Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang dalam Cinta? Makna Cinta Menurut Plato

Dalam Artikel Ini

Cinta menurut Plato merupakan sebuah hasrat atau kerinduan mendalam jiwa manusia untuk menemukan kembali keutuhan dirinya yang hilang, berawal dari ketertarikan pada keindahan fisik seseorang, lalu bergerak naik menuju kekaguman pada keindahan jiwa, dan akhirnya mencapai puncaknya pada cinta terhadap kebijaksanaan abadi tanpa terikat pada sosok individu tertentu.

Pertanyaan yang Sama

Pernahkah kamu menatap wajah pasanganmu saat ia sedang tertidur lelap, lalu tiba-tiba merasakan gelombang kekosongan yang aneh menjalar di dada? Padahal, sebulan yang lalu, kamu memujanya setengah mati. Kamu yakin dialah jawaban atas segala doa-doamu selama ini. Kamu merasa dialah kepingan puzzle terakhir yang akan melengkapi hidupmu.

Akan tetapi, waktu terus berjalan tanpa ampun. Perlahan namun pasti, topeng kesempurnaan itu mulai retak. Mulai melihat kebiasaan buruknya yang menjengkelkan. Mulai mendengar nada bicaranya yang meninggi saat lelah. Kamu menyadari bahwa ia hanyalah manusia biasa yang memiliki rasa takut, ego yang besar, dan bau mulut di pagi hari. Ilusi indah itu runtuh seketika.

Selanjutnya, perasaan hampa pun datang menyerang. Kamu mulai bertanya-tanya dengan gelisah, “Apakah aku salah memilih orang?” atau “Ke mana perginya sosok pangeran atau putri impian yang dulu aku kenal?”

Kekecewaan ini bukanlah tanda bahwa hubunganmu telah gagal total. Sebaliknya, ini adalah gejala klasik dari penyakit manusia modern: kita mencintai imajinasi kita sendiri tentang seseorang, bukan mencintai orang itu secara utuh. Kita terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis. Mari kita duduk sejenak, menyeduh kopi, dan membedah fenomena menyakitkan ini melalui kacamata Plato, seorang filsuf Yunani Kuno yang mungkin paling bertanggung jawab atas standar tinggi kita dalam urusan asmara.

Siapa Sebenarnya Plato dan Mengapa Dia Mengurus Percintaan Kita?

Sebelum kita menyalahkan aplikasi kencan atau film drama Korea atas kegagalan cinta kita, kita perlu berkenalan terlebih dahulu dengan Plato. Filsuf satu ini memiliki pandangan yang sangat unik, radikal, dan sedikit “kejam” mengenai asmara. Ia tidak memandang cinta sekadar sebagai perasaan hangat di dada atau kupu-kupu yang beterbangan di perut.

Bagi Plato, cinta—atau dalam bahasa Yunani disebut Eros—adalah sebuah kekurangan.

Dalam karyanya yang sangat terkenal berjudul The Symposium, Plato menggambarkan sebuah pesta perjamuan makan malam di mana para tokoh mendiskusikan makna Eros. Ia menyampaikan gagasan revolusioner bahwa kita hanya mencintai apa yang tidak kita miliki. Seseorang tidak mungkin menginginkan air jika ia sudah basah kuyup. Seseorang menginginkan air hanya jika ia sedang kehausan.

Oleh karena itu, cinta menurut Plato pada dasarnya adalah hasrat untuk mengejar kepenuhan. Kita merasa ada lubang menganga dalam jiwa kita, sebuah ketidaklengkapan yang menyiksa, dan kita mencari sesuatu yang indah di luar sana untuk menutup lubang tersebut.

Masalah besar muncul ketika kita salah mengidentifikasi objek yang bisa menutup lubang tersebut. Kebanyakan dari kita berpikir bahwa “objek” penambal luka itu adalah manusia lain (pacar, suami, atau istri). Kita membebankan tugas mustahil kepada pasangan kita untuk melengkapi jiwa kita secara utuh. Akibatnya, kita menciptakan beban ekspektasi yang terlampau berat yang pada akhirnya justru menghancurkan hubungan itu sendiri.

Plato mengajarkan bahwa manusia hanyalah batu loncatan. Keindahan fisik seseorang seharusnya hanya menjadi pemicu awal. Namun, tujuan akhirnya bukanlah orang itu, melainkan Keindahan itu sendiri (The Form of Beauty). Terdengar rumit dan terlalu abstrak? Mari kita sederhanakan konsep ini dalam konteks kehidupan kita sehari-hari yang penuh dinamika.

Tangga Cinta: Pencarian “Soulmate” yang Melelahkan

Salah satu mitos paling populer yang berasal dari naskah The Symposium karya Plato adalah mitos belahan jiwa (soulmate). Melalui tokoh Aristophanes, Plato menceritakan kisah bahwa manusia dulu memiliki dua kepala, empat tangan, dan empat kaki. Karena manusia terlalu kuat dan sombong, Dewa Zeus membelah mereka menjadi dua bagian. Sejak saat itu, setiap manusia berkeliaran di muka bumi dengan putus asa mencari belahan jiwanya agar bisa merasa utuh kembali.

Cerita ini sangat romantis dan sering kita jadikan landasan dalam mencari pasangan. Sayangnya, cerita ini hanyalah mitos yang justru Plato kritik melalui tokoh utamanya, Socrates.

Socrates, yang menyuarakan pemikiran asli Plato (melalui ajaran Diotima), menawarkan konsep yang lebih logis namun menantang, yaitu “Tangga Cinta” (Ladder of Love). Konsep ini menjelaskan secara gamblang mengapa kita sering merasa bosan atau kecewa setelah fase bulan madu berakhir.

Pertama, kita menapaki anak tangga paling bawah: Cinta pada Keindahan Fisik. Kamu jatuh cinta pada seseorang karena matanya yang indah, senyumnya yang manis, atau bentuk tubuhnya yang atletis. Ini adalah tahap paling dasar. Namun, jika kamu berhenti di sini, kamu pasti akan menderita. Mengapa demikian? Karena fisik itu fana dan rapuh. Keriput akan muncul, perut akan membuncit, dan rambut akan memutih. Jika dasarmu hanya fisik, cintamu akan mati bersama pudarnya kecantikan itu.

Selanjutnya, seseorang yang bijak akan naik ke anak tangga kedua: Cinta pada Keindahan Universal. Pada tahap ini, kamu mulai menyadari bahwa keindahan fisik tidak hanya milik satu orang. Kamu mulai menghargai keindahan dalam berbagai bentuk. Kamu tidak lagi terobsesi secara posesif pada satu tubuh saja.

Kemudian, ia naik lagi ke tahap ketiga: Cinta pada Keindahan Jiwa. Di sini, fokusmu beralih. Kamu mulai jatuh cinta pada kecerdasan, kebaikan hati, integritas, dan karakter seseorang. Kamu mencintai cara dia berpikir, cara dia memperlakukan orang lain, dan nilai-nilai yang ia pegang. Ini jauh lebih stabil daripada cinta fisik.

Puncaknya, Plato mengajak kita naik ke anak tangga terakhir: Cinta pada Ide Keindahan Itu Sendiri. Inilah inti dari cinta menurut Plato. Kita tidak lagi terikat pada sosok manusia, melainkan mencintai sumber dari segala keindahan, yaitu kebijaksanaan dan kebenaran. Pasangan kita hanyalah perantara atau cermin yang memantulkan keindahan ilahi tersebut.

Dalam konteks hubungan modern, teori ini menjelaskan mengapa kita sering kecewa. Kita memproyeksikan “Ideal Kesempurnaan” (yang seharusnya bersifat ilahi dan abadi) ke dalam tubuh manusia yang serba terbatas.

Kamu berharap pacarmu selalu pengertian (seperti malaikat), selalu sabar (seperti nabi), dan selalu menarik (seperti artis Korea). Kamu mencari sifat Ilahi dalam diri manusia biasa. Tentu saja, pasanganmu akan gagal memenuhi standar itu. Akibatnya, kamu marah. Kamu merasa tertipu. Padahal, pasanganmu tidak pernah menipu; imajinasimulah yang menipu dirimu sendiri.

Sisi Gelap Idealisme: Jebakan Mencintai Bayangan, Bukan Kenyataan

Meskipun pemikiran Plato terdengar mulia karena mengajak kita mengejar kesempurnaan, ada sisi gelap yang sangat berbahaya bagi kesehatan mental dan hubungan kita. Bahaya tersebut bernama: Idealisme yang Membutakan.

Ketika kamu terlalu terobsesi dengan konsep cinta yang ideal—yaitu cinta yang mengejar kualitas sempurna—kamu berisiko kehilangan kemampuan untuk mencintai manusia secara nyata apa adanya.

Bayangkan kamu memiliki daftar kriteria pasangan ideal: harus pintar, mapan, humoris, setia, dan hobi traveling. Kamu jatuh cinta pada seseorang karena dia memenuhi daftar tersebut. Namun, apa yang terjadi jika dia kehilangan pekerjaannya karena PHK? Apa yang terjadi jika dia mengalami depresi berat dan kehilangan selera humornya?

Jika kamu mengikuti logika Plato secara kaku, cintamu seharusnya pudar. Sebab, kamu mencintai “kualitas” (kemapanan, humor), bukan “orangnya”. Jika kualitas itu hilang, cinta pun pergi mencari inang baru yang memiliki kualitas tersebut.

Hal ini menciptakan hubungan yang transaksional dan dingin. Akibatnya, pasanganmu akan merasa tidak aman (insecure). Mereka akan merasa harus terus-menerus tampil sempurna agar layak kamu cintai. Mereka tidak boleh lemah, tidak boleh gagal, dan tidak boleh terlihat jelek.

Sebaliknya, kamu pun akan menderita. Kamu akan menjadi kritikus terkejam bagi pasanganmu. Lalu, kamu akan selalu membandingkan dia dengan “versi ideal” yang ada di kepalamu. Akan sering berkata dalam hati, “Seharusnya dia bisa lebih peka,” atau “Seharusnya dia tahu apa mauku tanpa aku harus bicara.”

Kata “seharusnya” adalah racun paling mematikan dalam sebuah hubungan. Kata itu menandakan bahwa kamu sedang mencintai sebuah ide, bukan mencintai realitas yang ada di depan matamu. Kamu sedang memeluk bayangan, dan marah ketika bayangan itu tidak bisa memelukmu balik.

Oleh karena itu, pandangan cinta ala filsuf Athena ini sering kali menjadi penyebab utama mengapa para overthinker sulit bahagia dalam hubungan. Mereka terus mencari yang terbaik, yang lebih sempurna, tanpa menyadari bahwa kesempurnaan di dunia manusia adalah ilusi optik semata.

Menurunkan Ekspektasi

Lantas, apakah kita harus membuang semua pemikiran Plato ke tempat sampah dan pasrah menerima pasangan yang toxic atau buruk? Tentu tidak. Kita tetap membutuhkan standar. Namun, kita perlu mengubah secara radikal cara pandang kita terhadap standar tersebut.

Langkah pertama untuk menyembuhkan kekecewaan ini adalah dengan mengakui dengan jujur bahwa pasangan kita adalah “produk gagal”, sama persis seperti kita.

Kedengarannya kasar, tetapi ini adalah bentuk pembebasan yang luar biasa. Pasanganmu pasti memiliki trauma masa kecil yang belum selesai. Dia pasti punya kebiasaan aneh yang menjengkelkan. Dia pasti pernah mengambil keputusan bodoh. Dan itu sangat wajar. Kamu pun demikian.

Cinta yang dewasa—yang mungkin melampaui definisi awal Plato—adalah kemampuan untuk melihat ketidaksempurnaan itu secara telanjang dan tetap memilih untuk bertahan.

Alih-alih mencari “The One” yang sempurna tanpa cela, cobalah memandang pasanganmu sebagai teman seperjalanan yang sedang sama-sama belajar menjadi manusia yang lebih baik. Dalam perspektif ini, fungsi hubungan bukan untuk saling melengkapi secara magis, melainkan untuk saling membantu bertumbuh.

Selanjutnya, ubahlah fokus harapan berlebihan itu menjadi apresiasi sederhana. Plato mengajarkan kita untuk melihat keindahan. Cobalah praktikkan itu, tetapi dalam skala yang lebih membumi. Lihatlah keindahan dalam usaha pasanganmu membuatkan kopi di pagi hari, meskipun rasanya agak terlalu manis. Lihatlah keindahan dalam caranya mendengarkan keluh kesahmu, meskipun dia tidak bisa memberikan solusi cerdas.

Kita harus berhenti menuntut pasangan kita untuk menjadi Tuhan atau Malaikat Penyelamat. Mereka hanyalah manusia yang juga sedang bingung menghadapi hidup. Dengan menurunkan ekspektasi dari “sempurna” menjadi “cukup baik”, beban berat di pundak kedua belah pihak akan terangkat seketika. Kamu menjadi lebih santai, dan dia menjadi lebih nyaman menjadi dirinya sendiri.

Selain itu, sadarilah bahwa kebahagiaanmu adalah tanggung jawabmu sendiri. Jangan bebankan tugas “membuatku bahagia” kepada orang lain. Itu tugas yang terlalu berat bagi bahu manusia mana pun. Penuhilah jiwamu sendiri dengan hobi, karier, dan pertemanan yang bermakna. Dengan begitu, kehadiran pasangan akan menjadi pelengkap kebahagiaan (bonus), bukan satu-satunya sumber oksigen bagimu.

Jika kita kembali pada gagasan Plato tentang kekurangan, cobalah untuk mengisi kekurangan itu sendiri. Jadilah orang yang utuh terlebih dahulu. Ketika dua orang yang utuh bertemu, mereka tidak saling menuntut, melainkan saling berbagi kelimpahan.

Penutup

Plato memang benar bahwa kita semua merindukan sesuatu yang indah dan abadi. Jiwa kita memang mendambakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rutinitas harian yang membosankan. Namun, mencari keabadian itu dalam diri manusia fana adalah resep pasti untuk patah hati.

Kita perlu belajar memaafkan realitas karena tidak seindah imajinasi. Pasanganmu tidak akan pernah bisa membaca pikiranmu. Kisah cintamu tidak akan pernah semulus skenario drama Korea. Akan ada pertengkaran, kebosanan, dan fase-fase hambar yang menguji kesabaran.

Akan tetapi, justru di situlah letak seni mencintai yang sesungguhnya. Mencintai seseorang saat ia sedang mempesona itu mudah; siapa pun bisa melakukannya. Namun, mencintai seseorang saat ia sedang menyebalkan, saat ia sedang gagal, atau saat ia sedang tidak rupawan, itulah ujian sejati dari sebuah komitmen.

Jadi, berhentilah mengejar bayang-bayang sempurna di dinding gua imajinasimu. Keluarlah ke dunia nyata, lihatlah pasanganmu yang tidak sempurna itu, tatap matanya dalam-dalam, dan sadarilah bahwa di tengah ketidaksempurnaannya, ia nyata. Dan sesuatu yang nyata, meskipun retak di sana-sini, selalu lebih berharga daripada ilusi yang utuh namun semu.

Pada akhirnya, cinta menurut Plato mengajarkan kita untuk terus bertumbuh. Jangan biarkan hubunganmu mandek pada ketertarikan fisik semata. Ajaklah pasanganmu berdiskusi, belajar, dan mengejar mimpi bersama. Jadikan hubunganmu sebagai wahana untuk mencapai versi terbaik dari diri kalian masing-masing. Itulah cinta yang tidak akan lekang oleh waktu.