Sinopsis Buku
Apa jadinya jika sebuah bangsa tumbuh besar tanpa figur ayah?
Bukan hanya dalam rumah—di mana 20,9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran aktif seorang ayah—tetapi juga dalam politik, birokrasi, dan ruang publik. Bangsa Tanpa Bapak adalah kumpulan esai yang lahir dari keresahan seorang anak muda terhadap negerinya sendiri: dari meja makan yang sunyi hingga gedung DPR yang bising.
Dengan tajam dan kadang sinis, Gibran Aulia membedah ironi Indonesia pascapemilu. Mulai dari warisan politik adu domba yang tak kunjung usai (Divide et Impera masih hidup dan bernapas dalam baju baru), kebebasan berpendapat yang ternyata hanya untuk yang sependapat, hingga gelombang protes #KaburAjaDulu yang lebih menggambarkan kelelahan kolektif daripada pengkhianatan nasionalisme.





