Pernahkah Anda merasa bahwa dalam riuhnya dunia, hanya dinding kamar dan bingkai jendela yang benar-benar setia mendengarkan cerita Anda?
“Percakapan Dinding dan Jendela” adalah sebuah perjalanan kontemplatif yang lahir dari rahim keseharian yang jujur, kadang pahit, namun tetap jenaka. Anjar Suhendar mengajak pembaca untuk menyelami lorong-lorong emosi yang selama ini mungkin kita sembunyikan dari orang lain. Melalui bait-bait puisinya, ia membicarakan tentang cinta yang sederhana, kehilangan yang tak terelakkan, hingga proses melelahkan dalam mencari jati diri di tengah tuntutan zaman.
Di bagian awal, buku ini menyentuh sisi spiritualitas yang intim dan membumi. Penulis menggambarkan Tuhan bukan sebagai sosok yang jauh dan menghakimi, melainkan sosok yang “maha asyik” dan selalu ada di setiap helai napas, kegelisahan, hingga langkah-langkah yang tertatih. Namun, buku ini tidak berhenti pada perenungan batin. Ia berani melangkah keluar, menyoroti realitas sosial yang tajam: tentang nasib guru honorer, hiruk-pikuk politik yang memusingkan, hingga debu-debu tambang ilegal yang mengaburkan pandangan.
Buku ini adalah ruang bagi mereka yang pernah merasa gagal, mereka yang akrab dengan luka, dan mereka yang tetap memilih untuk melangkah meski jalan di depan penuh duri.
Sebuah naskah yang hadir dari hati, ditulis untuk Anda—para pembaca yang baik—yang masih percaya bahwa selalu ada hal baik selama niat kita tulus. Selamat membaca, dan semoga kita semua menemukan kebahagiaan di sela-sela percakapan sunyi ini.