Membongkar Mitos “Enak Zamanku Tho?”: Fakta Kelam di Balik Stabilitas Semu Orde Baru

Dalam Artikel Ini

Mitos “Enak Zamanku Tho?” adalah sebuah narasi romantisasi masa lalu yang menganggap era Orde Baru sebagai zaman keemasan karena harga kebutuhan pokok yang murah dan kondisi keamanan yang stabil, padahal faktanya stabilitas tersebut berdiri di atas fondasi represi militer berdarah dan pembungkaman suara kritis rakyat. Buku “Mengenal Orde Baru” terbitan EA Books membongkar ilusi kenikmatan tersebut dengan menyajikan data sejarah kelam mengenai penculikan aktivis, korupsi sistematis, dan pelanggaran HAM berat yang membuktikan bahwa keamanan semu tersebut menuntut bayaran yang sangat mahal dari kebebasan dan nyawa rakyat Indonesia.

Kita sering melihat stiker wajah mantan Presiden Soeharto yang sedang tersenyum melambai di belakang bak truk atau angkutan umum dengan tulisan ikonik: “Piye kabare? Isih penak zamanku tho?” (Bagaimana kabarnya? Masih enak zamanku kan?). Kalimat retoris ini seolah menyihir ingatan kolektif masyarakat, terutama mereka yang merasa lelah dengan hiruk-pikuk demokrasi hari ini. Sebagian orang merindukan ketenangan dan harga-harga murah yang konon terjadi pada masa itu.

Akan tetapi, kerinduan tersebut sering kali muncul akibat amnesia sejarah. Saya pribadi melihat fenomena ini sebagai tanda bahaya bagi kewarasan bangsa. Kita melupakan bahwa di balik senyum “Bapak Pembangunan” tersebut, tersimpan ribuan jeritan keluarga korban penghilangan paksa yang tak pernah kembali. Dhianita Kusuma Pertiwi, melalui bukunya yang brilian, mengajak kita untuk menolak lupa dan melihat ulang sejarah dengan kacamata yang jernih. Artikel ini akan mengupas tuntas realitas pahit di balik jargon “enak” tersebut dengan merujuk pada data dan narasi dalam buku yang sangat penting ini.

Mengupas Konsep Mitos Orde Baru dan Romantisme Sejarah

Masyarakat sering terjebak dalam mitos Orde Baru karena memori manusia cenderung menyaring hal-hal buruk dan hanya menyisakan kenangan manis, atau yang psikolog sebut sebagai bias nostalgia. Generasi tua mungkin mengingat masa itu sebagai masa yang “tertib”, sementara generasi muda yang tidak mengalami langsung hanya menelan mentah-mentah cerita tentang swasembada beras tanpa memahami konteks pemaksaan di baliknya.

Buku “Mengenal Orde Baru” menjelaskan bahwa rezim Soeharto sangat piawai dalam membangun citra. Pemerintah saat itu menguasai seluruh saluran informasi, mulai dari TVRI hingga koran-koran daerah. Mereka menyuplai berita yang seragam: pembangunan sukses, rakyat sejahtera, dan negara aman. Narasi tunggal ini tertanam kuat selama 32 tahun, menciptakan ilusi kebenaran yang sulit kita runtuhkan hingga hari ini.

Oleh karena itu, Dhianita Kusuma Pertiwi menulis buku ini dengan gaya populer agar pembaca awam memahami bahwa apa yang tampak “enak” di permukaan sebenarnya keropos di dalam. Penulis menyoroti bahwa ketertiban yang terjadi bukanlah hasil dari kesadaran hukum masyarakat, melainkan hasil dari ketakutan massal terhadap aparat keamanan. Stabilitas itu semu karena negara memaksanya dengan ujung senapan.

Harga Murah atau Harga Diri yang Murah? Fakta Ekonomi yang Terlupakan

Argumen paling kuat dari pendukung Orde Baru biasanya berkutat pada masalah perut: “Dulu harga murah, cari makan gampang.” Memang benar, jika kita melihat nominal harga bensin atau beras saat itu, angkanya sangat kecil dibandingkan sekarang. Namun, kita sering lupa memperhitungkan inflasi dan nilai tukar uang serta tingkat pendapatan masyarakat pada masa itu.

Buku terbitan EA Books ini memberikan perspektif yang menarik mengenai ilusi kemakmuran tersebut. Pemerintah mensubsidi harga-harga kebutuhan pokok secara gila-gilaan menggunakan uang hasil utang luar negeri dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Kita menikmati harga murah dengan cara menggadaikan masa depan bangsa.

Akibatnya, fondasi ekonomi yang tampak kokoh itu runtuh seketika saat badai krisis moneter 1997-1998 menghantam. Nilai rupiah hancur lebur, perusahaan-perusahaan bangkrut, dan angka pengangguran meledak. Krisis tersebut membuktikan bahwa ekonomi Orde Baru adalah gelembung sabun yang rapuh. Selain itu, buku ini juga menyinggung tentang kesenjangan ekonomi yang melebar. Kue pembangunan hanya beredar di kalangan elit Cendana dan kroni-kroninya, sementara rakyat kecil tetap miskin meski harga beras “murah”. Kita membayar “harga murah” tersebut dengan harga diri bangsa yang terjerat utang abadi.

Keamanan Semu di Bawah Bayang-Bayang Senjata

Selanjutnya, mari kita bahas klaim “aman”. Banyak orang berkata bahwa dulu tidak ada begal, tidak ada ormas yang ribut, dan kita bisa tidur nyenyak tanpa mengunci pintu. Pertanyaannya adalah: aman bagi siapa?

Buku “Mengenal Orde Baru” memaparkan fakta mengerikan tentang bagaimana rezim menciptakan “keamanan” tersebut. Pemerintah menggunakan pendekatan militeristik untuk menyelesaikan masalah sosial. Operasi Penembakan Misterius (Petrus) pada tahun 1980-an adalah contoh nyata yang penulis angkat. Aparat menculik preman atau orang yang dianggap meresahkan, membunuhnya tanpa pengadilan, dan membuang mayatnya di tempat umum untuk menebar teror.

Rakyat merasa aman bukan karena hukum tegak, melainkan karena mereka takut menjadi korban berikutnya. Jika Anda berani mengkritik bupati, gubernur, apalagi presiden, besok pagi Anda bisa hilang tanpa jejak. Kebebasan berpendapat mati suri. Pers hanya boleh memberitakan hal-hal baik. Diskusi mahasiswa di kampus mendapat pengawasan ketat dari intelijen.

Dhianita menggambarkan suasana mencekam ini dengan sangat baik. Ia menunjukkan bahwa “aman” versi Orde Baru berarti “diam”. Selama Anda diam, menunduk, dan menurut, Anda aman. Namun, begitu Anda bersuara menuntut keadilan, keamanan itu lenyap. Apakah kita rela menukar kebebasan berbicara kita hari ini demi rasa aman yang palsu seperti itu? Saya rasa tidak.

Stabilitas Politik dan Pembungkaman Demokrasi

Soeharto membanggakan stabilitas politik sebagai kunci pembangunan. Namun, buku ini mengungkap cara kotor rezim dalam mempertahankan status quo tersebut. Penulis menjelaskan tentang penyederhanaan partai politik (fusi partai) dan penerapan asas tunggal Pancasila yang memaksa semua organisasi tunduk pada satu ideologi tafsiran penguasa.

Pemilihan Umum (Pemilu) yang berlangsung setiap lima tahun hanyalah “Pesta Demokrasi” semu. Golkar selalu menang mutlak karena birokrasi dan militer (ABRI) memobilisasi massa hingga ke tingkat desa. Pegawai negeri wajib memilih Golkar atau karir mereka tamat.

Buku ini juga menyoroti peran dwifungsi ABRI yang menempatkan tentara di jabatan-jabatan sipil. Gubernur, bupati, hingga kepala desa banyak yang berasal dari kalangan militer. Hal ini mematikan proses kaderisasi sipil dan mengubah wajah pemerintahan menjadi barak militer. Stabilitas politik Orde Baru bukanlah hasil konsensus rakyat, melainkan hasil pembungkaman aspirasi yang berbeda.

Mengenal Orde Baru

Ambil bukunya di sini atau bukumojok.com

Mengapa Buku “Mengenal Orde Baru” Terbitan EA Books Penting Dibaca?

Di tengah banjir informasi dan hoaks di media sosial, kehadiran buku “Mengenal Orde Baru” menjadi oase yang menyegarkan sekaligus menampar. EA Books mengemas buku ini dengan sangat apik, menghindari bahasa akademis yang kaku sehingga mudah dicerna oleh pembaca dari segala kalangan, terutama generasi muda.

Dhianita Kusuma Pertiwi melakukan riset yang mendalam namun menyajikannya dengan narasi yang mengalir (storytelling). Ia tidak hanya menyajikan angka dan tanggal, tetapi juga menghadirkan sisi kemanusiaan dari para korban rezim. Buku ini menjadi “kunci jawaban” bagi Gen Z yang bingung ketika orang tua mereka membanding-bandingkan zaman sekarang dengan zaman Soeharto.

Opini saya, buku ini adalah vaksin untuk melawan virus lupa sejarah. Dengan membaca buku ini, kita akan memahami bahwa korupsi yang merajalela hari ini memiliki akar yang kuat dari budaya nepotisme masa lalu. Kita akan sadar bahwa perjuangan reformasi 1998 yang memakan banyak korban jiwa adalah upaya mulia untuk membebaskan kita dari belenggu tirani, bukan sekadar kerusuhan tanpa makna.

Bahaya Menormalisasi Otoritarianisme

Salah satu dampak terburuk dari mitos “Enak Zamanku Tho” adalah normalisasi terhadap praktik otoriter. Ketika masyarakat mulai merindukan sosok pemimpin yang “tegas” ala Soeharto, mereka cenderung permisif terhadap pelanggaran hukum dan HAM demi ketertiban.

Buku ini memberikan peringatan keras (warning) bahwa kerinduan tersebut berbahaya. Jika kita membiarkan narasi ini berkembang, kita membuka jalan bagi kembalinya rezim tangan besi. Penulis mengajak kita untuk kritis melihat bahwa demokrasi, dengan segala kegaduhannya, tetap jauh lebih baik karena menjamin hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi.

Kita harus belajar dari sejarah agar tidak mengulanginya. Romantisasi masa lalu hanya akan membuat kita berjalan mundur. Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang berbeda, dan solusinya bukan kembali ke cara-cara lama yang represif, melainkan memperbaiki kualitas demokrasi yang sedang berjalan.

Penutup

Mitos “Enak Zamanku Tho” hanyalah sebuah ilusi optik sejarah yang menutupi borok-borok Orde Baru. Klaim mengenai harga murah dan keamanan stabil runtuh seketika saat kita membedahnya dengan fakta sejarah yang valid. Stabilitas tersebut negara beli dengan harga yang sangat mahal: pembungkaman suara rakyat, penculikan aktivis, korupsi yang mengakar, dan utang negara yang menumpuk.

Buku “Mengenal Orde Baru” karya Dhianita Kusuma Pertiwi terbitan EA Books adalah dokumen penting yang wajib kita baca untuk meluruskan nalar sejarah kita. Buku ini mengajarkan kita untuk menghargai kebebasan yang kita miliki saat ini dan terus mengawal jalannya pemerintahan agar tidak tergelincir kembali ke lubang otoritarianisme.

Jangan biarkan stiker di belakang truk menipu logika Anda. Tidak ada yang enak dari hidup dalam ketakutan. Tidak ada yang enak dari mulut yang terbungkam. Mari kita rawat ingatan, tolak lupa, dan teruslah berjuang untuk Indonesia yang lebih adil dan demokratis tanpa bayang-bayang kelam masa lalu.