Review buku Mereka Hilang Tak Kembali ini menyoroti sebuah karya buku non fiksi terbitan EA Books yang secara berani mendokumentasikan kronik kekerasan negara dan pelanggaran HAM berat selama rezim Orde Baru berkuasa dari tahun 1966 hingga 1998. Tim penulis menyusun arsip sejarah kelam ini secara sistematis untuk melawan amnesia kolektif bangsa, menjadikannya literatur wajib bagi siapa saja yang ingin memahami pola impunitas dan pentingnya merawat ingatan demi masa depan demokrasi Indonesia yang lebih berkeadilan. Buku ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sebuah peringatan keras bahwa ketidakadilan yang tidak kita selesaikan akan terus menghantui perjalanan bangsa di masa depan.
Kita sering mendengar ungkapan bijak yang berbunyi “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya”. Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan hal sebaliknya. Masyarakat Indonesia cenderung memiliki ingatan yang pendek, terutama mengenai peristiwa-peristiwa kelam yang melibatkan tangan besi penguasa. Kita lebih mudah mengingat kejayaan masa lampau daripada mengakui luka-luka kemanusiaan yang belum kering.
Saya baru saja menyelesaikan satu naskah penting yang berhasil menampar kesadaran saya sebagai warga negara. Buku berjudul Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998 ini hadir bukan untuk membuka luka lama demi sensasi, melainkan untuk mencegah infeksi pada luka tersebut karena kita terus menutupinya dengan perban kebohongan. Melalui artikel ini, saya akan mengajak Anda menyelami kedalaman buku ini, membedah isinya, dan merenungkan mengapa karya non fiksi ini sangat layak mendapatkan tempat di rak buku Anda.
Mengapa Review Buku Mereka Hilang Tak Kembali Ini Sangat Krusial?
Membaca review buku Mereka Hilang Tak Kembali memiliki urgensi tersendiri di tengah situasi politik Indonesia yang belakangan ini sering kali memutarbalikkan fakta sejarah. Banyak generasi muda, khususnya Gen Z, yang tidak mengalami masa Orde Baru secara langsung. Mereka hanya mendengar cerita dari orang tua atau guru sejarah yang mungkin saja sudah terdistorsi.
Oleh karena itu, buku ini hadir sebagai jembatan informasi yang valid. Penulis tidak menyajikan fiksi atau karangan bebas, melainkan menyusun data faktual berdasarkan riset arsip yang mendalam. Sebagai sebuah karya buku non fiksi, ia menawarkan kebenaran yang pahit. Anda tidak akan menemukan heroisme palsu di sini. Sebaliknya, Anda akan menemukan deretan fakta tentang bagaimana negara, yang seharusnya melindungi rakyatnya, justru berubah menjadi predator yang memangsa warganya sendiri.
Saya memandang buku ini sebagai “museum ingatan” berbentuk teks. Penulis berhasil merangkum periode 32 tahun yang penuh darah dalam halaman-halaman yang padat. Bagi pembaca yang peduli dengan isu kemanusiaan dan keadilan, ulasan ini akan membantu Anda memahami peta besar kekerasan struktural yang pernah terjadi di tanah air kita.
Menelusuri Lorong Gelap: Struktur dan Substansi Buku
Buku ini merupakan hasil kolaborasi penulis yang terdiri dari Aristayanu Bagus, AS Rimbawana, Deby Hermawan, dan Putro Wasista. Kerja kolektif ini menghasilkan narasi yang kaya dan menyeluruh. Mereka membagi buku ini ke dalam beberapa babak penting yang mengikuti garis waktu (kronologis) kekuasaan Soeharto.
Dari Pembantaian 1965 hingga Konsolidasi Kuasa
Babak awal buku ini membawa pembaca kembali ke titik nol lahirnya Orde Baru. Penulis memaparkan bagaimana transisi kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru memakan tumbal nyawa yang tak terhitung jumlahnya. Peristiwa 1965-1966 menjadi gerbang pembuka banjir darah.
Penulis menjelaskan bagaimana militer menggunakan momen tersebut untuk melakukan pembersihan terhadap orang-orang yang mereka tuduh sebagai komunis atau simpatisannya. Narasi dalam buku ini sangat mencekam karena penulis menyajikan detail bagaimana stigma dan dehumanisasi bekerja. Tetangga membunuh tetangga, dan negara memfasilitasi kekerasan tersebut.
Akan tetapi, buku ini tidak berhenti di tahun 1965. Penulis melanjutkannya dengan membahas bagaimana rezim mengonsolidasikan kekuasaannya dengan memberangus partai politik, mengontrol pers, dan menundukkan mahasiswa. Anda akan melihat pola yang jelas: siapa pun yang berbeda pendapat dengan penguasa, mereka akan hilang atau mati.
Pola Kekerasan yang Terlembaga dan Sistematis
Salah satu kekuatan utama dari buku non fiksi ini adalah kemampuannya menunjukkan pola. Penulis tidak menceritakan peristiwa secara acak. Mereka menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya untuk membuktikan bahwa kekerasan itu bukan insiden (kecelakaan), melainkan desain (sistem).
Contohnya, buku ini membahas secara rinci mengenai Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dan Papua. Penulis menggambarkan bagaimana aparat keamanan menggunakan pendekatan militeristik untuk meredam gejolak daerah, yang berujung pada penderitaan rakyat sipil. Selain itu, ada pembahasan mengenai Petrus (Penembak Misterius) pada era 1980-an.
Opini saya, bagian mengenai Petrus ini adalah salah satu yang paling mengerikan. Penulis menggambarkan bagaimana mayat-mayat bertato ditemukan di pinggir jalan atau sungai setiap pagi sebagai bentuk “terapi kejut” bagi kriminalitas. Negara bertindak sebagai hakim sekaligus eksekutor tanpa proses pengadilan. Membaca bagian ini membuat saya merinding, membayangkan betapa murahnya nyawa manusia saat itu.
Tragedi Tanjung Priok dan Talangsari
Selanjutnya, buku ini juga mengangkat peristiwa Tanjung Priok (1984) dan Talangsari (1989). Penulis menyoroti bagaimana rezim menggunakan label “ekstremis kanan” atau radikalisme agama untuk memberangus kelompok Islam yang kritis.
Narasi dalam buku ini sangat jernih memisahkan antara fakta dan propaganda rezim. Penulis menggunakan sumber-sumber alternatif untuk merekonstruksi kejadian yang sebenarnya, di mana aparat menggunakan kekuatan berlebihan terhadap warga sipil yang bersenjata ala kadarnya.
Gaya Penulisan: Mengalir Namun Menusuk Hati
Sering kali, orang enggan membaca buku non fiksi sejarah karena menganggapnya membosankan dan penuh dengan angka tahun. Namun, review buku Mereka Hilang Tak Kembali ini perlu menegaskan bahwa gaya penulisan buku ini jauh dari kata membosankan.
Tim penulis EA Books berhasil mengemas data sejarah yang kaku menjadi narasi yang mengalir (flowing). Mereka menggunakan teknik penceritaan (storytelling) yang kuat. Kalimat-kalimatnya pendek, lugas, dan punchy. Tidak ada bahasa birokratis yang berbelit-belit.
Misalnya, ketika menceritakan tentang penculikan aktivis 1998, penulis tidak hanya menyajikan statistik. Mereka mengajak pembaca merasakan ketegangan yang para aktivis rasakan saat itu. Rasa takut, cemas, dan ketidakpastian nasib tergambar dengan sangat hidup. Akibatnya, pembaca seolah terseret masuk ke dalam lorong waktu dan menjadi saksi mata bisu atas kekejaman tersebut.
Meskipun demikian, pembaca perlu menyiapkan mental yang kuat. Materi buku ini sangat berat secara emosional. Saya beberapa kali harus berhenti membaca sejenak untuk menarik napas panjang karena merasa sesak dengan fakta-fakta yang tersaji. Ini bukan buku untuk hiburan ringan, ini adalah buku untuk perenungan mendalam.
Relevansi dengan Konteks Indonesia Hari Ini
Mengapa kita harus repot-repot membaca tentang masa lalu? Jawabannya sederhana: karena hantu masa lalu itu masih berkeliaran hari ini. Buku ini menjadi sangat relevan karena banyak aktor politik yang terlibat atau membiarkan kekerasan di masa lalu, kini masih memegang jabatan strategis di pemerintahan.
Dalam review buku Mereka Hilang Tak Kembali ini, saya ingin menekankan bahwa buku ini membantu kita memahami mengapa budaya impunitas (kebal hukum) masih begitu kuat di Indonesia. Pelaku pelanggaran HAM berat masa lalu jarang sekali tersentuh hukum. Bahkan, sejarah sering kali berpihak pada mereka.
Selain itu, buku ini juga relevan bagi gerakan masyarakat sipil masa kini, seperti Aksi Kamisan. Keluarga korban yang berdiri di depan istana negara setiap hari Kamis adalah bukti hidup bahwa kasus-kasus dalam buku ini belum selesai. Membaca buku ini adalah bentuk solidaritas kita kepada mereka. Kita menyatakan bahwa “kami menolak lupa” dan “kami bersama korban”.
Kelebihan dan Kekurangan: Sebuah Penilaian Objektif
Sebagai pengulas yang objektif, saya melihat buku ini memiliki banyak keunggulan, namun juga memiliki sedikit celah yang bisa menjadi catatan.
Kelebihan Utama
-
Riset yang Komprehensif: Penulis melakukan pekerjaan rumah mereka dengan sangat baik. Referensi yang mereka gunakan sangat kaya, mulai dari laporan investigasi, kliping koran lama, hingga wawancara.
-
Sudut Pandang Korban: Buku ini berpihak pada korban. Penulis memberikan ruang bagi suara-suara yang selama ini terbungkam oleh narasi resmi negara.
-
Desain dan Tata Letak: Khas terbitan EA Books, buku ini memiliki sampul yang estetis dan tata letak yang nyaman di mata, sehingga tidak melelahkan untuk kita baca dalam durasi lama.
Tantangan bagi Pembaca
Sebaliknya, ada satu hal yang mungkin menjadi tantangan. Karena cakupan waktunya sangat panjang (32 tahun), beberapa peristiwa mungkin terasa dibahas terlalu cepat atau kurang mendalam bagi pembaca yang ingin studi kasus spesifik. Buku ini lebih berfungsi sebagai kronik atau rangkuman besar.
Namun, hal ini justru memicu pembaca untuk mencari literatur pendamping lainnya jika ingin mendalami satu kasus tertentu, misalnya mencari buku khusus tentang Tragedi 1965 atau khusus tentang Marsinah.
Pentingnya Non Fiksi dalam Membangun Nalar Kritis
Di tengah gempuran informasi hoaks dan post-truth, buku non fiksi seperti ini adalah oase. Ia melatih nalar kritis kita. Kita belajar untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang berasal dari penguasa. Kita belajar untuk selalu bertanya, “Apakah ini kebenarannya? Atau ada versi lain yang disembunyikan?”
Masyarakat Indonesia membutuhkan lebih banyak buku semacam ini. Kita perlu memperbanyak literasi yang berani menggugat kemapanan dan membongkar kebobrokan. Hanya dengan cara itulah kita bisa mendewasakan demokrasi kita. Jika kita terus-menerus membiarkan sejarah dimanipulasi, maka kita sedang mewariskan kebodohan kepada generasi anak cucu kita.
Sebuah Peringatan untuk Generasi Mendatang
Menutup review buku Mereka Hilang Tak Kembali ini, saya memberikan rekomendasi penuh kepada Anda untuk membacanya. Buku ini adalah monumen ingatan yang penting. Aristayanu Bagus dan kawan-kawan telah berhasil menyusun sebuah dakwaan sejarah yang tak terbantahkan terhadap rezim otoriter.
Buku ini mengajarkan kita bahwa kekuasaan yang tidak terbatas akan selalu cenderung korup dan menindas. “Mereka hilang tak kembali” bukan hanya judul, melainkan fakta menyakitkan tentang Wiji Thukul, Petrus Bima Anugrah, dan ribuan nama lain yang hingga kini tidak diketahui rimbanya.
Membaca buku ini adalah langkah kecil untuk merawat kewarasan. Jangan biarkan pengorbanan mereka sia-sia hanya karena kita malas membaca sejarah. Segera dapatkan buku ini, bacalah dengan hati terbuka, dan biarkan isinya membakar semangat Anda untuk terus menyuarakan kebenaran.
Mari kita pastikan bahwa slogan “Menolak Lupa” bukan sekadar kata-kata kosong di kaos oblong, melainkan manifestasi dari pengetahuan sejarah yang kita miliki.

Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998
Orde Baru sering dikenang sebagai era stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. Namun di balik retorika itu, sejarah mencatat deretan tragedi berdarah yang menelan korban jiwa, menghancurkan kehidupan, dan meninggalkan trauma panjang.
Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966–1998 menyajikan peta kronologis kekerasan negara selama lebih dari tiga dekade rezim Soeharto. Dari pembantaian massal 1965–1966, Malari 1974, Petrus 1980-an, Tanjung Priok 1984, Talangsari 1989, hingga Kudatuli, penculikan aktivis, dan tragedi Mei 1998 — buku ini menunjukkan pola impunitas yang terus berulang.
Ditulis dengan gaya populer-kritis, buku ini menggabungkan riset arsip, laporan Komnas HAM, dan kesaksian korban menjadi narasi yang mudah diikuti pembaca umum. Tidak seberat karya akademis murni, namun tetap menyajikan data kredibel yang menjadikannya rujukan penting.
Lebih dari sekadar catatan sejarah, Mereka Hilang Tak Kembali adalah ajakan untuk menolak lupa. Ia menghadirkan kembali suara korban dan menyuarakan peringatan: kekerasan politik bisa terulang jika ingatan kolektif dihapus.
Dapatkan versi originalnya di sini atau bukumojok.com





