Bagaimana jika kitab suci yang kau peluk terasa seperti balik menatapmu dengan tatapan menghakimi? Bagaimana jika setiap dalil yang kau hafal berubah menjadi dakwaan?
Bagi Naraswati Alfira, perpustakaan yang seharusnya menjadi surga kini terasa seperti ruang sidang. Setiap rak buku adalah barisan hakim, dan setiap halaman adalah tuduhan atas keimananannya yang retak. Ia adalah produk sempurna dari sebuah sistem. Namun kini ia merasa seperti seorang penipu.
Dan besok, ia akan diadili. Bukan karena dosa yang ia perbuat, tapi karena pertanyaan-pertanyaan yang berani ia pikirkan.
Terjebak di antara pilihan menakutkan: menjadi munafik yang selamat, atau menjadi jujur yang tersesat. Ia berada di titik terendah. Hingga sebuah suara lain datang. Bukan untuk memberi jawaban, tapi untuk menemani dalam sunyi dan mengajarkan bahwa terkadang, untuk menemukan Tuhan, kau harus berani hancur lebih dulu.
Halaman demi halaman dari novel ini yang memvalidasi pertanyaanmu dan menyembuhkan luka yang tersembunyi di lubuk hatimu.