Penulisan Sampai dengan yang Benar Sesuai Kaidah Bahasa Indonesia

Dalam Artikel Ini

 

Penulisan sampai dengan sering menimbulkan kebingungan di kalangan penulis, terutama dalam konteks formal seperti surat dinas, laporan, dan dokumen akademik. Banyak orang menulis hingga, sampai, atau sampai dengan tanpa memahami perbedaan fungsi dan konteks penggunaannya. Padahal, kesalahan kecil dalam penggunaan preposisi ini dapat mengubah tingkat formalitas dan kejelasan makna sebuah kalimat. Oleh karena itu, memahami aturan penulisan sampai dengan yang benar sesuai kaidah bahasa Indonesia menjadi penting agar komunikasi tertulis tetap tepat dan baku.

Bahasa Indonesia memiliki sistem preposisi yang kompleks dan kaya makna. Dalam konteks formal, sampai dengan bukan sekadar gabungan dua kata, tetapi merupakan bentuk preposisi majemuk yang memiliki fungsi tertentu. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai pengertian, fungsi, unsur-unsur pembentuk, perbedaan dengan bentuk lain seperti sampai dan hingga, serta panduan penggunaannya dalam kalimat baku.

 Penulisan Sampai dengan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2016), sampai dengan adalah preposisi majemuk yang bermakna ‘hingga’ atau ‘sampai pada titik tertentu dalam waktu atau tempat’. Artinya, frasa ini digunakan untuk menunjukkan batas akhir suatu kegiatan, tempat, atau periode waktu. Contohnya dalam kalimat:

“Rapat berlangsung dari pukul 08.00 sampai dengan 10.00.”

Dalam kalimat tersebut, sampai dengan berfungsi untuk menegaskan bahwa kegiatan dimulai pada pukul 08.00 dan berakhir tepat pada pukul 10.00.

Chaer (2012) dalam Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa preposisi majemuk seperti sampai dengan memiliki kekhususan makna dan nuansa formal yang lebih kuat dibandingkan dengan preposisi tunggal sampai. Karena itu, penulis perlu memahami kapan frasa ini digunakan agar sesuai dengan tingkat keformalan konteks tulisannya.

Unsur-Unsur Penulisan Sampai dengan

Penulisan sampai dengan terdiri atas dua kata yang berfungsi membentuk satu makna preposisional, yaitu:

  1. Sampai – menunjukkan batas atau akhir suatu gerakan, waktu, atau keadaan. Misalnya, Saya berjalan sampai pasar.
  2. Dengan – memiliki fungsi sebagai penghubung atau pelengkap yang memperhalus hubungan makna antar unsur.

Ketika kedua unsur ini digabung menjadi sampai dengan, maknanya menjadi lebih spesifik dan bernuansa formal. Dalam struktur kalimat, frasa ini berperan sebagai preposisi majemuk (compound preposition). Menurut Kridalaksana (2008) dalam Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, preposisi majemuk terbentuk dari dua atau lebih kata yang secara bersama-sama berfungsi sebagai penanda hubungan gramatikal.

Dengan demikian, penulisan sampai dengan bukan sekadar dua kata yang berdekatan, melainkan satu kesatuan makna yang berfungsi menentukan relasi batas suatu peristiwa.

Paket Konversi Buku

Fungsi Penulisan Sampai dengan dalam Kalimat

Fungsi utama penulisan sampai dengan adalah menunjukkan batas waktu, tempat, atau kuantitas. Misalnya:

  • Kegiatan berlangsung dari tanggal 10 sampai dengan 12 November 2025.
  • Pendaftaran dibuka dari pukul 08.00 sampai dengan 15.00.
  • Peserta berjumlah sampai dengan 500 orang.

Ketiga contoh tersebut memperlihatkan fungsi sampai dengan untuk menandai akhir dari suatu rentang. Selain itu, bentuk ini juga berfungsi menegaskan kelengkapan atau batas totalitas, terutama dalam dokumen formal seperti surat keputusan, laporan kegiatan, dan makalah ilmiah.

Menurut Alwi dkk. (2017) dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat, pemakaian preposisi majemuk seperti sampai dengan lebih lazim digunakan dalam bahasa tulis resmi dibandingkan sampai atau hingga karena memberikan kesan profesional dan tidak menimbulkan ambiguitas.

Perbedaan Penulisan Sampai dengan, Sampai, dan Hingga

Salah satu penyebab kesalahan umum dalam penulisan sampai dengan adalah ketidaktahuan perbedaan makna dan tingkat keformalan antara sampai dengan, sampai, dan hingga. Ketiga bentuk ini memiliki kesamaan fungsi, tetapi berbeda konteks penggunaan.

  1. Sampai dengan digunakan dalam konteks formal dan administratif, misalnya surat resmi, laporan kegiatan, atau dokumen akademik.

    “Pendaftaran dibuka dari tanggal 1 sampai dengan 30 Juni 2025.”

  2. Sampai digunakan dalam konteks umum atau nonformal, seperti percakapan sehari-hari.

    “Saya menunggu kamu sampai malam.”

  3. Hingga memiliki fungsi serupa dengan sampai, tetapi lebih bernuansa sastra dan digunakan dalam teks naratif.

    “Ia berjuang hingga titik darah penghabisan.”

Menurut Badudu (2002), sampai dengan menandai bentuk bahasa baku yang lebih netral, sedangkan hingga menunjukkan ekspresi estetis dan sampai cenderung lisan. Dengan memahami perbedaan ini, penulis dapat memilih bentuk yang tepat sesuai tujuan komunikasinya.

Kaidah Penulisan Sampai dengan dalam Surat dan Dokumen Resmi

Dalam surat resmi, sampai dengan sering muncul pada bagian informasi waktu dan rentang kegiatan. Berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI, 2016), penulisan frasa ini harus dipisahkan antara kata sampai dan dengan, karena keduanya merupakan dua kata yang membentuk satu frasa preposisional, bukan gabungan morfem yang melekat.

Contoh penulisan yang benar:
Kegiatan berlangsung dari tanggal 3 sampai dengan 5 Mei 2025.
Kegiatan berlangsung dari tanggal 3 s/d 5 Mei 2025.

Bentuk singkatan s/d sering digunakan dalam catatan informal atau tabel administratif, tetapi tidak disarankan dalam teks utama surat resmi karena melanggar prinsip kebakuan penulisan. Menurut Hasan Alwi (2017), singkatan boleh digunakan untuk efisiensi dalam daftar atau tabel, namun bentuk lengkap harus tetap digunakan dalam teks utama dokumen.

Penulisan Sampai dengan dalam Teks Akademik

Dalam teks akademik, sampai dengan sering digunakan untuk menandai batas waktu penelitian, periode analisis data, atau ruang lingkup kajian. Contohnya:

“Penelitian ini dilakukan sejak Januari sampai dengan Juni 2024.”

Penggunaan frasa ini memberi kesan formal dan menegaskan kejelasan waktu penelitian. Dalam konteks akademik, penulis perlu menghindari penggunaan sampai saja karena bisa dianggap terlalu informal.

Menurut Keraf (2004) dalam Diksi dan Gaya Bahasa, kejelasan (clarity) merupakan prinsip utama dalam bahasa ilmiah. Oleh karena itu, penulis harus menggunakan preposisi yang memiliki makna pasti dan tidak multitafsir. Sampai dengan memenuhi prinsip ini karena secara gramatikal menegaskan batas rentang waktu atau tempat secara eksplisit.

Penulisan Sampai dengan dalam Teks Nonformal

Berbeda dengan konteks akademik atau administratif, dalam teks nonformal seperti blog, cerpen, atau percakapan daring, penggunaan sampai dengan bisa digantikan dengan sampai atau hingga. Misalnya:

“Aku bekerja sampai malam.”
“Ia menunggu hingga hujan berhenti.”

Penggunaan sampai dengan dalam konteks ini bisa terdengar terlalu kaku. Menurut Kridalaksana (2009), pemilihan kata (diksi) harus menyesuaikan situasi komunikasi agar tetap efektif. Oleh sebab itu, penulis kreatif sebaiknya menyesuaikan gaya bahasanya agar tidak terkesan formal berlebihan.

Kesalahan Umum dalam Penulisan Sampai dengan

Kesalahan penulisan sampai dengan banyak ditemukan, baik dalam dokumen resmi maupun karya tulis ilmiah. Berikut beberapa kesalahan yang sering muncul:

  1. Menulis bentuk gabungan “sampaingga” atau “sampaidengan” – kesalahan ini terjadi karena ketidaktahuan bahwa sampai dengan terdiri dari dua kata yang harus dipisahkan.
  2. Menggunakan singkatan “s/d” dalam teks utama – singkatan ini hanya boleh dipakai dalam tabel atau daftar, bukan dalam paragraf naratif.
  3. Menempatkan frasa pada posisi yang tidak logis dalam kalimat, misalnya:
    Sampai dengan pukul 10.00 rapat diadakan.
    Rapat diadakan sampai dengan pukul 10.00.

Kesalahan-kesalahan ini tidak hanya mengurangi kejelasan makna, tetapi juga mengganggu kredibilitas tulisan. Penulis yang baik harus memperhatikan struktur kalimat dan konsistensi bentuk sesuai kaidah kebahasaan.

Penggunaan Sampai dengan

Konteks berperan besar dalam menentukan penggunaan frasa sampai dengan. Dalam bahasa fungsional, seperti yang dijelaskan Halliday (1994), struktur bahasa dipilih berdasarkan fungsi sosial dan konteks situasi. Artinya, penulis harus memahami untuk siapa dan dalam situasi apa ia menulis.

Dalam konteks formal—misalnya surat keputusan, laporan penelitian, atau peraturan pemerintah—sampai dengan menunjukkan kehati-hatian dan ketepatan bahasa. Sedangkan dalam konteks santai seperti percakapan media sosial, sampai atau hingga lebih cocok karena lebih ringkas dan komunikatif.

Dengan demikian, penggunaan sampai dengan tidak bersifat kaku, tetapi bergantung pada konteks komunikasi dan tujuan penulisan.

Panduan Penulisan Sampai dengan

Agar penggunaan sampai dengan konsisten dan benar, penulis dapat mengikuti panduan berikut:

  1. Gunakan sampai dengan untuk menunjukkan batas waktu atau tempat dalam konteks formal.
  2. Tulis secara terpisah antara kata sampai dan dengan.
  3. Hindari penggunaan singkatan s/d dalam kalimat naratif.
  4. Gunakan sampai atau hingga untuk teks nonformal agar kalimat lebih natural.
  5. Pastikan posisi frasa dalam kalimat tidak mengganggu kejelasan makna.

Panduan sederhana ini akan membantu penulis menyesuaikan diksi sesuai konteks tanpa melanggar kaidah bahasa Indonesia.

Keterkaitan Penulisan Sampai dengan dengan Gaya Bahasa Formal

Selain aspek gramatikal, penulisan sampai dengan juga memengaruhi gaya dan kesan sebuah teks. Penggunaan frasa ini dalam teks formal mencerminkan ketelitian, kejelasan, dan kesadaran terhadap norma bahasa baku. Sebagaimana dikemukakan oleh Moeliono (2017), gaya bahasa formal berorientasi pada kejelasan dan keseragaman, bukan pada ekspresi emosional.

Karena itu, penulis yang terbiasa menggunakan bentuk baku seperti sampai dengan menunjukkan profesionalisme dan penghormatan terhadap kaidah bahasa nasional. Kebiasaan ini juga memperkuat karakter akademis dan administratif sebuah teks.

Kesimpulan

Penulisan sampai dengan yang benar sesuai kaidah bahasa Indonesia mencerminkan kemampuan penulis memahami sistem preposisi dalam bahasa secara mendalam. Frasa sampai dengan berfungsi sebagai preposisi majemuk untuk menunjukkan batas waktu, tempat, atau jumlah dalam konteks formal. Penggunaannya lebih tepat dibandingkan sampai atau hingga ketika penulis ingin menjaga kejelasan dan tingkat keformalan tulisan.

Dengan memahami pengertian, unsur, fungsi, serta perbedaannya dari bentuk lain, penulis dapat menyesuaikan pilihan kata dengan konteks komunikasi. Kesalahan umum seperti penulisan yang tidak terpisah, penggunaan singkatan s/d dalam teks utama, atau penempatan yang tidak logis dapat dihindari dengan memperhatikan pedoman PUEBI dan referensi tata bahasa baku.

Pada akhirnya, kemampuan menulis sampai dengan secara benar bukan hanya soal teknis, tetapi juga cerminan kecermatan dan sikap hormat terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu dan komunikasi resmi. Dengan menerapkan prinsip ini secara konsisten, penulis dapat menghasilkan tulisan yang lebih jelas, efektif, dan profesional hingga akhir proses penulisan sampai dengan penerbitannya.