi milenial dan Gen Z. Secara etimologi, doomscrolling berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu doom (kehancuran/kemalangan) dan scrolling (menggulir layar).

Jadi, kita bisa mendefinisikannya sebagai tindakan mengonsumsi berita negatif secara berlebihan dan terus-menerus melalui gawai. Seseorang yang melakukan aktivitas ini akan terus mencari informasi yang menyedihkan, menakutkan, atau membuat marah, meskipun ia tahu bahwa hal itu berdampak buruk bagi suasana hatinya.

Kamus Merriam-Webster bahkan telah mencatat istilah ini sebagai fenomena budaya yang signifikan. Menurut pandangan saya, perilaku ini mirip dengan seseorang yang terus menggaruk luka kering. Meskipun terasa sakit dan berdarah, ada kepuasan aneh yang membuat orang tersebut terus menggaruknya.

Dalam konteks digital, kita seolah haus akan validasi rasa takut. Kita mencari bukti-bukti baru bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Akibatnya, otak kita memproses informasi tersebut sebagai ancaman nyata yang terus-menerus hadir. Pelaku doomscrolling tidak sekadar membaca berita, melainkan tenggelam dalam narasi keputusasaan tanpa ujung.

Fenomena Brainrot: Saudara Kembar Doomscrolling

Selain kecemasan, kebiasaan menggulir layar tanpa henti sering kali berjalan beriringan dengan kondisi yang netizen sebut sebagai brainrot. Istilah brainrot (pembusukan otak) menggambarkan keadaan mental yang kabur, sulit fokus, dan penurunan kemampuan berpikir kritis akibat terlalu banyak mengonsumsi konten internet yang dangkal, repetitif, dan tidak bermutu.

Ketika seseorang melakukan doomscrolling, ia tidak hanya menyerap energi negatif, tetapi juga membanjiri otaknya dengan informasi yang terfragmentasi. Bayangkan Anda membaca berita tentang perang, lalu sedetik kemudian melihat video kucing lucu, kemudian melihat video orang berjoget, dan kembali lagi ke berita korupsi. Perpindahan konteks yang sangat cepat ini merusak rentang perhatian (attention span).

Saya pribadi melihat bahwa brainrot adalah konsekuensi logis dari algoritma media sosial yang mendesain platformnya untuk membuat kita ketagihan. Otak kita menjadi “lembek” karena jarang kita gunakan untuk membaca tulisan panjang atau berpikir mendalam (deep thinking). Sebaliknya, kita hanya menginginkan dopamin instan dari konten durasi pendek. Oleh sebab itu, kombinasi antara doomscrolling dan brainrot adalah resep sempurna untuk menciptakan generasi yang cemas sekaligus sulit berkonsentrasi.

Mengapa Kita Terjebak? Penyebab Psikologis dan Algoritma

Pertanyaan besarnya adalah: Mengapa kita menyiksa diri sendiri? Mengapa kita tidak mencari berita bahagia saja tentang prestasi anak bangsa atau resep masakan? Ternyata, ada dua kekuatan besar yang bermain di sini: evolusi otak manusia dan kecanggihan teknologi.

Bias Negatif (Negativity Bias) Manusia

Secara evolusi, otak manusia memang terancang untuk lebih peka terhadap ancaman. Nenek moyang kita harus waspada terhadap predator untuk bertahan hidup. Sifat waspada ini menurun hingga ke manusia modern.

Kita memiliki bias negatif alami. Artinya, otak kita memberikan bobot lebih besar pada informasi buruk daripada informasi baik. Saat melihat judul berita “Pesawat Jatuh”, otak langsung bereaksi waspada. Sebaliknya, saat melihat judul “Bunga Mekar di Taman”, otak menganggapnya bukan prioritas.

Menurut opini saya, naluri bertahan hidup inilah yang menjadi bumerang di era digital. Dulu ancaman hanya berupa harimau di hutan. Kini, ancaman itu berupa ribuan berita buruk yang datang bertubi-tubi lewat layar 6 inci. Otak kita kewalahan membedakan mana ancaman nyata dan mana yang hanya kebisingan informasi.

Algoritma Media Sosial yang “Jahat”

Faktor kedua adalah desain teknologi itu sendiri. Perusahaan media sosial seperti Facebook, TikTok, dan X memiliki satu tujuan utama: menahan pengguna selama mungkin di dalam aplikasi.

Algoritma mereka sangat cerdas. Sistem tahu bahwa konten yang memicu emosi kuat (marah, takut, sedih) menghasilkan interaksi paling tinggi. Oleh karena itu, algoritma akan terus menyodorkan konten sejenis jika Anda sekali saja mengkliknya.

Jika Anda berhenti sejenak untuk membaca berita tentang begal, algoritma akan mencatat itu. Selanjutnya, beranda Anda akan penuh dengan berita kriminal. Akibatnya, Anda terjebak dalam echo chamber atau ruang gema yang berisi ketakutan. Kita sedang berperang melawan superkomputer yang tahu persis kelemahan psikologis kita.

Rasa Takut Tertinggal (FOMO)

Selain itu, sindrom Fear of Missing Out (FOMO) juga berperan besar. Kita takut orang lain menganggap kita kudet (kurang update) jika tidak tahu perkembangan kasus terbaru.

Di Indonesia, budaya “nimbrung” sangat kuat. Orang merasa harus tahu detail kejadian agar bisa ikut berdiskusi di grup WhatsApp keluarga atau tongkrongan. Padahal, ketidaktahuan akan satu atau dua berita kriminal tidak akan menghancurkan hidup kita.

Mengenali Ciri-Ciri Utama Perilaku Doomscrolling

Sering kali kita menyangkal bahwa kita sedang mengalami masalah ini. Kita beralasan hanya ingin “update” informasi terkini. Namun, ada garis tipis antara menjadi informatif dan menjadi obsesif. Berikut adalah tanda-tanda yang harus Anda waspadai.

1. Hilangnya Konsep Waktu

Ciri paling mencolok adalah ketidakmampuan mengontrol waktu. Anda berniat hanya mengecek Twitter (X) atau Instagram selama lima menit. Tiba-tiba, dua jam telah berlalu begitu saja.

Anda terus menelusuri tagar (hashtag) tentang sebuah tragedi. Bahkan, Anda membaca ratusan komentar orang asing yang sedang bertengkar. Jika Anda sering kaget melihat jam karena terlalu asyik membaca berita buruk, itu adalah lampu merah pertama.

2. Perubahan Fisik yang Nyata

Tubuh tidak bisa berbohong. Saat melakukan doomscrolling, tubuh akan merespons stres tersebut. Otot leher dan bahu menjadi tegang tanpa sadar.

Selain itu, Anda mungkin sering menahan napas atau bernapas pendek saat membaca konten yang memicu emosi. Mata menjadi kering dan perih karena jarang berkedip. Jika Anda sering bangun tidur dengan perasaan lelah meski sudah tidur cukup, bisa jadi aktivitas gulir layar semalam adalah penyebabnya.

3. Perubahan Suasana Hati yang Drastis

Perhatikan emosi Anda setelah menutup aplikasi media sosial. Apakah Anda merasa lebih pintar dan berdaya? Atau sebaliknya, Anda merasa lelah, putus asa, dan marah pada dunia?

Pelaku doomscrolling cenderung memandang dunia dengan kacamata hitam. Mereka merasa tidak ada harapan bagi masa depan. Rasa cemas yang tidak beralasan sering muncul bahkan saat sedang melakukan aktivitas lain. Misalnya, saat makan siang pun pikiran masih tertuju pada berita kerusuhan yang baru saja ia baca.

4. Mengabaikan Kewajiban Utama

Tanda bahaya lainnya adalah ketika kebiasaan ini mulai mengganggu produktivitas. Anda menunda pekerjaan kantor atau tugas kuliah hanya untuk memantau perkembangan kasus viral.

Prioritas hidup menjadi berantakan. Interaksi sosial di dunia nyata pun berkurang karena Anda lebih sibuk memantau “perang” di dunia maya. Jika orang terdekat mulai menegur Anda karena terlalu sering memegang ponsel dengan wajah tegang, dengarkanlah mereka.

Contoh Nyata Doomscrolling dalam Konteks Indonesia

Fenomena ini sangat nyata dan dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Mari kita lihat beberapa contoh situasi yang sering memicu perilaku doomscrolling massal di tanah air.

1. Musim Pemilihan Umum (Tahun Politik)

Momen Pilpres atau Pilkada adalah ladang subur bagi doomscrolling. Timeline media sosial berubah menjadi medan perang. Berita bohong (hoax), kampanye hitam, dan ujaran kebencian menyebar dengan cepat.

Pendukung kubu A akan mencari kesalahan kubu B, begitu pula sebaliknya. Kita sering menghabiskan waktu berjam-jam membaca kolom komentar yang penuh caci maki. Meskipun hati merasa panas dan marah, jari kita tidak mau berhenti menggulir untuk melihat serangan balasan. Kondisi ini menciptakan polarisasi yang tajam dan stres kolektif.

2. Bencana Alam dan Kecelakaan Besar

Indonesia berada di Ring of Fire, sehingga sering mengalami gempa bumi atau letusan gunung berapi. Saat bencana terjadi, naluri kita ingin memantau situasi.

Namun, hal ini sering berlebihan. Misalnya, saat terjadi isu gempa megathrust atau erupsi gunung. Orang-orang terus mencari video amatir detik-detik kejadian yang mengerikan. Mereka menonton ulang video jeritan korban berkali-kali. Tindakan ini bukan lagi mencari informasi mitigasi, melainkan memuaskan rasa ingin tahu yang tidak sehat terhadap tragedi.

3. Kasus Kriminal Viral

Netizen Indonesia terkenal sangat “kepo” (peduli berlebih) terhadap kasus kriminal viral, seperti kasus pembunuhan berencana atau penganiayaan yang melibatkan figur publik.

Contohnya pada kasus-kasus persidangan besar yang disiarkan langsung. Publik terus memantau setiap detail persidangan. Mereka membaca teori konspirasi liar yang beredar di TikTok yang seringkali memicu brainrot. Bahkan, mereka ikut melacak akun media sosial keluarga pelaku dan membanjirinya dengan hujatan. Perilaku ini adalah bentuk doomscrolling yang berbalut main hakim sendiri secara digital.

Dampak Buruk Bagi Kesehatan Mental dan Fisik

Kita tidak boleh meremehkan dampak dari kebiasaan ini. Kerusakan yang timbul bisa bersifat jangka panjang jika kita tidak segera menanganinya.

Gangguan Kecemasan dan Depresi

Paparan berita negatif yang terus-menerus memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin. Hormon stres ini seharusnya hanya keluar saat bahaya nyata datang. Jika hormon ini terus membanjiri tubuh, sistem saraf akan kelelahan.

Seseorang bisa mengalami Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau gangguan kecemasan umum. Mereka menjadi paranoid. Misalnya, setelah membaca banyak berita penculikan, seorang ibu menjadi takut berlebihan membiarkan anaknya bermain di teras rumah.

Gangguan Tidur (Insomnia)

Cahaya biru (blue light) dari layar ponsel menghambat produksi melatonin, hormon pengatur tidur. Ditambah lagi dengan pikiran yang penuh berita seram, tidur nyenyak menjadi hal mustahil.

Kurang tidur akan menurunkan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, pelaku doomscrolling lebih mudah jatuh sakit secara fisik. Lingkaran setan pun terjadi: stres bikin susah tidur, kurang tidur bikin makin stres.

Penurunan Kemampuan Kognitif (Brainrot)

Otak yang kebanjiran informasi sampah akan sulit fokus. Kemampuan berpikir kritis menurun. Kita menjadi lebih mudah percaya pada hoax karena daya analisis kita melemah akibat kelelahan mental. Kondisi brainrot ini membuat kita sulit mencerna informasi yang kompleks dan hanya menyukai hiburan yang dangkal.

Strategi Ampuh Menghentikan Kebiasaan Doomscrolling

Kabar baiknya, kita bisa keluar dari jebakan ini. Kita memegang kendali penuh atas gawai kita, bukan sebaliknya. Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa Anda terapkan mulai hari ini.

1. Tetapkan Batasan Waktu yang Tegas

Jangan mengandalkan niat semata. Gunakan fitur Digital Wellbeing atau Screen Time yang ada di ponsel Anda. Atur pembatasan waktu untuk aplikasi berita dan media sosial.

Misalnya, batasi penggunaan Instagram atau X (Twitter) hanya 30 menit sehari. Jika waktu habis, aplikasi akan terkunci otomatis. Awalnya memang menyiksa, tapi ini cara paling efektif untuk memutus siklus kecanduan.

2. Kurasi Ulang “Following” Anda (Unfollow/Mute)

Lakukan bersih-bersih akun media sosial. Berhentilah mengikuti akun berita sensasional yang hanya menjual judul clickbait menakutkan. Unfollow teman atau influencer yang kerjanya hanya mengeluh dan menyebar kebencian.

Gantilah dengan mengikuti akun yang positif. Ikuti akun resep masakan, humor, motivasi, atau hobi. Latih algoritma Anda untuk menyajikan konten yang menyejukkan hati dan menjauhkan Anda dari brainrot.

3. Terapkan Aturan “No Phone” di Kamar Tidur

Jadikan kamar tidur sebagai zona bebas gawai. Belilah jam weker konvensional agar Anda tidak perlu menggunakan ponsel sebagai alarm.

Letakkan ponsel di ruang tamu saat Anda tidur. Dengan cara ini, Anda menghilangkan godaan untuk melakukan doomscrolling sebelum tidur atau saat bangun pagi. Mulailah dan akhirilah hari Anda dengan ketenangan, bukan dengan berita kerusuhan.

4. Ganti Kebiasaan dengan Aktivitas Fisik

Saat dorongan untuk membuka ponsel datang, segera alihkan perhatian. Lakukan aktivitas fisik sederhana. Berdirilah, lakukan peregangan, minum segelas air putih, atau mainkan hewan peliharaan Anda.

Otak butuh dopamin pengganti. Berikan dopamin sehat dari olahraga atau interaksi nyata, bukan dopamin murah dari notifikasi ponsel.

5. Praktikkan Kesadaran Penuh (Mindfulness)

Sadari saat Anda mulai merasa tidak nyaman. Jika jantung mulai berdebar saat membaca berita, berhentilah. Tarik napas panjang.

Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah informasi ini berguna bagi hidup saya saat ini?” Jika jawabannya tidak, segera tutup aplikasi tersebut. Menjaga kesadaran diri adalah benteng pertahanan terakhir kita.

Kesimpulan: Pilihlah Kedamaian di Tengah Kebisingan

Kesimpulannya, doomscrolling adalah racun modern yang manis. Pengertiannya melampaui sekadar main HP, melainkan bentuk penyiksaan diri secara psikologis melalui konsumsi berita buruk yang diperparah oleh fenomena brainrot.

Kita telah melihat bahwa penyebabnya adalah kombinasi naluri purba dan algoritma canggih. Kita juga melihat betapa relevannya masalah ini di Indonesia, mulai dari isu politik hingga kriminal.

Oleh karena itu, keputusan ada di tangan Anda. Apakah Anda ingin membiarkan dunia luar mengacak-acak kedamaian batin Anda? Tentu tidak. Mulailah mengambil langkah kecil hari ini.

Letakkan ponsel Anda sekarang. Lihatlah dunia nyata di sekitar Anda. Ada keluarga yang bisa diajak bicara, ada buku yang bisa dibaca, dan ada udara segar yang bisa dihirup. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Jadilah tuan atas pikiran Anda sendiri dan selamatkan otak Anda dari pembusukan informasi.