Menulis rumusan masalah skripsi sering kali menjadi tantangan terbesar bagi mahasiswa tingkat akhir. Bab 1 skripsi memang menjadi pondasi dari keseluruhan penelitian, karena dari sinilah arah, tujuan, dan ruang lingkup kajian ditentukan. Banyak mahasiswa kesulitan merumuskannya karena belum memahami hubungan antara latar belakang, identifikasi masalah, dan pertanyaan penelitian. Padahal, rumusan masalah yang jelas tidak hanya membantu proses penelitian berjalan sistematis, tetapi juga menunjukkan kemampuan berpikir ilmiah yang terstruktur.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam bagaimana membuat rumusan masalah skripsi yang benar, serta contoh konkret dari berbagai bidang ilmu, serta tips agar penulisannya tidak salah arah.
1. Mengapa Rumusan Masalah Skripsi Menjadi Kunci Bab 1
Rumusan masalah merupakan inti dari Bab 1 skripsi. Menurut Sugiyono (2019) dalam Metode Penelitian Pendidikan, rumusan masalah berfungsi sebagai panduan dalam menentukan tujuan penelitian, hipotesis, hingga metode analisis data. Tanpa rumusan masalah yang tajam, penelitian akan kehilangan arah dan fokus.
Dalam bidang akademik, rumusan masalah skripsi tidak boleh sekadar daftar pertanyaan. Ia harus merefleksikan persoalan yang benar-benar signifikan, memiliki nilai ilmiah, serta dapat teruji melalui metode penelitian yang relevan. Misalnya, jika kamu menulis skripsi tentang “pengaruh gaya belajar terhadap prestasi siswa”, rumusan masalah harus mengarah pada hubungan kausalitas antara dua variabel tersebut, bukan sekadar deskripsi umum.
Dengan demikian, memahami hakikat rumusan masalah berarti memahami fondasi epistemologis dari seluruh karya ilmiah yang kamu tulis.
2. Pengertian Rumusan Masalah Skripsi Menurut Para Ahli
Untuk menulis rumusan masalah skripsi yang benar, mahasiswa perlu memahami definisinya secara konseptual. Menurut Nazir (2014) dalam Metode Penelitian, rumusan masalah adalah “pernyataan yang menjelaskan secara jelas dan tegas hubungan antar variabel atau fenomena yang akan diteliti.” Artinya, setiap rumusan masalah harus memiliki arah penelitian yang dapat diukur.
Sementara itu, Arikunto (2010) menyebut bahwa rumusan masalah adalah bentuk penyederhanaan dari latar belakang yang luas menjadi inti persoalan yang hendak peneliti jawab. Dengan kata lain, rumusan masalah harus ringkas, fokus, dan langsung pada inti pertanyaan penelitian.
Dari kedua pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah skripsi yang baik memiliki tiga karakter utama: (1) mengandung hubungan antar variabel atau konsep, (2) bisa dijawab melalui metode penelitian, dan (3) tidak bersifat spekulatif.
3. Hubungan antara Latar Belakang dan Rumusan Masalah
Banyak mahasiswa melakukan kesalahan karena menulis rumusan masalah skripsi tanpa memperhatikan keterkaitannya dengan latar belakang. Akibatnya, pertanyaan penelitian menjadi tidak relevan atau keluar dari konteks.
Latar belakang berfungsi untuk menjelaskan fenomena umum yang menjadi dasar penelitian. Dari fenomena tersebut, penulis kemudian mengidentifikasi kesenjangan penelitian (research gap) yang menjadi alasan mengapa penelitian perlu. Nah, dari gap inilah rumusan masalah harus lahir.
Sebagai contoh, jika latar belakang membahas rendahnya minat baca siswa sekolah menengah akibat dominasi media digital, maka rumusan masalah harus berkaitan langsung dengan fenomena tersebut, misalnya:
“Bagaimana pengaruh penggunaan media digital terhadap kebiasaan membaca siswa SMA?”
Hubungan logis antara latar belakang dan rumusan masalah menunjukkan bahwa penelitianmu memiliki dasar ilmiah yang kuat.
4. Struktur dan Jenis Rumusan Masalah Skripsi
Secara umum, rumusan masalah skripsi dibagi menjadi dua jenis utama: deskriptif dan asosiatif.
- Rumusan Masalah Deskriptif
Fokus pada penggambaran fenomena tanpa menghubungkan antar variabel.
Contoh: “Bagaimana tingkat literasi digital siswa SMA di Yogyakarta?” - Rumusan Masalah Asosiatif
Fokus pada hubungan antar variabel.
Contoh: “Apakah terdapat pengaruh literasi digital terhadap prestasi akademik siswa SMA di Yogyakarta?”
Struktur rumusan masalah biasanya berbentuk pertanyaan penelitian yang berwal dari kata tanya “bagaimana”, “apa”, atau “mengapa”. Bentuk kalimat aktif sangat perlu agar rumusan masalah terdengar jelas dan ilmiah.
Selain itu, perhatikan konsistensi antara rumusan masalah, tujuan penelitian, dan hipotesis. Jika rumusan masalah menggunakan kata “pengaruh”, maka tujuan penelitian juga harus berbunyi “untuk mengetahui pengaruh…”. Keselarasan ini menjadi kriteria utama penilaian skripsi oleh dosen pembimbing.
5. Contoh Rumusan Masalah Skripsi dari Berbagai Bidang
Agar pemahaman lebih konkret, berikut contoh rumusan masalah skripsi dari beberapa bidang ilmu:
a. Pendidikan:
- “Bagaimana penerapan metode pembelajaran flipped classroom meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sleman?”
b. Ekonomi:
- “Apakah digital marketing berpengaruh terhadap peningkatan penjualan UMKM di Kota Bandung?”
c. Sastra:
- “Bagaimana bentuk metafora cinta dalam kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono Hujan Bulan Juni?”
d. Linguistik:
- “Bagaimana strategi kesantunan dalam ujaran guru terhadap siswa di kelas daring?”
e. Psikologi:
- “Apakah terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dan stres akademik mahasiswa semester akhir?”
Dari contoh di atas, terlihat bahwa semua rumusan masalah skripsi memiliki arah penelitian yang terukur dan spesifik, bukan bersifat umum atau spekulatif.
6. Langkah-langkah Membuat Rumusan Masalah Skripsi
Agar rumusan masalah tidak salah, mahasiswa dapat mengikuti langkah-langkah berikut:
- Identifikasi Masalah Utama
Tulis fenomena yang menarik perhatianmu atau yang memiliki urgensi sosial dan akademik. - Lakukan Kajian Pustaka Awal
Telusuri penelitian terdahulu untuk menemukan celah penelitian (research gap). - Batasi Ruang Lingkup
Hindari pernyataan yang terlalu luas. Fokuslah pada satu aspek yang bisa diteliti. - Bentuk Pertanyaan Penelitian
Gunakan kalimat aktif yang spesifik dan bisa dijawab melalui metode ilmiah. - Konsultasikan ke Dosen Pembimbing
Validasi penting agar rumusan masalahmu tidak keluar dari konteks keilmuan.
Menurut Creswell (2014), rumusan masalah yang baik lahir dari perpaduan antara rasa ingin tahu dan logika ilmiah. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengasah kemampuan berpikir kritis agar dapat mengubah masalah sehari-hari menjadi pertanyaan penelitian yang akademik.
7. Kesalahan Umum dalam Menulis Rumusan Masalah Skripsi
Mahasiswa sering melakukan kesalahan ketika menulis rumusan masalah skripsi. Kesalahan paling umum antara lain:
- Menulis pernyataan, bukan pertanyaan.
- Rumusan terlalu umum, tidak bisa diuji secara empiris.
- Tidak sejalan dengan tujuan penelitian.
- Terlalu banyak rumusan masalah, melebihi kemampuan riset.
Misalnya, rumusan seperti “Bagaimana pendidikan di Indonesia?” terlalu luas dan tidak bisa kamu bahas dalam satu skripsi. Bandingkan dengan rumusan lebih tajam seperti “Bagaimana pengaruh program literasi sekolah terhadap kemampuan menulis siswa SMP di Sleman?”.
Untuk menghindarinya, gunakan prinsip SMART: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound. Prinsip ini sering sangat recomended oleh ahli metodologi penelitian seperti Uma Sekaran (2006) dalam Research Methods for Business.
8. Tips Menulis Rumusan Masalah Skripsi yang Jelas dan Tepat
Agar rumusan masalah tidak salah, berikut beberapa tips praktis yang bisa kamu terapkan:
- Gunakan kalimat aktif dan tegas. Hindari bentuk pasif seperti “dianalisis oleh peneliti”. Gunakan “peneliti menganalisis”.
- Pastikan ada hubungan logis antarvariabel. Jika penelitian bersifat kuantitatif, rumusan masalah harus menunjukkan hubungan sebab-akibat.
- Jangan terlalu banyak pertanyaan. Idealnya, maksimal tiga rumusan masalah sudah cukup.
- Selaraskan dengan teori dan metode. Rumusan masalah yang baik bisa terjawab dengan metode yang kamu pilih.
- Periksa kembali relevansi dengan latar belakang. Pastikan setiap pertanyaan muncul sebagai respons terhadap permasalahan yang kamu paparkan.
Dengan menerapkan tips di atas, kamu akan mampu menulis rumusan masalah skripsi yang kuat secara ilmiah dan mudah pembaca pahami.
9. Rumusan Masalah Skripsi sebagai Alat Pemandu Penelitian
Dalam keseluruhan struktur skripsi, rumusan masalah skripsi berfungsi seperti kompas penelitian. Ia menuntun peneliti untuk tetap berada di jalur dan tidak keluar dari fokus. Sugiyono (2019) menegaskan bahwa setiap bab dalam karya ilmiah harus kembali menjawab rumusan masalah, karena inilah dasar validitas logika penelitian.
Jika di tengah perjalanan penelitian kamu menemukan data baru yang menarik, rumusan masalah bisa disesuaikan, tetapi tetap dalam koridor tujuan awal. Dengan cara ini, penelitianmu tetap fleksibel tanpa kehilangan arah.
10. Contoh Bab 1 Skripsi dengan Rumusan Masalah yang Benar
Sebagai ilustrasi, berikut contoh Bab 1 singkat untuk memperjelas posisi rumusan masalah skripsi:
Judul: Pengaruh Literasi Digital terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Gadjah Mada
Latar Belakang:
Perkembangan teknologi digital mengubah cara mahasiswa belajar. Namun, tidak semua mahasiswa mampu memanfaatkan teknologi secara produktif.
Rumusan Masalah:
- Bagaimana tingkat literasi digital mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UGM?
- Apakah terdapat pengaruh literasi digital terhadap prestasi akademik mahasiswa?
Tujuan Penelitian:
- Mendeskripsikan tingkat literasi digital mahasiswa.
- Menganalisis pengaruh literasi digital terhadap prestasi akademik.
Manfaat Penelitian:
Memberikan rekomendasi strategi peningkatan literasi digital di lingkungan kampus.
Dari contoh ini terlihat bahwa rumusan masalah disusun logis, terukur, dan langsung terhubung dengan tujuan penelitian.
11. Refleksi: Rumusan Masalah sebagai Cerminan Cara Berpikir
Lebih dari sekadar syarat akademik, rumusan masalah skripsi mencerminkan cara berpikir ilmiah seorang mahasiswa. Ia menunjukkan kemampuan mengidentifikasi persoalan, menyeleksi informasi, dan menyusun pertanyaan yang relevan dengan kerangka teori.
Rumusan masalah yang baik menunjukkan bahwa peneliti memahami konteks sosial dan teoretis penelitiannya. Seperti diungkapkan oleh Moleong (2017) dalam Metodologi Penelitian Kualitatif, peneliti yang mampu merumuskan masalah dengan tajam adalah peneliti yang sudah memahami lapangan secara mendalam.
Dengan demikian, menulis rumusan masalah bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga latihan intelektual dalam berpikir reflektif dan kritis.
12. Penutup
Menulis rumusan masalah skripsi yang tepat memang membutuhkan latihan dan pemahaman mendalam terhadap fenomena yang diteliti. Kuncinya adalah kesesuaian antara latar belakang, teori, dan tujuan penelitian. Dengan mengikuti panduan dan contoh yang sudah dibahas, mahasiswa dapat menghindari kesalahan umum yang sering terjadi di Bab 1.
Rumusan masalah yang baik akan mempermudah seluruh proses penulisan skripsi, mulai dari kajian pustaka hingga analisis hasil penelitian. Maka, sebelum menulis Bab 2, pastikan rumusan masalahmu sudah benar-benar kokoh dan terarah.






