Hantu Perang di Tembok Berlin

Penulis : Nanda Suryadi
Kategori : Fiksi
Penerbit : Kolofon
Halaman : 302
Dimensi : 13 x 19 cm

Sinopsis Buku

Ketika perang berakhir bukan sebagai pintu yang ditutup, melainkan mesin yang mendadak dimatikan, menyisakan panas, asap, dan tubuh-tubuh yang bergetar oleh ingatan.

Berlatar di Berlin Barat tahun 1970-an di tengah bayang-bayang Perang Dingin, novel ini mengikuti Yossi Bennayoun (Ben), seorang pemuda keturunan Yahudi Sephardic Maroko yang bekerja sebagai bartender di Dessler Bar milik Alfredolf—seorang veteran perang berjuluk “sang pemburu”. Hari-hari Ben berjalan dalam rutinitas mekanis yang dingin, terjebak di antara trauma masa lalu, bayang-bayang kehancuran rezim Nazi, dan krisis eksistensial yang menggerogoti jiwanya hingga ia kerap memikirkan kematian.

Di tengah keterasingannya, takdir mempertemukannya dengan Diandra Agatha, seorang perempuan misterius penyintas trauma masa lalu yang hadir seperti teka-teki sekaligus suaka bagi jiwanya yang retak. Pertemuan ini menyeret Ben ke dalam labirin emosi, batas tipis antara realitas dan halusinasi, serta pencarian makna hidup yang tak pernah ia temukan sebelumnya. Bersama para rekan kerjanya yang unik, Ben belajar bahwa luka sejarah tidak untuk dihapus, melainkan dirawat agar tak lagi melukai.

Ditulis dengan gaya prosa yang puitis, kontemplatif, dan penuh lapisan filosofis, Hantu Perang di Tembok Berlin bukan sekadar kisah tentang sisa-sisa reruntuhan sejarah Eropa, melainkan sebuah perjalanan batin yang sunyi tentang bagaimana manusia bertahan hidup di reruntuhan jiwanya sendiri. Sebuah mahakarya fiksi yang memikat, menyayat hati, dan menggugah perenungan mendalam tentang cinta, kehilangan, dan pengampunan.