Dalam penulisan bahasa Indonesia formal, banyak penulis yang masih keliru memahami cara menulis singkatan atau tanda rentang waktu dan tempat. Salah satu bentuk yang sering membingungkan adalah penulisan “s.d”. Padahal, penulisan s.d memiliki aturan baku yang tercantum dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Pengetahuan ini sangat penting, terutama bagi mereka yang berkecimpung di dunia akademik, administrasi, maupun penulisan profesional. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai pengertian, fungsi, aturan, dan contoh penggunaan penulisan s.d yang benar sesuai EYD, serta kutipan dari berbagai sumber dan ahli bahasa Indonesia.
Pengertian dan Makna Penulisan s.d
Sebelum membahas lebih jauh tentang aturan penggunaannya, kita perlu memahami terlebih dahulu apa arti dari singkatan s.d. Dalam kaidah bahasa Indonesia, s.d merupakan singkatan dari “sampai dengan”, yang berfungsi sebagai penanda rentang waktu, tempat, atau nilai tertentu.
Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI, 2022), singkatan adalah bentuk pemendekan yang terdiri atas huruf-huruf awal dari kata atau gabungan kata yang ditulis dengan tanda titik di belakang setiap hurufnya. Berdasarkan pedoman ini, bentuk yang benar untuk singkatan “sampai dengan” adalah s.d. (dengan titik di akhir huruf terakhir).
Namun, dalam praktik modern, tanda titik di akhir singkatan terakhir harusnya terhapus ketika singkatan berada di tengah kalimat. Meskipun begitu, penulisan resmi yang dianjurkan tetap menggunakan dua titik, seperti pada bentuk “s.d.”.
Gorys Keraf dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa (2004) menjelaskan bahwa penulisan singkatan memiliki peran penting dalam menjaga efisiensi komunikasi tertulis tanpa mengorbankan kejelasan makna. Oleh karena itu, penulisan s.d tidak sekadar teknis, tetapi juga bagian dari tata tulis ilmiah yang mengedepankan ketelitian.
Fungsi Penulisan s.d dalam Kalimat
Fungsi utama penulisan s.d adalah menunjukkan batas awal dan akhir suatu rentang. Bentuk ini sering digunakan dalam penulisan tanggal, jam, nilai, atau wilayah administratif. Misalnya:
- Kegiatan berlangsung pada 1 s.d 3 Juni 2024.
- Ruas jalan dari Jakarta s.d Surabaya mengalami peningkatan volume lalu lintas.
- Hasil tes berada pada kisaran 70 s.d 90 poin.
Dalam ketiga contoh tersebut, penulisan s.d berfungsi untuk menghubungkan dua batas yang membentuk suatu interval. Menurut Ramlan (2001) dalam Sintaksis Bahasa Indonesia, struktur bahasa seperti ini memiliki fungsi konjungtif, yaitu menghubungkan dua unsur dengan hubungan makna kesinambungan.
Dengan demikian, penulisan s.d tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga semantis, karena membantu pembaca memahami hubungan antara dua titik dalam konteks waktu, tempat, atau nilai.
Aturan Penulisan s.d Berdasarkan EYD dan PUEBI
Menurut PUEBI Edisi Terbaru (2022), aturan umum dalam menulis singkatan seperti s.d adalah:
- Tiap huruf diikuti oleh tanda titik (.)
Contoh: s.d. berasal dari “sampai dengan”. - Tidak ada spasi antara huruf dan titik
Bentuk seperti s. d. adalah salah, karena menyisipkan jarak yang tidak diperlukan. - Gunakan tanda titik hanya di akhir huruf terakhir jika singkatan berada di akhir kalimat
Contoh: Kegiatan berlangsung 1 s.d. 3 Mei 2024. - Tidak diikuti tanda hubung atau tanda baca lain secara langsung
Karena s.d sendiri sudah berfungsi sebagai penghubung, maka tidak boleh ditulis seperti 1 s.d-3 Mei 2024.
Dengan mengikuti aturan ini, penulis dapat menjaga kesesuaian teks dengan standar kebahasaan yang ditetapkan oleh lembaga resmi.
Perbedaan s.d dan sampai dengan dalam Kalimat
Banyak penulis menggunakan bentuk “sampai dengan” secara penuh dalam kalimat, padahal maknanya sama dengan singkatan s.d. Perbedaan utamanya terletak pada tingkat formalitas dan efisiensi.
- Bentuk lengkap sampai dengan lebih umum dipakai dalam surat resmi, laporan akademik, atau teks hukum.
- Sementara bentuk singkatan s.d lebih praktis digunakan dalam tabel, daftar, jadwal, atau naskah administratif.
Misalnya:
- Dalam surat resmi: Program ini dilaksanakan dari tanggal 5 sampai dengan 9 Februari 2024.
- Dalam tabel laporan: Periode kegiatan: 5 s.d 9 Februari 2024.
Menurut Kridalaksana (2008) dalam Kamus Linguistik, bentuk singkatan muncul sebagai hasil dari kebutuhan untuk menyingkat komunikasi tertulis tanpa mengubah makna dasar. Maka, pemilihan antara s.d dan sampai dengan tergantung pada konteks kebahasaan dan gaya dokumen.
Kesalahan Umum dalam Penulisan s.d
Meskipun terlihat sederhana, kesalahan dalam menulis s.d cukup sering terjadi. Beberapa kesalahan itu antara lain:
- Penulisan tanpa titik: sd
- Penulisan dengan spasi berlebihan: s. d.
- Penulisan dengan tanda hubung atau garis miring: 1/3 Juni 2024 alih-alih 1 s.d 3 Juni 2024.
- Penulisan huruf kapital yang tidak perlu: S.D.
Kesalahan seperti ini tampak sepele, tetapi dapat mengurangi kesan profesional dalam dokumen resmi. Dalam konteks akademik, kesalahan kecil pada format seperti ini sering menjadi catatan dalam pemeriksaan layout atau formatting naskah.
Seperti penjelasan Moeliono dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2017), konsistensi dalam penulisan ejaan menunjukkan kedisiplinan berpikir dan menghormati sistem bahasa yang berlaku.
Penulisan s.d dalam Konteks Waktu
Bentuk paling umum dari penulisan s.d adalah untuk menyatakan rentang waktu. Dalam hal ini, ada beberapa contoh yang bisa dijadikan acuan:
- Pendaftaran dibuka 1 s.d 10 Maret 2025.
- Rapat diadakan pukul 09.00 s.d 12.00.
- Masa berlaku izin dari 2020 s.d 2025.
Menurut Pedoman Penulisan Surat Dinas (Kementerian Sekretariat Negara, 2020), bentuk ini bisa lebih sering ditulis karena lebih ringkas daripada menulis “dari … sampai dengan …”. Selain itu, format ini membantu menjaga keseragaman dalam dokumen administratif yang memerlukan keterbacaan tinggi.
Namun, dalam karya sastra atau narasi nonformal, penulis biasanya tetap menggunakan bentuk lengkap “sampai dengan” agar teks lebih alami dan mengalir.
Penulisan s.d dalam Konteks Tempat
Selain untuk waktu, penulisan s.d juga menunjukkan rentang lokasi atau wilayah. Misalnya:
- Jalur pengiriman mencakup Surabaya s.d Makassar.
- Proyek pembangunan dilakukan dari kilometer 5 s.d kilometer 12.
Dalam konteks ini, s.d berfungsi menggantikan kata penghubung dari … sampai dengan … agar kalimat lebih padat. Bentuk ini biasanya terdapat dalam laporan perjalanan dinas, laporan teknis, atau peta wilayah proyek.
Sebagaimana dijelaskan oleh Alwi dkk. (2014) dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, struktur penghubung seperti s.d termasuk dalam kategori preposisi kompleks yang menghubungkan dua unsur nomina dengan makna batasan lokasi.
Penulisan s.d dalam Konteks Nilai dan Data
Dalam bidang akademik, penelitian, dan administrasi, penulisan s.d juga untuk menyatakan rentang angka, skor, atau nilai statistik. Contohnya:
- Nilai ujian peserta berkisar antara 75 s.d 90.
- Usia responden penelitian 20 s.d 45 tahun.
- Data dikumpulkan selama suhu 25 s.d 30 derajat Celsius.
Penulisan ini tidak hanya memperjelas batas data, tetapi juga menunjukkan presisi ilmiah. Dalam laporan penelitian, penggunaan s.d memudahkan pembaca memahami interval tanpa perlu menulis kata penghubung yang panjang.
Chaer (2012) dalam Linguistik Umum menekankan bahwa efisiensi bahasa dalam penulisan ilmiah merupakan bentuk ekonomi linguistik, yaitu upaya menyampaikan makna selengkap mungkin dengan struktur sesingkat mungkin.
Konsistensi dan Ketelitian dalam Penulisan s.d
Salah satu aspek penting yang sering luput dalam penulisan s.d adalah konsistensi. Dalam satu dokumen, bentuk singkatan ini sebaiknya terulis secara seragam. Jika pada awal laporan tertulis dengan bentuk s.d, maka seluruh laporan tidak boleh berganti menjadi sampai dengan atau bentuk lainnya tanpa alasan kontekstual.
Ketidakkonsistenan seperti ini bisa mengurangi kredibilitas tulisan, terutama dalam naskah ilmiah atau administrasi pemerintahan. Penulis perlu memahami bahwa bahasa yang baku mencerminkan profesionalitas.
Keraf (2007) menyebut konsistensi sebagai salah satu pilar utama kejelasan komunikasi tertulis. Bahasa yang tidak konsisten akan melemahkan logika teks dan menciptakan kebingungan bagi pembaca.
Kapan Sebaiknya Menggunakan Bentuk Lengkap “Sampai dengan”?
Bentuk lengkap sampai dengan lebih sesuai dalam konteks formal dan naratif panjang, khususnya dalam kalimat yang membutuhkan kejelasan struktur. Misalnya dalam peraturan perundangan, surat keputusan, atau laporan hukum.
Contoh:
“Masa jabatan anggota dewan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2025 sampai dengan 31 Desember 2029.”
Sementara bentuk singkatan s.d lebih praktis digunakan dalam format tabel, catatan kaki, daftar kegiatan, dan laporan singkat.
Pemilihan antara keduanya bukan soal benar atau salah, melainkan soal konteks. Namun, tetap penting untuk memahami bahwa bentuk singkatan s.d harus mengikuti kaidah ejaan yang benar sesuai EYD.
Implikasi Akademik dan Profesional dari Penulisan s.d yang Tepat
Dalam dunia akademik, detail kecil seperti penulisan s.d bisa menjadi indikator kedisiplinan seorang penulis terhadap kaidah ilmiah. Dosen, editor jurnal, atau reviewer biasanya memperhatikan kesesuaian ejaan dengan PUEBI.
Sebuah karya ilmiah yang konsisten dan rapi secara ejaan menunjukkan bahwa penulis memahami aturan dasar kebahasaan. Dalam konteks profesional, seperti surat dinas atau laporan keuangan, kesalahan kecil dalam penulisan singkatan dapat menimbulkan salah tafsir waktu atau periode kegiatan.
Dengan demikian, penulisan s.d yang benar bukan hanya persoalan kebahasaan, tetapi juga bagian dari etika profesional dan tanggung jawab intelektual.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penulisan s.d memiliki fungsi penting sebagai penghubung yang menunjukkan rentang waktu, tempat, atau nilai. Penulisan yang benar sesuai EYD adalah s.d. dengan titik di setiap huruf tanpa spasi tambahan. Kesalahan umum seperti menulis sd atau s. d. harus dihindari agar naskah tetap sesuai dengan kaidah baku.
Selain itu, pemahaman konteks juga diperlukan dalam memilih antara bentuk singkatan s.d dan bentuk lengkap sampai dengan. Konsistensi, ketelitian, dan kesadaran terhadap aturan ejaan akan menciptakan tulisan yang profesional dan mudah dipahami.
Dengan menguasai aturan penulisan s.d, penulis tidak hanya mengikuti kaidah bahasa, tetapi juga menunjukkan kemampuan berpikir sistematis dan disiplin berbahasa yang baik.






