Apa jadinya kalau Roro Jonggrang punya pacar redflag bernama Bandung Bondowoso?
Apa jadinya kalau Timun Mas tidak bisa lari dari kejaran atasan yang selalu memberi tugas dadakan mepet deadline?
Apa jadinya kalau Nawang Wulan adalah “bidadarinya BUMN” yang menikah dengan pengangguran bernama Jaka Tarub?
Apa jadinya kalau Dayang Sumbi adalah mama muda yang kewalahan karena anaknya nge-game tak tahu waktu?
Apa jadinya kalau Bawang Merah kesal karena selalu dibandingkan dengan Bawang Putih, yang lolos seleksi CPNS Pemkot?
Apa jadinya kalau Candra Kirana adalah mahasiswi S2 yang terjebak dalam kutukan revisi tesis?
Apa jadinya kalau Putri Mandalika terpaksa meneruskan bisnis keluarga padahal dia bercita-cita jadi penyelam profesional?
Bukan, ini bukan cerita rakyat atau legenda seperti biasanya. Ini adalah curhatan tujuh perempuan usia 25 tahunan, di meja kafe sore itu, di tengah hiruk pikuk kota Semarang. Ditemani kudapan, kopi susu gula aren, hingga matcha berry.