Sinopsis Buku
“Sejauh apa pun kita berkelana, samudra yang paling luas dan dalam sejatinya tak pernah berada di luar. Ia tersembunyi rapat di balik seiris hening yang menetap di dalam dada.”
Kinasih Rinonce Nareswari hanyalah seorang penonton sunyi. Baginya, hidup adalah sebuah panggung sandiwara yang ia saksikan dari balik kaca bus kota yang bergetar. Ia merekam fragmen-fragmen kehidupan masyarakat marginal yang sering kali terabaikan: perjuangan kuli panggul yang ambruk di pasar, kisah supir bus yang menyimpan rahasia di balik seragam lusuhnya, hingga getirnya hidup di tepian rel kereta api.
Di tengah kepungan debu kota dan duka yang dipendam sendirian, Kinasih mencari arti “pulang” yang sebenarnya. Sebuah perjalanan batin yang menuntunnya pada perjumpaan-perjumpaan tak terduga—dari Mbah Darma yang mengajarkannya ketabahan di pematang sawah, hingga Pak Aliman, kurir koran tua yang menjaga nyawa kata-kata di era digital.
Titian Kelana bukan sekadar catatan perjalanan. Ini adalah prasasti tentang cara kita menerima kekalahan, merawat luka, dan menemukan martabat di tengah bisingnya roda modernisasi. Sebuah novel yang dipersembahkan untuk jiwa-jiwa yang sedang berjuang meniti jalan pulang ke dalam diri sendiri.
Siapkan hatimu untuk hanyut dalam sunyi, dan temukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu yang selama ini berdesakan di kepala.





