Mengapa Kita Sering Merasa Hampa Meski Sudah Bersenang-senang? Menggali Makna Kebahagiaan Menurut Aristoteles

Dalam Artikel Ini

Kebahagiaan menurut Aristoteles adalah sebuah aktivitas jiwa yang selaras dengan kebajikan (arete) untuk mencapai potensi terbaik manusia—sebuah kondisi paripurna yang ia sebut sebagai Eudaimonia—bukan sekadar perasaan senang sesaat atau kepuasan emosional yang datang dan pergi.

Pernahkah kamu merasakan kehampaan yang aneh justru setelah menghabiskan akhir pekan yang “seru”? Kamu baru saja pulang dari kafe hits di Jakarta Selatan, perutmu kenyang oleh makanan enak, dan galeri ponselmu penuh dengan foto-foto estetik yang siap tayang di Instagram. Teman-temanmu tertawa, musik berdentum keras, dan untuk beberapa jam, beban pekerjaan seolah hilang.

Akan tetapi, begitu kamu merebahkan tubuh di kasur pada pukul dua pagi, perasaan itu datang. Sebuah lubang hitam di dada. Kamu menatap langit-langit kamar dan bertanya, “Kenapa aku masih merasa kosong? Padahal aku sudah bersenang-senang.”

Rasa gelisah ini sering kali menghantui anak muda zaman sekarang. Kita bekerja keras bagai kuda untuk membeli kesenangan. Mengejar promosi, memburu gadget terbaru, dan menabung untuk liburan ke luar negeri. Kita mengira rumus hidup itu sederhana: Kesenangan sama dengan Kebahagiaan.

Namun, jika rumus itu benar, mengapa tingkat depresi justru meroket di kalangan generasi yang memiliki akses hiburan tanpa batas ini?

Rupanya, kita mungkin telah salah mendefinisikan tujuan hidup. Kita tersesat dalam labirin hedonisme yang semu. Untuk menemukan jalan keluar dari krisis makna ini, kita perlu memutar waktu mundur ke Yunani Kuno dan duduk mendengarkan kuliah dari seorang guru besar bernama Aristoteles.

Siapa Sebenarnya Aristoteles? Sang Guru yang Membumi

Sebelum menyelami pemikirannya, mari kita berkenalan dulu dengan sosoknya. Berbeda dengan gurunya, Plato, yang gemar menunjuk ke langit dan berbicara tentang dunia ide yang abstrak, Aristoteles adalah sosok yang menunjuk ke bumi. Ia adalah seorang pengamat ulung, ilmuwan biologi, logika, dan etika yang sangat pragmatis.

Lahir di Stagira pada tahun 384 SM, ia pernah menjadi guru privat bagi Alexander Agung. Bayangkan betapa hebatnya wawasan orang ini hingga ia mendidik seorang penakluk dunia. Namun, hal yang membuat Aristoteles istimewa bukanlah koneksi kerajaannya, melainkan caranya memandang dunia.

Ia terobsesi pada “fungsi” dan “tujuan”. Ia mengamati segala sesuatu, mulai dari gerak bintang, perilaku hewan laut, hingga konstitusi politik berbagai negara kota. Ia ingin tahu bagaimana segala sesuatu bekerja dan, yang lebih penting, untuk apa sesuatu itu ada.

Maka dari itu, ketika ia berbicara tentang manusia, ia tidak sedang berpuisi. Ia sedang melakukan analisis biologis dan logis. Ia ingin menjawab pertanyaan paling fundamental: Apa fungsi manusia di dunia ini? Dan bagaimana manusia bisa menjalani “hidup yang baik”?

Pemikirannya tentang kebahagiaan tertuang dalam karya legendarisnya, Nicomachean Ethics. Buku ini bukanlah kitab suci yang berisi perintah dogmatis, melainkan sebuah panduan praktis untuk merawat jiwa. Aristoteles tidak menyuruhmu membuang hartamu dan hidup di gua. Sebaliknya, ia mengajarkan cara mengelola hasrat, akal, dan tindakan agar hidupmu mekar sepenuhnya.

Eudaimonia: Ketika “Senang” Saja Tidak Cukup

Gagasan inti Aristoteles yang paling relevan untuk mengobati kegelisahan manusia modern berpusat pada satu kata: Eudaimonia.

Banyak penerjemah mengartikan kata ini sebagai “kebahagiaan” (happiness). Sayangnya, terjemahan ini sering menimbulkan salah kaprah. Dalam bahasa Indonesia modern, “bahagia” sering kita samakan dengan emosi positif sesaat, seperti rasa senang saat makan es krim atau euforia saat tim bola favorit menang.

Akan tetapi, Aristoteles menolak keras definisi tersebut. Baginya, itu adalah Hedonia (kesenangan), bukan Eudaimonia.

Eudaimonia lebih tepat kita artikan sebagai “pengembangan diri yang paripurna” atau flourishing. Bayangkan sebuah tanaman mawar. Kapan kita bisa menyebut mawar itu “bahagia” atau “sukses”? Tentu bukan saat mawar itu “tersenyum”, melainkan saat ia tumbuh subur, akarnya kuat, batangnya kokoh, dan bunganya mekar sempurna sesuai dengan potensi alaminya.

Begitu pula dengan manusia.

Aristoteles berargumen dengan konsep Teleologi (tujuan). Segala sesuatu punya fungsi (ergon). Fungsi pisau adalah memotong. Pisau yang “baik” atau “bahagia” adalah pisau yang tajam dan bisa memotong dengan sempurna. Jika pisau itu tumpul, meskipun gagangnya terbuat dari emas berlian, itu adalah pisau yang buruk.

Lantas, apa fungsi manusia?

Kita tidak hidup sekadar untuk tumbuh (tumbuhan juga tumbuh). Kita tidak hidup sekadar untuk merasakan sensasi (hewan juga punya indra). Fungsi unik manusia, menurut Aristoteles, adalah menggunakan akal budi (logos) atau rasionalitas.

Oleh karena itu, kebahagiaan menurut Aristoteles terjadi ketika kita hidup sesuai dengan fungsi nalar kita secara maksimal dan bajik. Kebahagiaan bukanlah sebuah perasaan yang pasif, melainkan sebuah aktivitas. Kamu tidak “menjadi” bahagia; kamu “melakukan” kebahagiaan.

Jalan Tengah Emas: Seni Menyeimbangkan Hidup

Selanjutnya, Aristoteles menawarkan panduan teknis untuk mencapai Eudaimonia, yaitu melalui konsep The Golden Mean (Jalan Tengah Emas).

Ia percaya bahwa kebajikan (virtue) selalu terletak di antara dua titik ekstrem: kelebihan (ekses) dan kekurangan (defisiensi). Keduanya adalah keburukan.

Mari kita ambil contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia:

  1. Keberanian: Jika kamu tidak punya rasa takut sama sekali, kamu bukan pemberani, melainkan “nekat” (rash). Kamu akan mati konyol. Sebaliknya, jika kamu terlalu takut mengambil risiko, kamu adalah “pengecut”. Keberanian sejati ada di tengah-tengah: kamu tahu rasa takut, tetapi kamu tetap bertindak dengan perhitungan matang.

  2. Kedermawanan: Jika kamu memberikan semua uang gajimu sampai kamu sendiri kelaparan, itu bukan baik, melainkan “boros” dan tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, jika kamu tidak mau berbagi sepeser pun, kamu “kikir”. Jalan tengahnya adalah memberi sesuai kemampuan dan pada orang yang tepat.

  3. Ambisi: Di era hustle culture, kita sering terjebak pada kerja berlebihan (burnout). Aristoteles akan menyebut ini sebagai ekses yang merusak jiwa. Namun, menjadi “kaum rebahan” yang malas juga merupakan defisiensi. Hidup yang baik adalah menyeimbangkan ambisi dengan istirahat yang berkualitas.

Konsep ini mengajarkan kita bahwa menjadi orang baik itu bukan soal menjadi ekstrem. Menjadi fanatik (dalam agama, politik, atau diet) justru menjauhkan kita dari kebajikan.

Oleh karena itu, Aristoteles mengajak kita untuk terus-menerus melatih penilaian situasi. Tidak ada rumus baku. Kamu harus menggunakan nalarmu untuk menentukan di mana titik tengah itu berada dalam setiap situasi yang berbeda. Ini membutuhkan latihan seumur hidup.

Persahabatan: Kita Tidak Bisa Bahagia Sendirian

Selain nalar, Aristoteles juga menekankan pentingnya persahabatan (Philia). Ia bahkan mendedikasikan porsi besar dalam bukunya untuk membahas ini. Menurutnya, tidak ada orang yang bisa mencapai Eudaimonia dalam isolasi.

Namun, ia membedakan persahabatan menjadi tiga jenis:

  1. Persahabatan Guna (Utility): Kamu berteman karena saling menguntungkan (misalnya, teman bisnis atau teman yang punya mobil).

  2. Persahabatan Nikmat (Pleasure): Kamu berteman karena dia asyik diajak nongkrong atau punya hobi sama.

  3. Persahabatan Kebajikan (Virtue): Kamu berteman karena kalian saling mengagumi karakter satu sama lain dan saling mendorong untuk menjadi orang yang lebih baik.

Masalah kita hari ini adalah kita memiliki terlalu banyak teman tipe 1 dan 2, tetapi sangat miskin teman tipe 3. Media sosial memfasilitasi koneksi yang dangkal. Kita punya ribuan pengikut, tetapi saat kita sedang hancur, kita bingung harus menelepon siapa.

Aristoteles mengingatkan bahwa persahabatan sejati (tipe 3) memerlukan waktu, kepercayaan, dan kebersamaan yang nyata. Persahabatan ini langka, namun tanpanya, hidup yang baik mustahil terwujud.

Sisi Gelap Aristoteles: Sebuah Kritik Jujur

Meskipun pemikirannya brilian, kita tidak boleh memuja Aristoteles secara buta. Sebagai penulis yang objektif, kita harus mengakui bahwa pandangannya memiliki cacat besar jika kita lihat dari kacamata modern.

Pertama, Aristoteles memiliki pandangan yang sangat elitis. Ia percaya bahwa Eudaimonia membutuhkan dukungan faktor eksternal. Menurutnya, sulit bagi seseorang untuk bahagia jika ia sangat miskin, berwajah sangat buruk, atau tidak punya teman. Ia bahkan menganggap budak dan wanita tidak memiliki kapasitas nalar yang cukup untuk mencapai kebajikan tertinggi.

Tentu saja, pandangan ini sangat bias dan seksis. Ia adalah produk dari zamannya, seorang pria aristokrat Yunani yang hidup dalam masyarakat perbudakan.

Selain itu, konsepnya tentang “tujuan hidup” (telos) terasa agak kaku bagi sebagian orang modern. Kaum eksistensialis seperti Sartre akan menolak gagasan bahwa manusia lahir dengan “fungsi” bawaan seperti pisau. Bagi Sartre, kita bebas menciptakan fungsi kita sendiri.

Akan tetapi, kritik-kritik ini tidak serta-merta membatalkan relevansi etikanya. Kita bisa membuang pandangan sosialnya yang usang, namun tetap mengambil inti ajarannya tentang pengembangan karakter dan keseimbangan hidup.

Membangun “Habitus” Baru

Lantas, bagaimana kita bisa menerapkan filsafat Aristoteles ini besok pagi? Apakah kita harus membaca buku tebal berbahasa Yunani?

Tidak perlu. Kuncinya ada pada kata “Kebiasaan” atau Habitus.

Aristoteles pernah berkata (atau lebih tepatnya, Will Durant menyimpulkan pemikiran Aristoteles): “We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.” (Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Maka, keunggulan bukanlah sebuah tindakan, melainkan kebiasaan).

Jika kamu merasa hidupmu berantakan, jangan menunggu motivasi besar datang dari langit. Jangan menunggu “momen pencerahan” yang dramatis.

Mulailah dengan tindakan kecil. Jika kamu ingin menjadi penulis, menulislah satu paragraf setiap hari. Jangan menunggu mood. Jika kamu ingin menjadi orang yang sabar, berlatihlah menahan amarah saat terjebak macet besok pagi. Jika kamu ingin bahagia, berhentilah mengejar kesenangan pasif (menonton, membeli, memakan). Mulailah melakukan aktivitas aktif yang menantang nalarmu dan memperkaya jiwamu.

Kamu membentuk karaktermu seperti seorang pemahat membentuk patung: sedikit demi sedikit, pukulan demi pukulan, hari demi hari.

Saat kamu merasa malas berolahraga, ingatlah konsep Eudaimonia. Kamu berolahraga bukan sekadar supaya terlihat bagus di cermin (itu hedonia atau vanitas), melainkan karena kamu sedang merawat tubuhmu agar bisa berfungsi optimal sebagai manusia. Pergeseran pola pikir dari “penampilan” ke “fungsi” ini akan membuat bebanmu terasa lebih ringan.

Akibatnya, kebahagiaan tidak lagi menjadi sesuatu yang kamu kejar-kejar di masa depan. Kebahagiaan menjadi efek samping yang muncul secara alami ketika kamu sibuk menjalani hidup yang bajik dan bermakna hari ini.

Penutup

Dunia modern terus membombardir kita dengan pesan bahwa kebahagiaan bisa kita beli. Iklan-iklan menyuruh kita untuk memanjakan diri, membeli kenyamanan, dan menghindari segala bentuk kesulitan.

Namun, Aristoteles datang melintasi ribuan tahun untuk membisikkan kebenaran yang berbeda. Ia memberitahu kita bahwa kebahagiaan bukanlah barang dagangan. Kebahagiaan adalah kerja keras. Kebahagiaan adalah keringat jiwa yang muncul saat kita berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Mungkin hidup yang baik itu memang melelahkan. Kita harus terus berpikir, terus menimbang jalan tengah, dan terus menjaga hubungan persahabatan yang dalam. Akan tetapi, kelelahan itu berbeda dengan kehampaan yang kamu rasakan saat ini. Itu adalah kelelahan yang memuaskan, seperti lelahnya tubuh seorang pendaki yang baru saja mencapai puncak gunung dan melihat matahari terbit.

Jadi, berhentilah bertanya “apa yang bisa membuatku senang hari ini?”. Mulailah bertanya “apa yang bisa aku lakukan hari ini untuk merawat nalar dan karakterku?”. Di sanalah, di tengah aktivitas kebajikan itu, kamu akan menemukan kebahagiaan yang tidak akan hilang begitu saja saat pagi berganti malam.

Karya-karya Aristoteles

retorika

Dapatkan Bukunya di sini.

1. Retorika

Aristoteles meneliti bagaimana seorang pembicara harus menyusun argumen, membangkitkan emosi, serta menunjukkan kredibilitasnya. Aristoteles membela retorika sebagai seni yang berguna dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus mengakui kapasitasnya untuk disalahgunakan oleh para politisi yang tidak bermoral untuk menyesatkan orang lain.

Ethika Nikomakheia

Dapatkan Bukunya di sini.

2. Ethika Nikomakheia

Memusatkan perhatian pada pentingnya membiasakan berperilaku bajik dan mengembangkan watak yang bajik pula. Aristoteles menekankan pentingnya konteks dalam perilaku etis, dan kemampuan dari orang yang bajik untuk mengenali langkah terbaik yang perlu diambil. Aristoteles berpendapat bahwa eudaimonia adalah tujuan hidup, dan bahwa usaha mencapai eudaimonia, bila dipahami dengan tepat, akan menghasilkan perilaku yang bajik.

Politik

Ambil Bukunya di sini.

3. Politik

Buku ini dimulai dengan argumen dasar Aristoteles, bahwa manusia adalah mahluk politis, atau mahluk yang bermasyarakat. Ada beragam hubungan antar manusia, mulai dari hubungan antara pria dan wanita, sampai dengan hubungan antara penguasa yang budaknya. Semuanya menunjukkan ciri dasar, bahwa manusia adalah mahluk sosial. Ia membutuhkan orang lain, dan masyarakatnya.

Tentang Jiwa

Dapatkan Bukunya di sini.

4. Tentang Jiwa 

Salah satu buku terpenting Aristoteles yang ditulis sekitar 350 SM. Buku ini membahas pembagian jenis jiwa yang dimiliki oleh berbagai makhluk hidup, dibedakan oleh cara kerjanya yang berlainan. Tumbuhan memiliki kemampuan untuk memelihara dan berkembang biak, syarat minimum yang harus dimiliki oleh semua jenis organisme hidup. Hewan tingkat rendah memiliki kekuatan persepsi indra dan gerak diri. Manusia, sebagai bentuk paling mumpuni, memiliki semua ini serta kecerdasan.

Kategori-Kategori

Dapatkan Bukunya di sini.

5. Kategori-Kategori

Kategori-Kategori adalah risalah filosofis yang ditulis oleh filsuf Yunani kuno Aristoteles. Karya ini membahas hakikat keberadaan dan klasifikasi berbagai hal ke dalam berbagai kategori. Buku ini dibagi menjadi sepuluh bab, masing-masing berfokus pada kategori eksistensi yang berbeda, seperti substansi, kualitas, kuantitas, relasi, tempat, waktu, dan sebagainya.

Dalam buku ini, Aristoteles berpendapat bahwa semua hal dapat diklasifikasikan ke dalam kategori-kategori tertentu, dan bahwa setiap kategori memiliki karakteristik dan sifat uniknya sendiri. Ia juga mengeksplorasi hubungan antara kategori-kategori tersebut, dan bagaimana mereka saling berhubungan.

Etika Eudemia

Dapatkan Bukunya di sini.

6. Etika Eudemia

Salah satu karya etika Aristoteles yang membahas kebahagiaan (eudaimonia) sebagai tujuan akhir hidup manusia. Kebahagiaan ini tidak sekadar kesenangan atau kenikmatan jasmani, melainkan keadaan jiwa yang baik dan sempurna yang dicapai melalui aktivitas rasional yang sesuai dengan kebajikan (arete). Etika dalam buku ini menekankan bahwa kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan yang selaras dengan akal budi, karena akal merupakan ciri khas utama manusia.