Najwa Shihab merupakan jurnalis perempuan paling berpengaruh di Indonesia saat ini yang konsisten menghadirkan pertanyaan tajam dan kritis kepada para pemegang kekuasaan melalui program Mata Najwa. Ia mendirikan perusahaan media Narasi untuk menjembatani isu-isu politik yang rumit agar lebih mudah dipahami oleh generasi muda, sekaligus aktif mengampanyekan pentingnya literasi dan keberanian bersuara di tengah iklim demokrasi yang sering kali membungkam kritik.
***
Pernahkah kamu duduk di depan televisi atau menatap layar ponsel dengan perasaan geram yang tertahan? Kamu melihat seorang pejabat negara berbicara berputar-putar, menghindari pertanyaan inti, dan seolah menganggap rakyat adalah kumpulan orang bodoh yang mudah tertipu. Dadamu sesak. Kamu ingin berteriak, “Bukan itu jawabannya, Pak!” atau “Jangan bohong!” Akan tetapi, suaramu hanya memantul di tembok kamar. Kita hanyalah warga biasa. Dan kita merasa tidak punya kuasa untuk menagih janji atau menuntut kejujuran dari mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan.
Rasa frustrasi itu nyata. Kita hidup di zaman di mana kebohongan sering kali terbungkus rapi oleh pencitraan, dan kebenaran justru tenggelam dalam kebisingan informasi sampah. Kita merasa kerdil di hadapan raksasa birokrasi. Namun, di tengah kepungan rasa ketidakberdayaan itu, muncul satu sosok yang seolah mewakili kemarahan dan kegelisahan kita. Ia duduk tegak, menatap tajam narasumbernya, dan melontarkan pertanyaan yang selama ini hanya berani kita bisikkan di dalam hati.
Sosok itu adalah Najwa Shihab. Perempuan yang akrab dengan panggilan Nana ini bukan sekadar pembaca berita. Ia telah menjelma menjadi simbol keberanian sipil. Melalui tatapan matanya yang mengintimidasi para koruptor dan suaranya yang tegas, Najwa mengajarkan kita satu hal fundamental: rasa takut itu wajar, tetapi membiarkan rasa takut membungkam kebenaran adalah sebuah kekalahan. Artikel ini akan mengajakmu menyelami lebih dalam siapa sebenarnya Najwa Shihab, mengapa ia begitu penting bagi kewarasan publik hari ini, dan bagaimana kita bisa meniru nyalinya dalam kehidupan sehari-hari.
Siapa Sebenarnya Najwa Shihab? (Lebih dari Sekadar “Mbak Nana”)
Banyak orang mengenal Najwa Shihab sebagai putri dari ulama besar, Quraish Shihab. Latar belakang ini tentu membentuk karakternya yang santun namun teguh memegang prinsip. Najwa adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Seharusnya, dengan latar belakang tersebut, ia bisa saja memilih karier yang aman dan mapan sebagai pengacara korporat atau notaris. Akan tetapi, ia justru memilih jalan yang jauh lebih terjal dan berisiko: menjadi wartawan.
Pilihan karier ini menunjukkan bahwa Najwa memiliki keresahan yang tidak bisa ia selesaikan hanya dengan duduk di balik meja kantor. Ia ingin terjun ke lapangan. Ia ingin melihat realitas, bukan hanya membaca berkas perkara. Kariernya bermula dari reporter lapangan di RCTI, kemudian pindah ke Metro TV, hingga akhirnya ia membesarkan namanya melalui program bincang-bincang Mata Najwa.
Apa yang membuat Najwa berbeda dari jurnalis lainnya? Kuncinya terletak pada riset yang mendalam dan kemampuan mendengarkan yang aktif. Najwa tidak pernah datang ke medan “perang” dengan tangan kosong. Ia membawa data. Ia membawa fakta. Ketika narasumber mencoba mengelak atau berbohong, Najwa akan mengejar mereka dengan data tersebut sampai mereka terpojok. Ia tidak membiarkan politisi berlindung di balik retorika kosong.
Selain itu, Najwa memiliki kemampuan unik untuk tetap tenang di tengah situasi yang memanas. Bayangkan kamu harus mewawancarai seorang ketua ormas yang terkenal keras atau politisi senior yang arogan. Kebanyakan orang mungkin akan gemetar atau sungkan. Sebaliknya, Najwa justru semakin tenang dan tajam. Ketenangan inilah yang sering kali membuat lawan bicaranya salah tingkah. Ia membuktikan bahwa kekuatan perempuan tidak terletak pada fisik, melainkan pada ketajaman pikiran dan keteguhan hati.
Kini, Najwa telah melangkah lebih jauh dengan mendirikan Narasi, sebuah perusahaan media digital yang sangat dekat dengan anak muda. Langkah ini membuktikan visinya yang jauh ke depan. Ia menyadari bahwa televisi konvensional mulai ditinggalkan oleh Gen Z dan milenial. Oleh karena itu, ia membangun platform baru untuk memastikan bahwa diskusi-diskusi penting tentang bangsa ini tetap sampai ke telinga anak muda, tentunya dengan kemasan yang lebih segar dan relevan.
Seni Bertanya dan Keberanian Menggugat “Kursi Kosong”
Salah satu momen paling ikonik dalam sejarah jurnalisme modern Indonesia adalah ketika Najwa Shihab mewawancarai “kursi kosong” pada tahun 2020. Saat itu, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menghilang dari publik di tengah kepanikan awal pandemi COVID-19. Najwa berulang kali mengundangnya untuk memberikan penjelasan kepada rakyat, namun sang menteri tak kunjung datang.
Akhirnya, Najwa memutuskan untuk melakukan monolog di hadapan kursi kosong. Ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mewakili kebingungan jutaan rakyat Indonesia. Momen ini sangat kuat dan emosional. Najwa menunjukkan bahwa ketidakhadiran pejabat publik di saat krisis adalah bentuk pengabaian terhadap rakyat. Ia menggunakan simbol kursi kosong untuk menelanjangi arogansi kekuasaan.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sini? Najwa mengajarkan kita tentang seni bertanya. Dalam budaya kita yang feodal, bertanya sering kali orang anggap sebagai tindakan tidak sopan atau menantang. Kita diajarkan untuk “nrimo” dan menelan saja apa kata orang tua, guru, atau atasan. Najwa mendobrak budaya bisu tersebut. Ia menunjukkan bahwa bertanya adalah hak dasar manusia untuk mendapatkan kejelasan.
Relevansinya dengan kehidupan modern sangat erat. Di tempat kerja, misalnya, kita sering takut bertanya tentang transparansi gaji atau kebijakan lembur yang tidak adil. Dalam hubungan asmara, kita sering takut bertanya tentang kepastian hubungan karena takut ditinggalkan (fenomena situationship). Akibatnya, kita hidup dalam asumsi dan ketidakpastian yang menyiksa.
Najwa mengingatkan kita bahwa ketidakjelasan itu berbahaya. Kita berhak menuntut jawaban. Tentu saja, kita tidak harus seagresif Najwa di televisi. Namun, kita bisa meniru esensinya: persiapkan argumenmu, kumpulkan faktamu, lalu tanyakan dengan tegas dan sopan. Jangan biarkan orang lain, siapa pun mereka, membiarkanmu dalam kegelapan informasi.
Selanjutnya, Najwa juga membawa isu politik yang rumit menjadi “pop” dan mudah kita cerna. Dulu, politik adalah obrolan bapak-bapak di pos ronda yang membosankan. Namun, Najwa melalui Narasi berhasil mengemas isu korupsi, lingkungan, dan legislasi menjadi konten yang menarik di Instagram dan YouTube. Ia sadar bahwa apatisme anak muda terhadap politik adalah bahaya besar. Jika orang-orang baik tidak peduli pada politik, maka orang-orang jahat yang akan menguasainya. Najwa mengajak kita untuk peduli, bukan demi kekuasaan, melainkan demi masa depan kita sendiri yang dipertaruhkan oleh kebijakan politik.
Duta Baca dan Melawan Tsunami Kebodohan
Kontribusi sosial Najwa yang tak kalah penting adalah perannya sebagai Duta Baca Indonesia (2016-2020). Ia sangat gelisah melihat rendahnya minat baca di Indonesia. Padahal, kita merupakan salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia. Ini adalah kombinasi yang mematikan: malas membaca tetapi cerewet di media sosial. Akibatnya, hoaks menyebar seperti api membakar hutan kering.
Najwa sering mengulang mantra ini: “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu. Mari jatuh cinta.”
Ia tidak menceramahi kita dengan teori pendidikan yang rumit. Ia mendekati literasi dengan cara yang personal. Ia menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar tugas sekolah, melainkan sebuah petualangan pikiran. Membaca adalah cara kita merawat akal sehat agar tidak mudah ditipu oleh judul berita yang provokatif (clickbait) atau hasutan kebencian di grup WhatsApp keluarga.
Dalam konteks hari ini, literasi adalah perisai diri. Setiap hari, otak kita diserang oleh ribuan informasi sampah. Jika kita tidak memiliki filter yang kuat—yang kita bangun melalui kebiasaan membaca—kita akan mudah terombang-ambing. Kita akan menjadi generasi yang emosional, mudah marah, tetapi miskin data. Najwa mengajak kita untuk menjadi “skeptis yang sehat”. Jangan telan informasi mentah-mentah. Cek dulu kebenarannya. Baca sumber aslinya.
Lebih jauh lagi, Najwa sering menyoroti isu-isu yang jarang media lain bahas, seperti kekerasan seksual di kampus atau mafia bola. Ia memberikan panggung bagi korban yang selama ini suaranya terbungkam. Ini adalah bentuk jurnalisme empati. Ia tidak hanya mengejar rating, tetapi juga mengejar keadilan. Ia membuktikan bahwa media bisa menjadi alat untuk membela mereka yang lemah, bukan hanya menjadi corong bagi mereka yang kuat.
Paradoks dan Kritik: Najwa Juga Manusia Biasa
Tentu saja, Najwa Shihab bukanlah malaikat tanpa cela. Memujanya secara berlebihan justru akan mencederai semangat kritis yang ia ajarkan. Sebagai figur publik, ia pun tidak lepas dari kritik dan paradoks.
Salah satu kritik yang paling sering muncul adalah gaya wawancaranya yang gemar memotong pembicaraan narasumber (interrupting). Bagi sebagian orang, gaya ini terlihat tidak sopan dan agresif. Penonton sering merasa terganggu ketika narasumber belum selesai menjelaskan, tetapi Najwa sudah memotong dengan pertanyaan baru.
Namun, mari kita lihat dari sudut pandang lain. Mengapa Najwa melakukan itu? Karena politisi kita memiliki kebiasaan buruk: berpidato saat ditanya. Mereka sering kali menjawab pertanyaan spesifik dengan jawaban normatif yang panjang lebar untuk menghabiskan durasi. Jika Najwa membiarkan mereka bicara sampai selesai, maka waktu akan habis tanpa kita mendapatkan jawaban yang substansial. Memotong pembicaraan adalah strategi taktis untuk memaksa narasumber kembali ke topik (on track). Itu adalah “kejahatan yang perlu” (necessary evil) demi mendapatkan kejelasan.
Selain itu, Najwa juga sering dituduh tidak netral atau berpihak pada kubu politik tertentu. Tuduhan ini wajar terjadi pada jurnalis yang memiliki opini kuat. Namun, Najwa selalu menegaskan bahwa “independen itu bukan berarti tidak berpihak, tetapi berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik”. Ia tidak memihak pada kandidat A atau B, tetapi ia memihak pada nilai-nilai demokrasi. Oleh karena itu, siapa pun yang sedang berkuasa dan melanggar nilai tersebut, pasti akan ia kritik.
Ada juga tekanan sosial yang besar terhadap penampilan fisiknya. Sebagai putri seorang ulama terkemuka, Najwa sering mendapat komentar miring karena belum mengenakan jilbab. Netizen sering kali menghakimi keimanannya hanya dari penampilannya. Namun, Najwa menanggapi hal ini dengan elegan. Ia menunjukkan bahwa hubungan seseorang dengan Tuhan adalah wilayah privat yang sangat personal. Ia mengajarkan kita untuk tidak menilai buku dari sampulnya, dan tidak menilai integritas seseorang hanya dari pakaiannya. Ia tetap menghormati ayahnya, dan ayahnya pun menghormati pilihannya. Ini adalah contoh indah tentang toleransi dalam keluarga yang bisa kita tiru.
Menemukan “Najwa” dalam Diri Sendiri
Lantas, apa yang bisa kita, sebagai manusia biasa yang jauh dari sorot kamera, pelajari dari sosok Najwa Shihab? Kita tidak perlu menjadi presenter TV untuk meniru semangatnya.
Pertama, berani menjadi tidak nyaman. Najwa sering menempatkan dirinya dalam situasi yang tidak nyaman demi mendapatkan kebenaran. Dalam hidup, kita sering menghindari konflik karena ingin cari aman. Kita diam saat melihat teman di-bully. Kita diam saat melihat kecurangan di kantor. Belajar dari Najwa, cobalah untuk sesekali keluar dari zona nyaman itu. Beranikan diri untuk menegur hal yang salah, meskipun suaramu bergetar. Keberanian itu seperti otot; semakin sering kita latih, semakin kuat ia jadinya.
Kedua, persiapan adalah kunci kepercayaan diri. Najwa bisa tampil gahar karena ia menguasai data. Ia membaca berkas setebal bantal sebelum mewawancarai pejabat. Kita sering merasa insecure atau imposter syndrome karena kita kurang persiapan. Jika kamu ingin presentasi di depan bos atau dosen, lakukan risetmu. Kuasai materimu. Ketika kamu tahu apa yang kamu bicarakan, rasa takut itu akan berubah menjadi antusiasme.
Ketiga, jadilah pendengar yang kritis. Jangan mau jadi “bebek” yang hanya ikut-ikutan. Ketika ada isu viral, jangan langsung ikut menghujat. Tanyakan: “Benarkah begitu? Apa buktinya? Apa konteksnya?” Gunakan nalar kritismu. Najwa mengajarkan kita bahwa kecerdasan bukan hanya soal IQ tinggi, tetapi soal kemampuan memilah informasi di tengah kekacauan.
Keempat, cintai negerimu dengan cara yang keras. Najwa sering mengkritik Indonesia bukan karena ia benci, tetapi karena ia cinta. Ia ingin Indonesia menjadi lebih baik. Kita pun bisa mencintai negeri ini dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, menaati aturan lalu lintas, dan memilih pemimpin yang benar saat pemilu. Kritik yang membangun adalah bentuk cinta yang paling jujur.
Jangan Hanya Menonton, Jadilah Pelaku
Najwa Shihab telah melakukan bagiannya. Ia telah membuka pintu-pintu rahasia kekuasaan agar kita bisa mengintip ke dalamnya. Ia telah mewakafkan suaranya untuk mewakili teriakan kita yang sering kali tercekat di tenggorokan.
Namun, Najwa tidak bisa bekerja sendirian. Ia membutuhkan kita, membutuhkan jutaan anak muda yang tidak hanya jago berkomentar di kolom komentar Instagram, tetapi juga berani bertindak di dunia nyata. Najwa membutuhkan generasi yang melek literasi, yang tidak mudah diadu domba, dan yang berani menatap mata penguasa—entah itu atasan di kantor, dosen di kampus, atau pejabat di pemerintahan—dan bertanya: “Mengapa bapak berbohong?”
Mulai hari ini, cobalah untuk tidak sekadar menjadi penonton setia Mata Najwa. Jadilah Najwa-Najwa kecil di lingkunganmu sendiri. Mulailah dari hal sederhana: baca buku yang bagus, verifikasi berita sebelum menyebarkannya, dan jangan takut bertanya jika ada hal yang mengganjal di hatimu.
Dunia ini penuh dengan kebisingan yang mencoba membungkam kita. Akan tetapi, selama kita merawat nalar dan memelihara nyali, suara kebenaran tidak akan pernah benar-benar mati. Seperti kata Najwa, “Ingat, kekuasaan itu memabukkan, dan rakyatlah yang harus menjadi pengingat agar penguasa tetap menjejak bumi.”
Buku Karya Najwa Shihab

Catatan Najwa dapatkan bukunya di sini
Catatan Najwa 2 dapatkan bukunya di sini





