Bangsa Tanpa Bapak

Penulis : Gibran Aulia
Kategori : Nonfiksi
Penerbit : Kolofon
Halaman : 110
Dimensi : 13 x 19 cm
Tag : Bangsa Tanpa Bapak, Gibran Aulia

Sinopsis Buku

Apa jadinya jika sebuah bangsa tumbuh besar tanpa figur ayah?

Bukan hanya dalam rumah—di mana 20,9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran aktif seorang ayah—tetapi juga dalam politik, birokrasi, dan ruang publik. Bangsa Tanpa Bapak adalah kumpulan esai yang lahir dari keresahan seorang anak muda terhadap negerinya sendiri: dari meja makan yang sunyi hingga gedung DPR yang bising.

Dengan tajam dan kadang sinis, Gibran Aulia membedah ironi Indonesia pascapemilu. Mulai dari warisan politik adu domba yang tak kunjung usai (Divide et Impera masih hidup dan bernapas dalam baju baru), kebebasan berpendapat yang ternyata hanya untuk yang sependapat, hingga gelombang protes #KaburAjaDulu yang lebih menggambarkan kelelahan kolektif daripada pengkhianatan nasionalisme.

Kenapa kita lebih nyaman marah dalam bentuk meme dan shitpost daripada turun ke jalan? Kenapa kita alergi sains tapi percaya pada pawang hujan? Dan yang paling mengganggu: apakah mungkin kita—para pemilih yang lupa nama calonnya, warga yang diam saat pajak naik 250 persen sementara anggota DPR mengantongi Rp100 juta per bulan—tidak kalah bersalah?

Buku ini tidak akan memberi Anda jawaban. Ia tidak datang sebagai guru di depan kelas. Ia datang sebagai teman tongkrongan: ngobrol ngalor-ngidul, dari makna “Chindo” hingga gagalnya proyek food estate, dari lagu Seventeen versi AI Jokowi hingga korupsi Tom Lembong. Lalu membiarkan Anda pulang dengan pertanyaan-pertanyaan baru.

“Saya ingin buku ini menjelma jadi kawan tongkrongan,” tulisnya. Maka duduklah. Dengarkan. Dan mungkin, mulai bertanya.

Untuk yang muak, tapi belum pindah.