Goenawan Mohamad: Kanon Sastra dan Jurnalisme yang Mengubah Wajah Pemikiran Indonesia

Dalam Artikel Ini

Goenawan Mohamad, atau akrab kita sapa sebagai GM, adalah seorang penyair, esaiis, dan jurnalis senior Indonesia yang mendirikan Majalah Tempo serta memelopori gaya penulisan esai liris melalui kolom legendaris “Catatan Pinggir”. Sebagai pegiat sastra dan tokoh intelektual terkemuka, ia memainkan peran sentral dalam pembentukan Manifes Kebudayaan 1963 yang menentang dominasi ideologi politik dalam seni, menjadikannya ikon kebebasan berpikir yang karya-karyanya terus memengaruhi peta sastra tanah air hingga hari ini.

Mengapa Kita Harus Membaca dan Mempelajari Pemikirannya?

Dunia kepenulisan Indonesia tidak akan pernah sama tanpa kehadiran sosok ini. Bagi Anda yang baru terjun ke dunia literasi atau berambisi menjadi penulis, memahami siapa Goenawan Mohamad merupakan langkah wajib. Ia bukan sekadar penulis yang merangkai kata indah; ia adalah arsitek pemikiran yang menggabungkan ketajaman jurnalistik dengan kehalusan puisi.

Membaca karyanya sering kali terasa seperti menelusuri labirin intelektual. Kita akan menemukan referensi filsafat Barat yang berkelindan dengan wayang Jawa, atau kritik politik tajam yang terbungkus metafora sunyi. Hal ini mungkin terasa mengintimidasi bagi pemula. Namun, justru di situlah letak daya tariknya. Ia mengajarkan kita bahwa menulis bukan hanya soal menyampaikan informasi, melainkan seni berpikir dan merenung.

Oleh karena itu, artikel ini akan mengupas tuntas profil sang maestro, menelisik karya-karya fenomenalnya, dan membedah mengapa ia masih sangat relevan bagi generasi penulis masa kini. Mari kita selami samudra pemikiran sosok yang telah mewarnai sejarah Indonesia selama lebih dari setengah abad ini.

Siapa Sebenarnya Goenawan Mohamad dalam Peta Sastra?

Lahir di Batang, Jawa Tengah, pada 29 Juli 1941, Goenawan Mohamad tumbuh dalam lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan dan kebebasan. Sejak muda, ia telah menunjukkan ketertarikan mendalam pada dunia kata-kata. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, kemudian melanjutkan studi filsafat di College of Europe, Belgia, dan Universitas Harvard, Amerika Serikat. Latar belakang pendidikan inilah yang kelak membentuk kerangka berpikirnya yang unik: kritis, filosofis, namun tetap membumi.

Kita mengenal GM sebagai salah satu penanda tangan Manifes Kebudayaan (Manikebu) pada tahun 1963. Saat itu, ia bersama rekan-rekannya sesama seniman muda berani melawan arus dominasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan PKI. Mereka memperjuangkan prinsip “Humanisme Universal”, sebuah keyakinan bahwa seni harus bebas dari dikte politik praktis.

Akibat keberaniannya tersebut, ia sempat mengalami tekanan politik yang berat. Namun, tekanan itu justru menempa mentalitasnya sebagai seorang petarung intelektual. Ia membuktikan bahwa seorang pegiat sastra tidak hanya duduk di menara gading, tetapi juga turun ke gelanggang sejarah untuk memperjuangkan kebenaran.

Sebagai pendiri Komunitas Salihara, ia terus merawat ekosistem kesenian di Indonesia. Ia menyediakan ruang bagi seniman muda untuk berekspresi, berdiskusi, dan bertumbuh. Kontribusinya yang konsisten selama puluhan tahun membuatnya layak menyandang gelar sebagai begawan sastra Indonesia modern.

Jejak Jurnalistik dan Perlawanan Melalui Kata

Membahas Goenawan Mohamad tidak lengkap tanpa menyinggung peran monumentalnya dalam dunia pers. Ia mendirikan Majalah Tempo pada tahun 1971. Melalui media ini, ia memperkenalkan jurnalisme sastrawi (literary journalism) ke publik Indonesia. Ia mengubah cara orang membaca berita; dari sekadar laporan fakta kering menjadi narasi yang memikat dan menyentuh emosi.

Saya pribadi berpendapat bahwa kontribusi terbesarnya di bidang ini adalah keberaniannya menjaga independensi media di bawah rezim otoriter. Ketika pemerintahan Orde Baru membredel Tempo pada tahun 1994 karena laporan investigasi pembelian kapal perang bekas, GM tidak tinggal diam. Ia melawan pembredelan tersebut melalui jalur hukum dan mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Perlawanan ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh negeri: pena bisa lebih tajam daripada pedang. Ia mengajarkan para jurnalis muda bahwa tugas utama penulis adalah menyuarakan mereka yang tak bersuara dan mengawasi kekuasaan agar tidak sewenang-wenang.

Gaya bahasanya di Tempo, yang terkenal dengan kalimat-kalimat pendek namun padat makna, menjadi standar baru penulisan jurnalistik yang enak kita baca. Ia menghindari klise dan jargon birokrasi yang membosankan. Sebaliknya, ia menggunakan bahasa yang hidup, segar, dan sering kali puitis untuk menjelaskan masalah sosial yang rumit.

Karya-Karya Fenomenal yang Wajib Dibaca

Produktifitas Goenawan Mohamad sungguh mencengangkan. Ia telah melahirkan puluhan buku yang mencakup berbagai genre, mulai dari esai, puisi, hingga naskah lakon. Berikut adalah beberapa karya magnum opus-nya yang wajib masuk dalam daftar bacaan Anda.

1. Catatan Pinggir (Caping)

Buku ini adalah mahakarya abadi dalam khazanah esai Indonesia. “Catatan Pinggir” bermula dari kolom mingguan yang ia tulis di halaman paling belakang Majalah Tempo sejak tahun 1977. Hingga kini, kumpulan esai ini telah terbit dalam belasan jilid tebal.

Dalam rubrik ini, GM membahas segala hal: mulai dari politik, agama, sejarah, filsafat, hingga remeh-temeh kehidupan sehari-hari. Keistimewaan esai-esai ini terletak pada sudut pandangnya yang tidak terduga. Ia sering kali tidak menawarkan kesimpulan akhir yang bulat. Sebaliknya, ia mengajak pembaca untuk terus bertanya dan meragukan “kebenaran” yang mapan.

Bagi penulis pemula, membaca “Catatan Pinggir” adalah latihan terbaik untuk memperkaya kosakata dan meluaskan wawasan. Anda akan belajar bagaimana meramu sebuah argumen yang kuat tanpa harus terdengar menggurui. Ia menggunakan teknik montase, merangkai potongan-potongan peristiwa yang tampaknya tidak berhubungan menjadi satu kesatuan makna yang utuh.

2. Parikesit (1971) dan Kumpulan Puisi Lainnya

Sebelum terjun total ke jurnalisme, Goenawan Mohamad adalah seorang penyair. Kumpulan puisi pertamanya, “Parikesit”, menandai kemunculan suara baru dalam puisi Indonesia yang cenderung intelektual dan kontemplatif.

Puisinya berbeda dengan gaya Rendra yang meledak-ledak atau Chairil Anwar yang vitalis. Puisi GM cenderung sunyi, lirih, dan penuh keraguan eksistensial. Ia sering mengangkat tema-tema mitologi wayang namun menafsirkannya ulang dalam konteks modernitas.

Selain “Parikesit”, karya puisi lainnya seperti “Interlude”, “Asmaradana”, dan “Don Quixote” juga menunjukkan kepiawaiannya mengolah bahasa. Ia mampu mengubah kata-kata sederhana menjadi imaji yang menghantui ingatan pembaca. Kekuatan utamanya terletak pada ambiguitas; ia membiarkan pembaca menafsirkan sendiri makna di balik larik-larik puisinya.

3. Lakon dan Libretto Opera

Pada dekade terakhir, kreativitasnya merambah ke dunia seni pertunjukan. Ia menulis naskah lakon dan libretto (teks opera) yang kemudian dipentaskan secara megah. Beberapa judul yang terkenal antara lain “Tanak Malaka”, “Surat-Surat Karna”, dan “Amangkurat”.

Melalui medium ini, ia mengeksplorasi sisi gelap sejarah dan kekuasaan. Ia menghidupkan kembali tokoh-tokoh sejarah yang terlupakan atau tersingkirkan. Naskah-naskahnya menunjukkan bahwa sastra tidak hanya hidup di atas kertas, tetapi juga bisa bernapas di atas panggung, berdialog langsung dengan penonton.

Gaya Penulisan dan Pengaruhnya Bagi Penulis Muda

Apa yang membuat tulisan Goenawan Mohamad begitu khas? Jika kita membedahnya, kita akan menemukan beberapa elemen kunci yang bisa kita pelajari.

Pertama, ia menggunakan pendekatan esai liris. Ia menulis esai dengan kepekaan seorang penyair. Ia memperhatikan ritme kalimat, bunyi kata, dan metafora. Akibatnya, tulisan non-fiksi sekalipun terasa indah dan mengalir saat kita baca.

Kedua, ia menerapkan prinsip fragmentaris. Tulisannya sering kali tidak linear. Ia melompat dari satu gagasan ke gagasan lain, mirip dengan cara kerja pikiran manusia yang asosiatif. Teknik ini menuntut partisipasi aktif pembaca untuk menyusun kepingan-kepingan tersebut.

Ketiga, ia selalu menghindari “kata-kata besar” atau jargon yang kosong. Ia lebih suka menggunakan detail konkret untuk menjelaskan konsep abstrak. Misalnya, alih-alih mengatakan “kemiskinan struktural”, ia mungkin akan menceritakan kisah seorang pemulung tua di pinggir Jakarta.

Bagi Anda yang ingin menulis, mempelajari gaya GM akan melatih Anda untuk peka terhadap nuansa. Anda akan belajar bahwa menulis bukan sekadar menyusun kalimat yang benar secara tata bahasa, tetapi menciptakan pengalaman emosional dan intelektual bagi pembaca.

Kritik dan Kontroversi: Sisi Lain Sang Tokoh

Tentu saja, sosok sebesar Goenawan Mohamad tidak lepas dari kritik. Sebagai penulis yang objektif, kita juga harus melihat sisi ini agar mendapatkan gambaran yang utuh. Beberapa kritikus sastra menganggap gaya tulisannya terlalu elitis dan sulit dipahami oleh orang awam. Mereka menyebutnya sebagai “sastra salon” yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan intelektual terbatas di Jakarta.

Selain itu, posisinya yang kuat dalam jejaring kebudayaan (melalui Tempo, Salihara, dan Lontar Foundation) sering memicu tuduhan adanya hegemoni atau dominasi selera. Beberapa seniman muda pernah melontarkan kritik mengenai “Sastra Wangi” atau politik kurasi yang dianggap hanya menguntungkan lingkaran pertemanannya.

Polemik politik mutakhir di Indonesia juga menyeret namanya. Sikap politiknya yang terbuka dalam beberapa pemilihan presiden terakhir menuai pro dan kontra di kalangan netizen dan sesama pegiat sastra. Sebagian orang merasa kecewa karena menganggap seorang begawan seharusnya berdiri di atas semua golongan.

Namun, menurut opini saya, kontroversi ini justru membuktikan bahwa ia adalah manusia biasa, bukan nabi. Keterlibatannya dalam polemik menunjukkan bahwa ia peduli dan tidak ingin berdiam diri di menara gading. Kritik terhadapnya adalah bagian dari dialektika yang sehat dalam dunia intelektual. Kita bisa tidak setuju dengan sikap politiknya, namun kita tidak bisa menafikan sumbangsih besarnya terhadap bahasa dan pemikiran Indonesia.

Bagaimana Cara Mulai Membaca Karyanya?

Bagi Anda yang merasa terintimidasi untuk mulai membaca karya GM, saya menyarankan strategi berikut. Jangan langsung memaksakan diri membaca esai filsafatnya yang berat.

Mulailah dengan membaca kumpulan “Catatan Pinggir” jilid-jilid awal (1-5). Esai pada masa itu cenderung lebih naratif dan dekat dengan peristiwa aktual. Bacalah satu esai sehari. Renungkan isinya. Jangan khawatir jika Anda tidak memahami seluruh referensi yang ia sebutkan.

Selanjutnya, cobalah nikmati puisinya. Bacalah “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi”. Rasakan bunyinya, jangan terlalu pusing membedah maknanya secara akademis. Biarkan puisi itu menyentuh perasaan Anda terlebih dahulu.

Jika Anda menyukai sejarah, bacalah naskah lakonnya seperti “Amangkurat”. Anda akan mendapatkan perspektif sejarah yang berbeda dari buku teks sekolah. Karya-karyanya tersedia luas di toko buku maupun perpustakaan digital, sehingga akses bukan lagi menjadi hambatan.

Penutup

Menelusuri jejak Goenawan Mohamad adalah perjalanan menelusuri sejarah intelektual Indonesia modern. Ia adalah sosok multidimensi: penyair yang romantis, jurnalis yang garang, dan pegiat sastra yang visioner. Melalui tangan dinginnya, ia telah melahirkan institusi media yang kredibel dan komunitas seni yang vibrant.

Karya-karyanya, terutama “Catatan Pinggir”, akan terus menjadi monumen bahasa Indonesia. Ia membuktikan bahwa bahasa kita mampu menampung konsep-konsep filsafat yang rumit sekaligus melukiskan keindahan yang subtil.

Sebagai penutup, saya mengajak Anda semua, para calon penulis dan pencinta buku, untuk tidak sekadar mengagumi sosoknya dari jauh. Ambillah bukunya, bacalah tulisannya, dan berdebatlah dengan gagasannya. Seraplah ilmunya, tiru disiplin menulisnya, lalu temukan suara Anda sendiri. Sebab, penghormatan terbaik kepada seorang guru bangsa bukanlah dengan memujanya, melainkan dengan meneruskan api pemikiran kritis yang telah ia nyalakan. Mari kita mulai menulis, mulai berpikir, dan mulai peduli, seperti yang telah GM lakukan sepanjang hidupnya.