“Kehadiranmu nggak bisa digantikan dengan benda apa pun. Tapi, cincin ini bisa membuatku tetap bisa merasakan kehadiranmu meski kamu nggak hadir secara fisik di dekatku.”
Jauh sebelum berjibaku dengan esai-esai seputar seks, saya lebih dulu menyenangi fiksi. Saya mulai menulis cerpen ketika memasuki dunia kerja. Bisa jadi karena intensitas saya membaca kolom sastra di koran atau sekadar lari dari kenyataan hidup yang monoton. Belakangan ketika hidup saya lebih dari fiksi itu sendiri, saya meninggalkan cerpen….
Oh ya, sebagian cerita di dalam kumpulan cerpen ini mengandung kebenaran. Bukankah itu asyiknya menulis fiksi? Sebab dalam fiksi, kita bisa berdalih apa yang kita tulis hanya fantasi, padahal sebenarnya fakta. Hihihi…