Sinopsis Buku
Rui adalah seorang pria yang terlalu pandai memakai topeng. Di mata rekan kerjanya di Jakarta, ia adalah sosok ramah dengan karier cemerlang yang sebentar lagi akan naik jabatan. Namun, di balik tawa paling lantangnya, tersimpan kehampaan yang mengoyak batin: “Aku ingin semuanya berakhir”. Merasa menjadi cangkang kosong yang terkikis oleh kesedihan tanpa air mata, Rui memutuskan melepaskan segalanya dan melarikan diri ke Yogyakarta demi mencari jeda dari kebisingan hatinya sendiri.
Perjalanan itu membawanya pada pertemuan-pertemuan yang tidak terduga. Di sebuah kedai kopi tersembunyi, ia bertemu Sylvia, seorang gadis pelayan kedai yang berbicara melalui puisi dan doa. Diskusi mereka tentang Tuhan, luka, dan sajak-sajak W.S. Rendra mulai membuka lapisan pertahanan yang selama ini Rui bangun. Sylvia menjadi cermin bagi luka Rui, mengingatkannya bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah izin untuk merasa kembali.
Namun, misteri terbesar muncul dalam tidurnya. Rui terus terseret ke sebuah padang rumput asing di bawah naungan bulan purnama raksasa, tempat seekor serigala biru misterius menantinya. Di sana, ia bertemu dengan sosok lelaki tua berwajah musisi rock yang memberinya nasihat-nasihat ganjil tentang cara meminjam kebahagiaan dari orang lain.
Apakah kedatangan Rui ke Jogja benar-benar untuk menagih ketenangan, ataukah ia sedang dikejar oleh dua belas ekor serigala dari masa silam yang siap merobek hatinya?. Roh Serigala adalah sebuah perjalanan kontemplatif tentang pencarian makna di tengah depresi, tentang bagaimana kebahagiaan seringkali bersembunyi di tempat yang paling hening di dalam diri kita sendiri.





