Cara membuat rumusan masalah merupakan langkah awal yang menentukan arah sebuah penelitian atau karya ilmiah. Tanpa rumusan masalah yang tajam dan jelas, penelitian akan kehilangan fokus, bahkan bisa melenceng dari tujuan awal. Rumusan masalah ibarat kompas bagi peneliti—menuntun ke arah yang benar dan memastikan setiap langkah memiliki dasar logis.
Dalam praktiknya, banyak mahasiswa atau penulis pemula kesulitan menyusun rumusan masalah karena belum memahami logika berpikir ilmiah yang sistematis. Salah satu pendekatan efektif yang bisa digunakan adalah metode 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, dan How). Metode ini membantu penulis menggali inti persoalan dengan lebih konkret dan mendalam.
1. Pentingnya Rumusan Masalah dalam Penelitian
Sebelum memahami cara membuat rumusan masalah, kita perlu menyadari fungsi fundamentalnya. Rumusan masalah bukan sekadar pertanyaan formal di bab pendahuluan, melainkan jantung penelitian yang menentukan seluruh arah pembahasan. Menurut Sugiyono (2019) dalam Metode Penelitian Pendidikan, rumusan masalah berfungsi membatasi ruang lingkup penelitian agar peneliti tidak menyimpang dari fokus utama.
Sementara itu, Creswell (2014) dalam Research Design menegaskan bahwa rumusan masalah membantu peneliti membangun argumen teoretis yang kuat sebelum mencari data empiris. Artinya, rumusan masalah berfungsi sebagai jembatan antara teori dan fakta di lapangan.
Dengan demikian, ketika seseorang memahami cara membuat rumusan masalah dengan tepat, ia sebenarnya sedang memetakan keseluruhan peta penelitiannya. Penelitian yang baik selalu berawal dari pertanyaan yang baik.
2. Ciri-ciri Rumusan Masalah yang Baik
Sebelum membahas metode 5W+1H, penting memahami ciri-ciri rumusan masalah yang tajam. Banyak penelitian gagal karena rumusannya terlalu umum, kabur, atau sehingga tidak empiris.
Menurut Uma Sekaran (2006) dalam Research Methods for Business, rumusan masalah yang baik harus memenuhi lima unsur:
- Jelas – dapat dipahami tanpa menimbulkan tafsir ganda.
- Spesifik – memiliki batas yang tegas agar fokus.
- Terukur – dapat terjawab melalui data.
- Relevan – berkaitan langsung dengan tujuan penelitian.
- Signifikan – memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan.
Misalnya, rumusan masalah “Bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia?” terlalu luas. Sebaliknya, “Bagaimana efektivitas penggunaan media digital dalam meningkatkan literasi membaca siswa SD di Yogyakarta?” adalah rumusan yang tajam karena spesifik, terukur, dan relevan.
Jadi, dalam cara membuat rumusan masalah, penting untuk menghindari kata-kata yang terlalu umum seperti “bagaimana meningkatkan,” “apa pengaruhnya,” atau “mengapa hal ini penting,” tanpa menjelaskan konteksnya.
3. Langkah Awal: Mengenali Masalah Penelitian
Langkah awal cara membuat rumusan masalah adalah menemukan masalah penelitian yang benar-benar menarik dan relevan. Masalah yang baik lahir dari pengamatan terhadap fenomena nyata, bukan sekadar dugaan.
Lexy J. Moleong (2017) menjelaskan bahwa masalah penelitian muncul ketika seseorang menemukan “ketimpangan antara teori dan kenyataan.” Misalnya, teori mengatakan bahwa literasi digital mempercepat pembelajaran, tetapi di lapangan ditemukan banyak siswa yang justru terganggu karena distraksi media sosial. Dari situ, masalah bisa kamu rumuskan: “Mengapa penggunaan media digital belum efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa?”
Tahap ini menuntut kepekaan peneliti membaca realitas sosial. Menulis rumusan masalah bukanlah kegiatan menebak, melainkan hasil refleksi dan pengamatan mendalam.
4. Metode 5W+1H: Strategi Praktis Menyusun Rumusan Masalah
Metode 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, dan How) merupakan teknik klasik yang sering digunakan dalam jurnalistik, tetapi juga sangat efektif dalam penelitian. Melalui pendekatan ini, penulis dapat menelusuri masalah dari berbagai sudut sehingga rumusan masalah menjadi komprehensif dan tajam.
a. What (Apa)
Langkah pertama cara membuat rumusan masalah adalah menentukan apa yang menjadi fokus penelitian. “Apa” membantu menentukan objek atau fenomena utama. Misalnya: Apa pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan?
b. Who (Siapa)
“Siapa” membantu memperjelas subjek atau responden penelitian. Contohnya: Siapa yang menjadi target kebijakan literasi digital di sekolah dasar?
c. When (Kapan)
Unsur waktu menentukan konteks temporal penelitian. Misalnya: Bagaimana perubahan persepsi masyarakat terhadap AI setelah pandemi COVID-19?
d. Where (Di mana)
Menentukan lokasi penting untuk membatasi ruang penelitian. Bagaimana praktik pelestarian bahasa daerah di sekolah dasar di Jawa Tengah?
e. Why (Mengapa)
Pertanyaan “mengapa” menggali alasan di balik fenomena. Mengapa siswa cenderung lebih suka belajar dengan video pendek dibanding buku teks?
f. How (Bagaimana)
Terakhir, “bagaimana” menunjukkan cara atau mekanisme yang terjadi. Bagaimana strategi guru mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran bahasa Indonesia?
Dengan menggabungkan keenam unsur ini, peneliti dapat menyusun pertanyaan yang utuh dan logis. Misalnya:
“Bagaimana (How) penggunaan media digital (What) oleh guru sekolah dasar (Who) di Yogyakarta (Where) selama tahun 2024 (When) dapat meningkatkan motivasi membaca siswa, dan mengapa (Why) efektivitasnya berbeda antara sekolah negeri dan swasta?”
Rumusan ini tajam, terarah, dan bisa dijawab dengan data empiris.
5. Mengembangkan Rumusan Masalah dari Kajian Pustaka
Setelah menemukan fokus masalah, langkah berikutnya adalah menghubungkannya dengan teori dan penelitian sebelumnya. Inilah tahap di mana kemampuan literasi ilmiah diuji.
Menurut Riduwan (2013), rumusan masalah yang baik selalu “lahir dari dialog antara teori dan realitas.” Oleh karena itu, sebelum menulis rumusan masalah, peneliti perlu membaca jurnal dan buku yang relevan untuk menemukan kesenjangan (research gap).
Sebagai contoh, bila banyak penelitian sebelumnya membahas “penggunaan media sosial dalam pembelajaran,” tetapi sedikit yang menyoroti “dampaknya terhadap perilaku literasi siswa di sekolah dasar,” maka itulah celah penelitian yang bisa dikembangkan.
Dengan pendekatan ini, cara membuat rumusan masalah menjadi bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi proses berpikir kritis yang menuntut kedalaman analisis.
6. Kesalahan Umum dalam Menyusun Rumusan Masalah
Banyak peneliti pemula terjebak pada kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari. Pertama, rumusan masalah sering kali terlalu luas. Penelitian kualitatif misalnya, tidak mungkin menjawab pertanyaan berskala nasional.
Kedua, rumusan masalah sering berbentuk pernyataan, bukan pertanyaan. Padahal, menurut Mulyana (2012), rumusan masalah harus berupa pertanyaan penelitian yang dapat dijawab melalui metode ilmiah.
Ketiga, rumusan masalah kadang sudah menyertakan jawaban tersirat. Misalnya, “Mengapa metode pembelajaran interaktif sangat efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa?” Kalimat ini sudah berasumsi bahwa metode tersebut sangat efektif. Rumusan yang lebih netral adalah, “Bagaimana efektivitas metode pembelajaran interaktif dalam meningkatkan hasil belajar siswa?”
Memahami kesalahan semacam ini penting agar peneliti dapat menghindarinya saat menerapkan cara membuat rumusan masalah dengan benar.
7. Tips Menulis Rumusan Masalah yang Efektif
Berikut beberapa tips praktis yang bisa membantu:
- Gunakan kalimat tanya terbuka. Hindari pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak.”
- Gunakan kata kerja operasional. Misalnya: “mengidentifikasi,” “menganalisis,” “mengevaluasi,” agar pertanyaan lebih ilmiah.
- Pastikan relevansi dengan tujuan penelitian. Jika tujuan penelitian adalah mendeskripsikan, rumusannya sebaiknya diawali dengan kata “bagaimana.”
- Cek konsistensi dengan judul dan tujuan. Jangan sampai rumusan masalah tidak sejalan dengan topik yang diangkat.
- Revisi berkali-kali. Seperti menulis puisi, rumusan masalah butuh perenungan agar maknanya tepat dan fokus.
Menulis rumusan masalah tidak harus sekali jadi. Justru proses revisi yang berulang membuatnya semakin tajam.
8. Contoh Rumusan Masalah Menggunakan Metode 5W+1H
Untuk memperjelas cara membuat rumusan masalah, berikut contoh penerapannya:
Judul: Representasi Nilai Ekologis dalam Peribahasa Jawa (Kajian Ekolinguistik)
Rumusan Masalah:
- Apa bentuk representasi nilai ekologis yang muncul dalam peribahasa Jawa? (What)
- Siapa kelompok sosial yang masih menggunakan peribahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari? (Who)
- Di mana konteks penggunaan peribahasa itu masih ditemukan? (Where)
- Kapan peribahasa tersebut digunakan dalam situasi komunikasi tradisional? (When)
- Mengapa peribahasa-peribahasa tersebut penting dalam melestarikan kesadaran ekologis masyarakat? (Why)
- Bagaimana bentuk perubahan makna ekologis dalam peribahasa Jawa di era modern? (How)
Keenam pertanyaan ini saling melengkapi dan mengarahkan penelitian agar tidak melebar ke luar konteks.
9. Rumusan Masalah sebagai Peta Konseptual
Jika diibaratkan peta, rumusan masalah menunjukkan titik awal, arah perjalanan, dan tujuan akhir penelitian. Oleh karena itu, cara membuat rumusan masalah tidak bisa dilepaskan dari logika berpikir ilmiah yang sistematis.
Kerangka berpikir harus menunjukkan hubungan sebab-akibat yang jelas antara variabel atau fenomena. Seperti dikemukakan oleh Kerlinger (2000), “A problem well stated is a problem half solved.” Artinya, jika masalah dirumuskan dengan tepat, setengah pekerjaan penelitian sudah selesai.
Rumusan masalah juga menjadi dasar bagi penyusunan hipotesis, pemilihan metode, dan analisis data. Semua bagian penelitian harus bisa ditelusuri kembali ke rumusan masalah. Jika tidak, maka penelitian akan kehilangan arah.
10. Menyimpulkan Rumusan Masalah sebagai Proses Kritis
Menulis rumusan masalah bukan hanya soal teknik, melainkan latihan berpikir kritis dan reflektif. Ia melatih peneliti untuk mempertanyakan setiap fenomena yang ditemui. Dengan demikian, cara membuat rumusan masalah yang tajam dan jelas menuntut kemampuan membaca realitas, berpikir logis, serta mengaitkannya dengan teori ilmiah.
Bagi pemula, metode 5W+1H menjadi jalan sederhana namun efektif untuk memulai. Dengan terus berlatih, rumusan masalah tidak lagi menjadi bagian yang menakutkan, melainkan fondasi berpikir ilmiah yang kokoh.






