Tanda Kurung: Fungsi dan Aturan Penggunaan dalam Tulisan

Dalam Artikel Ini

Tanda kurung merupakan salah satu tanda baca yang memiliki fungsi penting dalam penyusunan kalimat tertulis. Penggunaan tanda kurung tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis tata tulis, tetapi juga mencerminkan ketelitian dan kejelasan penulis dalam mengomunikasikan gagasannya. Dalam tulisan resmi, seperti karya ilmiah, laporan akademik, atau surat dinas, penggunaan tanda kurung yang tepat dapat membantu pembaca memahami informasi tambahan tanpa mengubah makna utama kalimat.

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) (Kemendikbud, 2022), tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan atau penjelasan tambahan yang tidak menjadi bagian utama kalimat. Dengan kata lain, tanda kurung berfungsi untuk menampung informasi sekunder yang memperkaya teks. Oleh karena itu, memahami fungsi dan aturan penggunaan tanda kurung menjadi keterampilan penting dalam kegiatan menulis yang sesuai kaidah bahasa baku.

Pengertian Tanda Kurung 

Sebelum membahas fungsi dan aturannya, penting untuk memahami pengertian tanda kurung dari berbagai sumber. Alwi dkk. (2010) dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa tanda kurung adalah tanda baca yang mengapit tambahan keterangan dalam kalimat, bisa dihapus tanpa mengubah struktur pokok. Sedangkan Keraf (2004:261) menyebut tanda kurung sebagai tanda baca yang memisahkan informasi sampingan dari ide pokok agar pembaca tidak mencampurkan keduanya.

Dalam pandangan linguistik pragmatis, tanda kurung juga berfungsi sebagai alat untuk memberi metainformasi, yaitu informasi tentang informasi. Misalnya, ketika penulis menambahkan keterangan singkat, catatan penjelasan, atau sumber data dalam teks utama, tanda kurung berperan menjaga keutuhan struktur sintaksis kalimat tanpa menimbulkan ambiguitas.

Dengan demikian, pengertian tanda kurung yakni sebagai tanda baca berbentuk pasangan lengkung ( ) yang digunakan untuk mengapit keterangan tambahan, penjelasan, singkatan, sumber, atau unsur lain yang bersifat pelengkap.

Paket Penerbitan Buku

Jenis-Jenis Tanda Kurung dan Fungsinya

Dalam bahasa Indonesia, tanda kurung memiliki beberapa jenis dengan fungsi yang berbeda. PUEBI (Kemendikbud, 2022) mengelompokkan tanda kurung menjadi empat bentuk utama, yaitu tanda kurung biasa ( ), tanda kurung siku [ ], tanda kurung kurawal { }, dan tanda kurung sudut ⟨ ⟩. Masing-masing jenis memiliki konteks penggunaan tersendiri dalam tulisan resmi.

1. Tanda Kurung Biasa ( )

Tanda kurung biasa merupakan jenis yang paling sering terpakai. Fungsinya antara lain:

  1. Mengapit keterangan tambahan yang menjelaskan unsur di luar pokok kalimat.
    Contoh:
    Mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada) mengikuti kegiatan pengabdian di Kulon Progo.
  2. Untuk mengapit singkatan atau kepanjangan suatu istilah.
    Contoh:
    Anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) menghadiri rapat paripurna. 
  3. Bisa juga untuk mengapit angka atau huruf yang menandai urutan rincian.
    Contoh:
    Langkah penelitian ini meliputi (1) pengumpulan data, (2) analisis, dan (3) penyajian hasil.
  4. Untuk mengapit tahun kelahiran dan kematian tokoh.
    Contoh:
    Chairil Anwar (1922–1949) dikenal sebagai pelopor puisi modern Indonesia.

Dalam konteks akademik, tanda kurung biasa juga bisa untuk mencantumkan sumber kutipan singkat, misalnya (Keraf, 2004) atau (Alwi dkk., 2010).

2. Tanda Kurung Siku [ ]

Tanda kurung siku bisa untuk mengapit keterangan tambahan di dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda kurung biasa.
Contoh:
Raka menulis dalam jurnalnya (lihat data lapangan [Lampiran 3]) hasil observasi selama dua minggu.

Selain itu, kurung siku juga berfungsi untuk menunjukkan perubahan dalam kutipan langsung.
Contoh:
“Bahasa itu adalah sistem tanda [yang arbitrer] yang digunakan manusia untuk berkomunikasi,” (Kridalaksana, 2008).

Dalam hal ini, tanda kurung siku membantu penulis memberi klarifikasi atau menyesuaikan bentuk kutipan agar sesuai konteks kalimat.

3. Tanda Kurung Kurawal { }

Pemanfaatan tanda kurung kurawal untuk konteks teknis, seperti linguistik, logika, atau pemrograman komputer. Dalam linguistik, tanda kurung kurawal berfungsi untuk mengelompokkan unsur-unsur alternatif dalam suatu satuan.
Contoh:
Kata “ber-” dapat diikuti oleh bentuk dasar {ajar, kerja, laku}.

Dalam penulisan akademik, tanda kurung kurawal jarang muncul kecuali dalam konteks formal tertentu seperti penyajian data fonetik atau morfem alternatif.

4. Tanda Kurung Sudut ⟨ ⟩

Kurung sudut pemanfaatannya bisa  dalam bidang linguistik dan filologi. Tanda ini mengapit lambang fonem, morfem, atau bentuk transkripsi tertentu.
Contoh:
Pelambangan fonem /p/ dalam bahasa Indonesia menggunakan dengan huruf ⟨p⟩.

Tanda kurung sudut memperjelas bahwa unsur yang itu bukan bagian dari teks biasa, melainkan simbol atau bentuk khusus.

Paket Konversi Buku

Aturan Penggunaan Tanda Kurung dalam Tulisan Resmi

Agar penggunaan tanda kurung sesuai dengan kaidah bahasa baku, beberapa aturan penting perlu diperhatikan. Menurut PUEBI (Kemendikbud, 2022) dan Hasan Alwi dkk. (2010), tanda kurung memiliki aturan sebagai berikut:

  1. Pengapitan tanpa spasi dengan tanda kurung.
    Contoh benar: (2025) bukan ( 2025 ).
  2. Jika tanda kurung mengapit seluruh kalimat, titik terletak di dalam tanda kurung.
    Contoh: (Kegiatan penelitian selesai pada bulan Juni.)
  3. Jika tanda kurung hanya mengapit sebagian kalimat, tanda titik terletak di luar tanda kurung.
    Contoh: Penelitian ini dilakukan di Yogyakarta (pada bulan Juni).
  4. Jangan menggunakan tanda kurung berlebihan.
    Penggunaan tanda kurung yang terlalu sering dapat mengganggu keterbacaan teks dan menunjukkan struktur kalimat yang kurang efektif.
  5. Konsisten dalam penulisan angka urutan dalam tanda kurung.
    Pilih satu bentuk, misalnya (1) atau (a), dan gunakan secara konsisten dalam seluruh teks.

Aturan ini penting untuk menjaga kejelasan dan estetika naskah, terutama dalam tulisan akademik yang menuntut ketelitian.

Kesalahan Umum dalam Penggunaan Tanda Kurung

Meskipun tampak sederhana, penggunaan tanda kurung sering menimbulkan kesalahan dalam tulisan formal. Beberapa kesalahan umum antara lain:

  1. Mengapit keterangan utama, bukan tambahan.
    Contoh salah: (Pelaksanaan penelitian ini untuk mengetahui dampak penggunaan media digital).
    Seharusnya: Pelaksanaan penelitian ini untuk mengetahui dampak penggunaan media digital.
  2. Menempatkan tanda kurung ganda secara tidak logis.
    Contoh salah: (Mahasiswa (UGM)) mengikuti pelatihan.
    Seharusnya: Mahasiswa UGM mengikuti pelatihan.
  3. Menggunakan tanda kurung sebagai pengganti koma atau tanda baca lain.
    Contoh salah: Mahasiswa (yang berasal dari luar kota) perlu asrama.
    Seharusnya: Mahasiswa yang berasal dari luar kota perlu asrama.

Kesalahan semacam ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap fungsi sintaksis tanda kurung, padahal tanda kurung tidak boleh mengubah struktur utama kalimat.

Contoh Penggunaan Tanda Kurung dalam Konteks Nyata

Untuk memperjelas fungsi dan aturan di atas, berikut beberapa contoh penerapan tanda kurung dalam berbagai konteks tulisan resmi:

  1. Dalam karya ilmiah:
    Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar sebesar 20% (lihat Tabel 4).
  2. Dalam laporan kegiatan:
    Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh 150 peserta (guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan).
  3. Dalam surat resmi:
    Kami mohon Bapak hadir dalam rapat koordinasi (Rakor) pada tanggal 21 Oktober 2025.
  4. Dalam penulisan biografi:
    R. A. Kartini (1879–1904) dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita Indonesia.
  5. Dalam teks hukum atau administrasi:
    Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan (Yogyakarta, 1 Januari 2025).

Contoh-contoh tersebut memperlihatkan fleksibilitas penggunaan tanda kurung untuk berbagai keperluan tanpa mengubah makna utama kalimat.

Peran Tanda Kurung dalam Kejelasan dan Efisiensi Tulisan

Tanda kurung berperan penting dalam menjaga kejelasan informasi. Keraf (2004) menegaskan bahwa efisiensi bahasa tercapai ketika penulis mampu menyampaikan pesan secara padat tanpa kehilangan makna. Dalam hal ini, tanda kurung membantu menyisipkan informasi tambahan tanpa memperberat struktur kalimat.

Misalnya, perbandingan antara dua bentuk berikut:

  • Bentuk tanpa tanda kurung: “Peneliti melakukan survei di tiga provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat pada bulan Januari 2025.”
  • Bentuk dengan tanda kurung: “Peneliti melakukan survei di tiga provinsi (Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat) pada bulan Januari 2025.”

Bentuk kedua lebih efisien karena tanda kurung menandai rincian tambahan yang tidak wajib dibaca secara linear. Dengan demikian, tanda kurung meningkatkan kejelasan dan ritme baca.

Hubungan Tanda Kurung dengan Tanda Baca Lain

Penggunaan tanda kurung juga perlu mempertimbangkan hubungan dengan tanda baca lain seperti koma, titik, dan titik dua. Misalnya, tanda koma tidak digunakan sebelum tanda kurung, tetapi boleh digunakan setelahnya jika kalimat berlanjut.
Contoh:
Hasil uji coba (lihat Lampiran 2), menunjukkan adanya perbedaan signifikan.

Sedangkan tanda titik hanya untuk di luar tanda kurung jika tanda kurung tidak mengapit seluruh kalimat. Pemahaman tentang relasi ini penting agar struktur kalimat tetap logis dan mudah dipahami.

Kesimpulan: Menulis Efektif dengan Tanda Kurung yang Tepat

Pemahaman terhadap tanda kurung merupakan bagian penting dari kompetensi menulis formal yang baik. Melalui tanda kurung, penulis dapat menyisipkan keterangan tambahan tanpa mengganggu struktur utama kalimat. Dengan mengikuti aturan dalam PUEBI dan pandangan para ahli bahasa seperti Alwi, Kridalaksana, dan Keraf, penulis dapat menggunakan tanda kurung secara fungsional dan estetis.

Penggunaan tanda kurung yang benar mencerminkan ketelitian, kecermatan berpikir, dan tanggung jawab akademik seorang penulis. Oleh karena itu, setiap penulis profesional sebaiknya memahami fungsi, jenis, dan konteks penggunaan tanda kurung secara mendalam agar hasil tulisannya efektif, komunikatif, dan sesuai kaidah bahasa Indonesia.