Sinopsis Buku
Di Giriloyo, batik tidak lahir di pabrik.
Ia lahir di rumah-rumah. Di dekat dapur yang masih mengepul pada pagi hari. Di teras tempat seorang ibu duduk berjam-jam di depan gawangan bambu. Di halaman tempat kain-kain yang baru selesai diwarnai diangin-anginkan. Selama berabad-abad, tradisi itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Lalu dunia berubah.
Gempa bumi tahun 2006 merusak rumah-rumah warga dan mengguncang kehidupan kampung. Setelah itu, pariwisata mulai tumbuh, teknologi membuka peluang baru, dan generasi muda menghadapi pilihan hidup yang berbeda dari orang tua mereka. Di tengah berbagai perubahan itu, para pembatik Giriloyo memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.
Melalui Paguyuban Batik Giriloyo, mereka membangun kembali harapan, memperkuat kerja sama, dan mengubah sebuah kampung pembatik menjadi salah satu destinasi batik paling dikenal di Indonesia.
Merawat Batik Giriloyo merekam perjalanan dua puluh tahun masyarakat yang menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman. Melalui kisah para pembatik, tokoh masyarakat, dan keluarga-keluarga yang hidup bersama batik, buku ini menghadirkan cerita tentang ketekunan, gotong royong, kehilangan, dan harapan yang membentuk wajah Giriloyo hari ini.
Sebuah kisah tentang batik yang lebih dari sekadar kain, dan tentang orang-orang yang memilih merawat warisan budaya agar tetap hidup dari generasi ke generasi.





