Prinsip Menulis: Tidak Harus Indah untuk Menjadi Penting dan Berdampak

Dalam Artikel Ini

Menulis pada hakikatnya adalah proses mentransfer gagasan, solusi, dan emosi dari satu pikiran ke pikiran lain, yang mana tujuan utamanya adalah kejelasan komunikasi, bukan sekadar kepuasan terhadap standar estetika sastra yang kaku. Sebuah karya menjadi penting ketika ia berhasil menggerakkan pembaca, memicu perubahan sosial, atau memberikan pemahaman baru, terlepas dari apakah seorang penulis menggunakan metafora yang rumit atau bahasa lugas sehari-hari. Oleh karena itu, masyarakat perlu berhenti menilai bobot sebuah tulisan hanya dari keindahan rangkaian katanya dan mulai menghargai substansi serta kejujuran yang terkandung di dalamnya.

Kita sering kali berhenti sebelum memulai. Banyak calon penulis potensial yang membuang naskah mereka ke tempat sampah, bukan karena idenya buruk, melainkan karena mereka merasa kalimatnya tidak cukup “nyastra”. Masyarakat kita, secara tidak sadar, telah membangun tembok tebal bernama “keindahan” yang menghalangi banyak orang untuk bersuara. Kita menganggap bahwa sebuah tulisan yang layak terbit haruslah tulisan yang mendayu-dayu, penuh dengan kata-kata serapan asing, atau menggunakan majas yang membuat kening berkerut.

Padahal, pandangan tersebut sangat keliru dan berbahaya bagi ekosistem literasi. Saya pribadi pernah terjebak dalam lubang yang sama. Saya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari sinonim kata “sedih” agar terdengar lebih intelek, padahal kata “sedih” itu sendiri sudah cukup kuat jika kita menempatkannya dalam konteks yang tepat. Artikel ini akan mengajak Anda, para pembaca buku yang memendam hasrat untuk menulis, guna meruntuhkan standar palsu tersebut. Kita akan membedah mengapa keberanian untuk tampil apa adanya jauh lebih vital daripada keinginan untuk terlihat puitis.

Mitos Estetika yang Membelenggu Kreativitas Penulis

Dunia kepenulisan Indonesia sering kali mengagungkan gaya bahasa di atas segalanya. Akibatnya, muncul anggapan bahwa menulis adalah pekerjaan “orang bakat” yang memiliki kamus berjalan di kepalanya. Kita melihat novel-novel pemenang penghargaan sastra yang bahasanya begitu tinggi, lalu kita merasa kecil hati. Kita berpikir bahwa jika kita tidak bisa menulis seperti mereka, maka tulisan kita adalah sampah.

Namun, mari kita berpikir jernih sejenak. Estetika atau keindahan hanyalah salah satu elemen dari kepenulisan, bukan satu-satunya. Standar keindahan itu sendiri sangat subjektif dan terus berubah seiring waktu. Sebaliknya, fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Jika sebuah tulisan sangat indah namun gagal menyampaikan pesan, maka tulisan tersebut gagal menjalankan fungsi utamanya.

Saya berpendapat bahwa obsesi terhadap keindahan sering kali menjadi topeng bagi kekosongan makna. Banyak orang bersembunyi di balik kalimat-kalimat rumpang yang terdengar filosofis padahal mereka tidak sedang mengatakan apa-apa. Oleh karena itu, kita harus mulai memisahkan antara “seni dekorasi kata” dengan “seni menyampaikan gagasan”. Anda tidak perlu menjadi dekorator untuk menjadi arsitek pemikiran yang ulung.

Jebakan “Sastra Wangi” dan Dampaknya pada Pemula

Istilah-istilah sastra yang rumit sering kali menjadi momok. Penulis pemula sering merasa terintimidasi oleh karya-karya yang kritikus labeli sebagai “sastra wangi” atau sastra serius. Akibatnya, mereka mencoba meniru gaya tersebut tanpa memiliki dasar yang kuat. Hasilnya adalah tulisan yang cringe, kaku, dan tidak bernyawa.

Ketakutan ini membunuh potensi. Bayangkan seorang aktivis lingkungan yang memiliki data penting tentang kerusakan hutan Kalimantan. Akan tetapi, ia enggan mempublikasikannya dalam bentuk artikel opini karena takut tata bahasanya tidak seindah esai-esai di koran nasional. Akhirnya, data penting tersebut mengendap begitu saja. Ini adalah kerugian besar bagi peradaban. Kita kehilangan informasi penting hanya karena penyampainya merasa tidak memenuhi standar estetika yang semu.

Substansi di Atas Gaya: Mengapa Isi Adalah Raja

Pembaca datang ke tulisan Anda untuk mendapatkan sesuatu. Mereka mencari hiburan, informasi, solusi, atau validasi atas perasaan mereka. Mereka jarang sekali datang hanya untuk mengagumi akrobat kata-kata Anda, kecuali jika mereka adalah sesama penyair. Oleh sebab itu, menempatkan substansi di atas gaya adalah langkah strategis yang cerdas.

Coba perhatikan buku-buku non-fiksi terlaris atau artikel viral yang sering Anda baca. Sebagian besar dari karya tersebut menggunakan bahasa yang sangat sederhana, komunikatif, dan langsung pada intinya (to the point). Penulis buku-buku tersebut sadar bahwa tugas mereka adalah melayani pembaca, bukan memamerkan kepintaran mereka sendiri.

Kejujuran dalam berkarya jauh lebih menyentuh hati daripada kepalsuan yang indah. Sebuah catatan harian yang ditulis dengan tata bahasa berantakan namun memuat emosi yang raw (mentah) dan jujur, sering kali memiliki dampak emosional yang lebih besar daripada puisi yang tekniknya sempurna namun kering rasa.

Kejelasan Adalah Bentuk Baru dari Keindahan

Kita perlu mendefinisikan ulang apa itu “indah”. Dalam konteks komunikasi, keindahan sesungguhnya terletak pada kejelasan (clarity). Ketika pembaca membaca kalimat Anda dan langsung memahami maksudnya tanpa harus membaca ulang tiga kali, itulah keindahan.

Selanjutnya, kejelasan menunjukkan bahwa penulis menghargai waktu pembaca. Anda tidak memaksa pembaca untuk menebak-nebak teka-teki silang dalam kalimat Anda. Dengan demikian, menulis dengan jelas adalah bentuk kesopanan intelektual. Jangan pernah meremehkan kekuatan kalimat subjek-predikat-objek yang sederhana. Ia memiliki daya dobrak yang luar biasa jika Anda mengisinya dengan gagasan yang kuat.

Menemukan Suara Otentik dalam Menulis

Setiap orang memiliki “suara” yang unik. Suara ini terbentuk dari latar belakang, pengalaman hidup, buku yang mereka baca, dan cara mereka memandang dunia. Sayangnya, standar estetika sering memaksa kita untuk mematikan suara asli tersebut dan menggantinya dengan suara orang lain yang kita anggap lebih keren.

Anda mungkin orang yang humoris dan ceplas-ceplos dalam percakapan sehari-hari. Namun, ketika duduk di depan laptop untuk menulis, tiba-tiba Anda berubah menjadi orang yang sangat serius, kaku, dan melankolis karena Anda pikir itulah cara menjadi penulis yang baik. Padahal, tulisan yang paling menarik adalah tulisan yang memancarkan kepribadian asli penulisnya.

Berani Tampil “Telanjang” dan Apa Adanya

Menjadi rentan (vulnerable) adalah kunci untuk terhubung dengan pembaca. Jangan takut memperlihatkan ketidaksempurnaan tata bahasa Anda (selama tidak mengganggu makna) jika itu memang bagian dari gaya Anda.

Saya sering menemukan blog atau utas di media sosial yang viral meskipun penulisannya penuh dengan bahasa gaul atau struktur yang tidak baku. Mengapa? Karena mereka menulis dengan suara yang otentik. Mereka tidak berusaha menjadi orang lain. Pembaca bisa merasakan ketulusan tersebut. Sebaliknya, tulisan yang terlalu dipoles sering kali terasa berjarak dan dingin.

Menghindari Kosakata yang Tidak Perlu

Salah satu penyakit utama penulis baru adalah “mabuk tesaurus”. Mereka membuka kamus sinonim dan mengganti kata-kata umum dengan kata-kata arkais (kuno) agar terlihat puitis. Misalnya, mengganti “matahari” dengan “baskara” atau “langit” dengan “jumantara” dalam sebuah artikel tentang tips keuangan. Ini sangat tidak relevan dan justru mengganggu.

Gunakanlah kata yang paling tepat, bukan kata yang paling rumit. Jika kata “berjalan” sudah cukup menggambarkan situasinya, Anda tidak perlu menggunakan kata “melangkah gontai menyusuri setapak”. Efisiensi kata adalah tanda kematangan seorang penulis.

Fungsi Sosial Tulisan: Mengubah Dunia Tanpa Bunga-Bunga

Sejarah membuktikan bahwa tulisan-tulisan yang mengubah dunia sering kali bukanlah tulisan yang paling indah secara sastra. Manifesto politik, surat kabar perjuangan, atau buku panduan teknis, sering kali ditulis dengan bahasa yang kering dan fungsional.

Akan tetapi, tulisan-tulisan tersebut menjadi penting karena urgensi pesannya. Thomas Paine menulis Common Sense dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh rakyat jelata Amerika pada saat itu, bukan dengan bahasa kaum bangsawan Inggris. Hasilnya? Tulisan itu mengobarkan semangat revolusi kemerdekaan. Hal ini membuktikan bahwa aksesibilitas bahasa adalah senjata yang ampuh untuk mobilisasi massa.

Di Indonesia, kita bisa melihat bagaimana tulisan-tulisan jurnalisme investigasi bekerja. Laporan tentang korupsi atau ketidakadilan hukum tidak membutuhkan metafora senja dan kopi. Ia membutuhkan data yang akurat, kronologi yang runtut, dan keberanian mengungkap fakta. Dalam konteks ini, estetika justru bisa menjadi gangguan yang mengaburkan fakta.

Menulis Sebagai Alat Advokasi

Bagi Anda yang ingin menulis untuk menyuarakan isu tertentu, lupakanlah ambisi untuk mendapatkan penghargaan sastra. Fokuslah pada pertanyaan: “Apakah orang mengerti apa yang saya perjuangkan?”

Jika Anda menulis tentang pemanasan global, tujuan Anda adalah membuat orang sadar dan bertindak. Jika Anda menggunakan bahasa yang terlalu abstrak, orang mungkin akan mengagumi tulisan Anda sebagai karya seni, tetapi mereka tidak akan tergerak untuk mengurangi penggunaan plastik. Anda ingin menjadi efektif, bukan sekadar impresif.

Mengatasi Rasa Takut Dihakimi “Tulisan Jelek”

Perasaan insecure atau tidak aman adalah musuh terbesar kreativitas. Kita takut orang lain akan menertawakan tulisan kita yang kaku, yang tidak memiliki rima, atau yang terlalu blak-blakan. Ketakutan ini wajar, tetapi tidak boleh menghentikan langkah kita.

Anda perlu menyadari bahwa kritikus terbesar sering kali adalah diri sendiri. Pembaca di luar sana biasanya jauh lebih pemaaf daripada yang kita bayangkan. Mereka lebih peduli pada apakah tulisan Anda membantu mereka atau menghibur mereka, daripada apakah Anda menggunakan majas personifikasi dengan benar.

Selain itu, keterampilan teknis bisa Anda pelajari sambil jalan. Anda bisa memperbaiki tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat seiring berjalannya waktu. Namun, keberanian untuk menuangkan ide tidak akan muncul jika Anda terus menunggu sampai tulisan Anda sempurna. Kesempurnaan adalah musuh dari kemajuan.

Latihan Menulis Tanpa Edit (Free Writing)

Salah satu cara ampuh untuk mematikan “editor internal” yang rewel dan terobsesi pada estetika adalah dengan melakukan free writing. Cobalah menulis selama 15 menit tanpa berhenti, tanpa berpikir soal ejaan, dan tanpa menghapus satu kata pun.

Biarkan pikiran Anda mengalir liar. Anda akan terkejut menemukan bahwa di tengah-tengah kalimat yang berantakan itu, terdapat butiran emas ide yang sangat brilian. Teknik ini melatih otak untuk memprioritaskan aliran gagasan daripada keindahan struktur. Nanti, setelah idenya keluar semua, barulah Anda merapikannya. Ingat, Anda tidak bisa mengedit halaman kosong.

Menjadikan standar estetika sebagai tolak ukur utama kualitas sebuah tulisan adalah kesalahan berpikir yang harus kita koreksi bersama. Menulis tidak harus indah untuk menjadi penting. Sebuah tulisan menjadi penting ketika ia jujur, berani, dan bermanfaat bagi pembacanya.

Kita membutuhkan lebih banyak orang yang berani menulis apa adanya. Kita membutuhkan pemikir yang menyampaikan gagasan rumit dengan bahasa sederhana, bukan penyair gadungan yang menyampaikan gagasan sederhana dengan bahasa rumit. Jangan biarkan keinginan untuk terlihat pintar menghalangi Anda untuk menjadi bermanfaat.

Oleh karena itu, mulailah menulis hari ini. Abaikan aturan-aturan estetika yang mengekang. Tuliskan apa yang Anda rasakan, apa yang Anda ketahui, dan apa yang ingin Anda ubah. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak kata-kata indah; dunia membutuhkan lebih banyak kebenaran yang terucap lantang. Tulisan Anda, dengan segala kekurangannya, bisa jadi adalah apa yang seseorang butuhkan saat ini.

Rekomendasi Buku

Buku Latihan untuk Calon Penulis adalah sebuah buku catatan dengan konsep yang unik. Sangat cocok untuk mereka yang tertarik untuk belajar menulis. Membaca buku ini ibarat sedang mengikuti kursus menulis bersama Puthut EA tanpa bertatap muka langsung.

Dapatkan bukunya di sini.