Profesor Bagus Muljadi: Pendidikan sebagai Penempa Jiwa dan Pencipta Narasi Kebangsaan

Dalam Artikel Ini

1. Pendidikan yang Melampaui Kurikulum

Bagus Muljadi sering menekankan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia bukanlah pada kurikulum yang berubah-ubah, fasilitas yang kurang, atau bahkan IPK mahasiswa, melainkan pada ketiadaan narasi pendidikan yang kuat dan tunggal.

A. Narasi Pendidikan vs. Sekadar Program

Menurutnya, narasi adalah visi besar, filosofi, dan tujuan kolektif yang menjawab pertanyaan fundamental: “Apa yang ingin diciptakan oleh bangsa ini melalui pendidikannya?”

Jika narasi ini tidak ada, pendidikan hanya akan menjadi serangkaian program dan prosedur yang terputus-putus. Ketika narasi tidak solid, yang terjadi adalah:

  • Fokus pada Gelar: Institusi akademik menjadi “haus title akademik” dan rankings internasional, alih-alih fokus pada penciptaan pengetahuan dan pemecahan masalah.
  • Komodifikasi Pendidikan: Pendidikan disamakan dengan transaksi barang dan jasa. Mahasiswa menjadi “konsumen” yang hanya menuntut ijazah sebagai ticket masuk dunia kerja, bukan menuntut kemampuan berpikir kritis dan kontribusi.

“Tanpa Narasi Pendidikan yang Kuat, Bangsa Ini Akan Cepat Punah. Kita tidak tahu harus menciptakan orang seperti apa 50 tahun dari sekarang.” (Dikutip dari YouTube CakNun.com/KenduriCinta)

Bagus menggarisbawahi, kepunahan yang ia maksud bukanlah kepunahan fisik. Melainkan, kepunahan identitas dan kepunahan kemampuan untuk memprediksi dan merancang masa depan sebagai bangsa yang besar.

B. Pendidikan Bukanlah Produsen Tenaga Kerja

Bagus Muljadi menentang keras pandangan bahwa fungsi utama universitas adalah mencetak tenaga kerja siap pakai. Ia berargumen bahwa pandangan ini mereduksi potensi manusia dan membatasi peran universitas.

Fungsi utama pendidikan tinggi, adalah menjadi fasilitator pembelajaran yang mengembangkan elemen kemanusiaan mahasiswa. Di antaranya, kemampuan berpikir liar, kreatif, dan kritis. Ia mendorong kurikulum agar tidak hanya fokus pada skill teknis. Tetapi lebih memperhatikan etika, budaya, dan pemahaman yang mendalam tentang kemanusiaan.

2. Tantangan dan Kritik terhadap Ekosistem Pendidikan Indonesia

Sebagai ilmuwan diaspora yang bekerja di institusi egaliter, Bagus memberikan kritik konstruktif terhadap beberapa masalah struktural dalam ekosistem akademik Indonesia.

A. Bahaya Konformitas dan Keterbatasan Berpikir Liar

Bagus percaya bahwa Indonesia bisa mencetak ilmuwan terbaik dunia. Namun, ia melihat adanya hambatan berupa konformitas. Yakni, kecenderungan masyarakat dan sistem untuk menolak atau menekan pemikiran yang liar atau antitetikal (bertentangan dengan arus utama).

“Orang yang berpikir liar itulah yang berhasil. Kita melihat Albert Einstein misalnya, itu orang yang sangat berpikir liar.” (Dikutip dari Good News From Indonesia).

Ia menyarankan mahasiswa dan akademisi untuk gagallah segagal-gagalnya saat di kampus, dan berpikirlah seliar-liarnya. Sebab, kampus adalah masa istimewa di mana masyarakat tidak menuntut pertanggungjawaban mutlak atas kegagalan berpikir. Kekuatan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat adalah kuncinya. Namun, hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang berpengetahuan luas dan berpikir liar. Kemampuan ini menurutnya, jauh lebih penting daripada kemampuan menghafal jawaban.

B. Struktur Hirarki dan “Haus Gelar”

Bagus Muljadi mengkritik struktur akademik di Indonesia yang masih sangat hirarkis. Ia menyebut akademisi Indonesia haus title akademik dan terlalu terbelenggu oleh jenjang jabatan dan gelar.

  • Dampak Hirarki: Struktur ini menghambat kolaborasi. Dosen senior enggan berkolaborasi dengan junior atau mahasiswa karena merasa ada jarak hierarki.
  • Kurangnya Interdisipliner: Ia jarang melihat pertukaran pengetahuan yang sesungguhnya antar-institusi atau antar-departemen di Indonesia. Padahal, dunia riset modern menuntut kolaborasi lintas keilmuan (interdisipliner) sebagai kunci pemecahan masalah global.

C. Riset Indonesia Masih Kalah Populer dari Kuliner

Bagus dengan tajam menyindir bahwa Indonesia masih lebih dikenal dunia karena makanan dan pariwisatanya. Aktivitas riset pendidikan atau kontribusi keilmuannya justru tidak menarik dan cenderung terabaikan.

Hal ini menjadi refleksi pahit bahwa pemerintah, industri, dan masyarakat global belum melihat insentif yang kuat untuk berkolaborasi dengan Indonesia di bidang riset. Ya, kecuali jika riset tersebut memberikan potensi ekonomi (misalnya geo-energy atau sumber daya alam).

Paket Konversi Buku

3. Jalan Keluar: Ajaran Leluhur dan Kebangkitan Epistemologi

Visi Bagus Muljadi tidak berhenti pada kritik. Ia menawarkan solusi yang mengakar kuat pada identitas bangsa: menggali kembali potensi lokal dan ajaran leluhur sebagai basis narasi pendidikan yang unik.

A. Kembali ke Ajaran Leluhur dan Pengetahuan Lokal

Bagus sering membahas pentingnya menggali Ajaran Leluhur Nusantara. Yakni, merujuk pada pengetahuan lokal yang belum dipatenkan. Ia percaya bahwa di dalam kearifan lokal terdapat kekayaan epistemologi dan sistem pengetahuan yang bisa menjadi basis narasi pendidikan yang otentik. Bukan sekadar menjiplak narasi Barat.

Dengan menjadikan local wisdom sebagai bahan bakar riset, Indonesia dapat membangun narasi yang unik dan memiliki daya tawar yang otentik di panggung dunia.

B. Mendorong Mental Toughness (Ketahanan Mental)

Bagus menyarankan mahasiswa untuk membangun Ketahanan Mental (Mental Toughness). Ia melihat bahwa kecemerlangan kognitif orang Indonesia tidak kalah dari mahasiswa internasional. Namun, ketahanan mental di bawah tekanan adalah pembeda utama.

“Lebih baik dihukum saat di kampus daripada dihukum di dunia kerja. Lebih baik dimarahin orang tua daripada dimarahin bos. Kampus itu masa paling indah karena masyarakat tidak menuntut pertanggungjawaban Anda. Maka gagallah segagal-gagalnya.” (Kata Bagus Kepada Mahasiswa IPB/Blitar Kawentar).

Ia mengubah pandangan tentang kegagalan: gagal di kampus adalah hak istimewa untuk belajar dan membangun ketahanan. Kemampuan untuk belajar terus-menerus dan ketahanan mental, bukan IPK, adalah penentu kesuksesan jangka panjang.

C. Peran Diaspora dalam Membangun Jembatan Riset

Melalui UKICIS, Bagus membuktikan bahwa narasi pendidikan juga harus melibatkan kontribusi nyata dari diaspora. Ia memfasilitasi kolaborasi interdisipliner antara Inggris dan Indonesia, memastikan bahwa pengetahuan dan standar riset kelas dunia dapat tumbuh secara berkelanjutan di Tanah Air.

4. Saatnya Pendidikan Menciptakan Makna

Pemikiran Bagus Muljadi adalah seruan keras bagi Indonesia untuk berhenti hidup dalam kebahagiaan semu yang didikte oleh media populer (mengejar uang, title, dan like). Ia mendesak sistem pendidikan untuk bergeser dari sekadar mencetak employee menjadi mencetak warga negara yang bebas berpikir dan memiliki makna hidup.

Kisah hidupnya adalah cerminan dari filosofi ini: seorang anak Betawi dengan IPK 2,69 yang menolak didikte oleh angka dan berani berpikir liar. Ia kini berhasul membangun narasi dirinya sendiri sebagai ilmuwan kelas dunia.

Narasi pendidikan yang kuat akan memastikan bangsa ini tahu tujuan akhirnya, dan ilmuwan seperti Bagus Muljadi akan menjadi arsitek yang merancang masa depan tersebut