Sinopsis Buku
Bagaimana ingatan sejarah, jejak purbakala, dan riuh kehidupan gang-gang kota merajut makna tentang kefanaan manusia?
Dalam kumpulan puisi Kalaupun Tengkorak, Soramula mengajak pembaca melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu—dari sisa-sisa reruntuhan keraton, situs purbakala, hingga sudut-sudut jalanan kota dan pesisir Nusantara yang sarat gelora. Buku ini merangkum perenungan mendalam tentang eksistensi manusia yang rapuh di hadapan alam dan sejarah, namun tetap gigih merawat cinta, keluarga, serta ingatan kolektif.
Melalui diksi yang tajam dan kaya visual, setiap bait memotret kontras antara megahnya peradaban masa lalu dengan kesahajaan hidup sehari-hari. Dari debur ombak pantai hingga deru kereta dan pabrik, penyair merekam denyut nadi zaman dengan penuh penghayatan.
Sebuah karya reflektif yang merayakan hidup, merangkul luka, dan memberi makna luhur pada setiap tulang-tulang waktu yang tersisa. Temukan ketulusan dan keindahan ziarah batin ini dalam Kalaupun Tengkorak!





