Sinopsis Buku
Hari-Hari Terakhir di Jogja adalah kisah tentang datang, bertahan, dan berpamitan.
Seorang mahasiswa berangkat ke Jogja bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai seseorang yang menyimpan kegagalan dan harapan yang dititipkan oleh ibunya. Di kota pelajar ini, ia belajar hidup dari hal-hal paling sederhana: burjo di pinggir jalan, kopi murah, motor tua, pertemanan lintas daerah, dan malam-malam panjang yang penuh keraguan.
Jogja tidak selalu seistimewa yang dibayangkan. Kota ini bisa hangat, tetapi juga kejam. Ia menawarkan kebebasan, sekaligus godaan untuk menyerah. Di tengah romantisasi dan realitas, tokoh “aku” dipaksa berdamai dengan dirinya sendiri tentang gagal, tentang bertahan, dan tentang tanggung jawab untuk pulang.
Buku ini adalah catatan reflektif tentang masa muda, perantauan, dan usaha seorang anak untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Sebuah kisah yang akrab bagi siapa pun yang pernah merantau, mencintai Jogja, dan belajar menerima dirinya sendiri.





