Filsafat absurdisme adalah sebuah pandangan mendalam yang menyoroti konflik abadi antara kecenderungan alamiah manusia untuk mencari makna hidup yang pasti dan ketidakmampuan alam semesta untuk memberikan jawaban tersebut.
Terkadang, kita terbangun di pagi hari dengan perasaan berat yang sulit dijelaskan. Meskipun tubuh mungkin sudah cukup istirahat, batin justru terasa lelah luar biasa. Kamu menatap langit-langit kamar, mendengar suara alarm yang menjerit untuk ketiga kalinya, dan tiba-tiba satu pertanyaan besar menghantam kepala: “Untuk apa sebenarnya aku melakukan semua ini?”
Sebenarnya, kamu tidak sedang ingin mati. Namun, di sisi lain, kamu hanya tidak ingin menjalani hidup seperti ini terus-menerus. Rutinitas harian kerap terasa seperti jebakan yang tidak berujung. Mulai dari bangun tidur, mandi, menembus kemacetan, duduk di depan layar selama delapan jam, hingga akhirnya pulang untuk tidur, lalu mengulanginya lagi esok hari.
Akibatnya, rasanya seperti ada dinding kaca tebal yang memisahkanmu dari dunia luar. Kamu mungkin melihat orang-orang tertawa di kedai kopi atau teman-teman yang memamerkan pencapaian di media sosial, tetapi kamu justru merasa asing. Seolah-olah, kamu hanyalah penonton dalam film yang seharusnya kamu bintangi sendiri.
Perasaan asing ini, serta kelelahan batin yang tidak berdarah tersebut, bukanlah tanda bahwa kamu gila. Sebaliknya, kamu sedang mengalami momen kejujuran yang brutal. Saat ini, kamu sedang bertatapan langsung dengan apa yang disebut Albert Camus sebagai “absurditas”. Kabar baiknya adalah, kamu tidak sendirian berdiri di tepi jurang pemikiran ini.
Albert Camus: Tetangga yang Memahami Isi Kepalamu
Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada baiknya kita berkenalan dengan sosok yang akan menemani perenungan ini. Albert Camus bukanlah tipe filsuf tua berjanggut putih yang duduk di menara gading sambil berbicara dengan bahasa langit yang sulit dimengerti. Justru, dia adalah pria Prancis-Aljazair yang tumbuh dalam kemiskinan, sangat mencintai sepak bola, menyukai dunia teater, dan memiliki wajah yang lebih mirip bintang film Hollywood klasik daripada seorang akademisi kaku.
Akan tetapi, di balik penampilannya yang karismatik itu, Camus menyimpan kepekaan luar biasa terhadap penderitaan batin manusia modern. Ia menulis berbagai karya yang mengguncang dunia pemikiran, seperti The Myth of Sisyphus (Mitos Sisifus) dan The Stranger (Orang Asing). Melalui tulisan-tulisannya, Camus tidak menawarkan surga ataupun janji manis. Ia tidak berkata bahwa “semua akan indah pada waktunya”. Sebaliknya, dia datang, duduk di sebelahmu, menyalakan rokok, dan berkata jujur: “Dunia ini memang tidak masuk akal, kawan. Lalu, kita mau apa?”
Oleh karena itu, Camus menjadi figur sentral dalam pembahasan tentang makna hidup. Hal ini karena dia menolak memberikan makna palsu yang meninabobokan. Dia menyadari sepenuhnya bahwa manusia memiliki kerinduan tak terbatas akan kejelasan, tujuan, dan alasan kenapa kita menderita. Sayangnya, alam semesta merespons kerinduan itu dengan “keheningan yang dingin”. Benturan keras antara teriakan kita meminta makna dan diamnya dunia inilah yang kemudian melahirkan filsafat absurdisme.
Sering kali, kita salah mengartikan kata “absurd”. Dalam percakapan sehari-hari, absurd mungkin berarti konyol atau aneh. Namun, bagi Camus, absurd adalah sebuah kondisi tragis yang tidak terelakkan. Absurd adalah fakta bahwa kita bekerja keras menabung untuk masa depan, padahal kematian bisa datang kapan saja dan menghapus segalanya. Selain itu, absurditas juga terlihat saat kita mati-matian mencintai seseorang yang suatu hari pasti akan meninggalkan kita, atau justru kitalah yang meninggalkannya.
Ketika Rutinitas Menjelma Menjadi Batu Sisifus
Untuk memahami ini lebih dalam, mari kita tarik pemikiran Camus ke trotoar jalanan Jakarta atau ke meja kerjamu yang penuh tumpukan tugas. Camus menggunakan mitos Yunani kuno tentang Sisifus untuk menggambarkan kondisi manusia modern secara akurat.
Dalam mitologi tersebut, Sisifus adalah raja yang dihukum oleh para dewa untuk mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung. Hukuman ini terdengar sederhana, tetapi memiliki twist yang mengerikan. Setiap kali Sisifus hampir mencapai puncak, batu itu akan menggelinding kembali ke bawah karena beratnya sendiri. Akibatnya, Sisifus harus turun, mendorong batu itu lagi, dan kejadian yang sama akan terulang. Selamanya. Tanpa henti. Tanpa hasil.
Cobalah Bertanya kepada Dirimu Sendiri
Sekarang, cobalah bercermin sejenak. Apakah kisah Sisifus terdengar familier dengan hidupmu?
Sering kali, kita merasa nasib kita tidak jauh beda dengan Sisifus. Senin adalah dasar gunung tempat kita mulai mendorong beban. Kita mulai mendorong “batu” berupa beban kerja, target penjualan, atau tugas kuliah. Kita berjuang, berkeringat, menahan stres, dan kurang tidur. Kemudian, Jumat sore tiba dan kita merasa hampir sampai di puncak. Ada rasa lega sejenak saat menikmati akhir pekan yang singkat (ibarat batu yang menggelinding ke bawah). Namun, Senin datang lagi, dan kita harus mulai mendorong dari bawah sekali lagi.
Siklus ini berputar terus-menerus tanpa ampun. Awalnya, kita mengejar promosi jabatan. Setelah posisi itu didapat, kita mengejar gaji yang lebih tinggi. Tidak berhenti di situ, setelah gaji naik, kita mengejar cicilan rumah (KPR). Bahkan setelah lunas pun, kita masih harus mengejar dana pensiun. Kita terus mendorong batu dengan harapan bahwa “suatu hari nanti” kita akan bahagia dan tenang di puncak gunung.
Akan tetapi, filsafat absurdisme mengingatkan kita pada satu kebenaran yang pahit: puncak itu tidak ada. Atau setidaknya, tidak ada puncak yang abadi. Batu itu akan selalu menggelinding turun kembali.
Perasaan “kosong” dan “lelah” yang kamu rasakan muncul karena kamu mulai menyadari siklus tanpa akhir ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah cuma ini?” mulai menghantui. Kamu mulai merasa kosong di tengah keramaian. Saat melihat layar komputer, mendadak segalanya terasa asing. Camus menyebut momen ini sebagai “momen kesadaran”. Ini adalah saat dekorasi panggung kehidupan runtuh, dan kamu melihat tali-tali penopangnya. Banyak orang panik saat mengalami ini. Oleh sebab itu, mereka buru-buru menutupinya dengan hiburan, belanja impulsif, atau menyibukkan diri agar tidak perlu berpikir.
Meskipun demikian, Camus justru mengajak kita untuk tidak lari. Dia menantang kita untuk menatap batu itu, menatap rutinitas itu, dan mengakuinya secara jantan. Ya, hidup ini repetitif. Ya, mungkin secara kosmik, apa yang kita kerjakan tidak akan mengubah rotasi galaksi. Lalu kenapa jika memang begitu?
Jalan Keluar dari Labirin: Bunuh Diri atau Secangkir Kopi?
Ketika seseorang menyadari absurditas hidup—bahwa dunia ini pada dasarnya tidak peduli pada keberadaan kita—reaksi pertamanya biasanya adalah keputusasaan. Logikanya, jika hidup tidak memiliki makna inheren (bawaan), untuk apa melanjutkannya?
Camus membuka esai The Myth of Sisyphus dengan kalimat yang sangat provokatif: “Hanya ada satu masalah filsafat yang benar-benar serius, yaitu bunuh diri.”
Perlu diingat, dia tidak sedang menyuruh orang bunuh diri. Sebaliknya, dia sedang mengajukan pertanyaan logis: Jika hidup ini absurd dan tanpa makna, apakah bunuh diri adalah solusi yang rasional?
Banyak orang yang merasa kosong mungkin pernah terlintas pikiran gelap ini. Bukan keinginan ingin mati secara fisik, melainkan ingin “berhenti” dari keberadaan yang melelahkan. Namun, Camus dengan tegas menolak bunuh diri sebagai solusi. Bagi sang filsuf, bunuh diri adalah sebuah kekalahan total. Itu berarti kita menyerah pada absurditas. Dengan kata lain, absurditas menang dan memusnahkan kita.
Selain bunuh diri fisik, Camus juga mengkritik keras apa yang ia sebut sebagai “bunuh diri filosofis”. Hal ini terjadi ketika seseorang, karena tidak sanggup menghadapi ketidakpastian hidup, melarikan diri pada keyakinan buta atau harapan palsu yang menjanjikan surga di masa depan tanpa dasar yang jelas. Ini adalah cara mematikan akal budi demi mendapatkan ketenangan semu.
Lantas, apa jalan ketiganya? Jika mati adalah kekalahan dan lari pada ilusi adalah kebohongan, apa yang tersisa bagi kita?
Jawabannya adalah: Pemberontakan (Revolt).
Camus menawarkan gagasan yang radikal namun sangat memberdayakan. Kita harus hidup justru karena hidup itu tidak memiliki makna. Kita harus menjalani hidup sebagai bentuk pemberontakan terhadap kesia-siaan itu sendiri.
Bayangkan kamu tahu bahwa tim sepak bola favoritmu pasti kalah dalam pertandingan hari ini karena lawannya terlalu curang dan kuat. Apakah kamu akan pulang dan menangis? Atau sebaliknya, kamu akan tetap bermain, berlari sekuat tenaga, dan mencetak gol semata-mata untuk menunjukkan bahwa kamu tidak bisa ditundukkan begitu saja?
Itulah semangat sejati dari Albert Camus. Hidup menjadi bermakna bukan karena ada “hadiah” besar di ujung jalan, tetapi karena kita berani menjalaninya dengan sadar dan penuh gairah meskipun kita tahu ujungnya adalah kematian.
Ada sebuah kutipan populer yang sering dikaitkan dengan semangat karya Camus: “Should I kill myself, or have a cup of coffee?” (Haruskah aku bunuh diri, atau minum secangkir kopi?).
Memilih secangkir kopi, dalam konteks ini, adalah tindakan heroik. Itu adalah keputusan sadar untuk melanjutkan hidup satu jam lagi, satu hari lagi, menikmati aroma kopi, serta merasakan hangatnya cangkir di tangan, di tengah dunia yang dingin dan tidak peduli. Itu adalah sebuah pemberontakan kecil. Kamu memilih untuk tetap ada dan memilih untuk merasakan, tepat di saat ketiadaan mencoba menelanmu.
Bukan Lisensi untuk Menjadi Bajingan
Sering kali, orang salah menangkap pesan dari para filsuf eksistensialis atau absurdis. Mereka berpikir, “Wah, kalau hidup tidak ada maknanya dan tidak ada aturan mutlak dari alam semesta, berarti aku bebas melakukan apa saja dong? Aku bisa menyakiti orang, bisa selingkuh, atau bisa korupsi, toh tidak ada maknanya.”
Pemikiran semacam ini adalah kesalahpahaman fatal yang sering disebut sebagai “Nihilisme Remaja”. Camus sangat menentang sikap ini. Bahkan, dalam novelnya The Plague (Sampar), ia menunjukkan bahwa ketiadaan makna dari langit justru menuntut kita untuk menciptakan makna di bumi melalui solidaritas antarmanusia.
Jika kita semua sama-sama terjebak dalam dunia yang absurd ini, dan jika kita semua sama-sama “divonis mati” oleh takdir biologis, maka satu-satunya hal yang masuk akal adalah saling membantu. Penderitaanmu adalah penderitaanku juga. Kita berada di perahu yang sama yang sedang menuju air terjun. Oleh karena itu, alih-alih saling sikut, mari kita nikmati pemandangan dan saling berpegangan tangan.
Kebebasan yang ditawarkan absurditas bukanlah kebebasan untuk menjadi jahat. Sebaliknya, ini adalah kebebasan dari tekanan ekspektasi sosial yang tidak realistis. Kamu tidak wajib menjadi miliarder di usia 25 tahun untuk merasa hidupmu berharga. Kamu juga tidak wajib mengikuti standar kesuksesan semu yang ditetapkan oleh iklan di media sosial.
Dengan demikian, kamu bebas menciptakan nilaimu sendiri. Jika bagimu makna hidup hari ini adalah memberi makan kucing liar di jalanan, itu valid. Jika maknanya adalah menyelesaikan skripsi meski dosen pembimbing sulit ditemui, itu pun valid. Atau, jika maknanya hanyalah bertahan hidup sampai gajian bulan depan agar bisa membelikan orang tua makanan enak, itu sangat valid.
Camus mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang berani menghadapi realitas tanpa topeng. Namun, di saat yang sama, kita harus tetap memiliki hati yang hangat. Dia mengajarkan integritas tanpa perlu janji surga atau ancaman neraka, tetapi murni karena kita menghormati kemanusiaan dalam diri kita dan orang lain.
Refleksi: Menemukan Kebahagiaan di Tengah Batu yang Menggelinding
Kembali ke pertanyaan awal kita: Bagaimana caranya berdamai dengan rasa lelah ini? Bagaimana kita bisa bangun besok pagi tanpa merasa ingin menghilang?
Kuncinya terletak pada kalimat penutup Camus dalam esai tentang Sisifus: “One must imagine Sisyphus happy” (Kita harus membayangkan Sisifus bahagia).
Pernyataan ini mungkin terdengar gila. Bagaimana mungkin orang yang dihukum mendorong batu selamanya bisa merasa bahagia?
Sisifus menjadi bahagia ketika dia menerima batunya. Dia berhenti berharap batu itu akan hilang secara ajaib. Dia juga berhenti berharap dewa akan mengampuninya. Sebaliknya, dia memeluk nasibnya. Saat dia berjalan turun gunung untuk mengambil batu yang menggelinding itu, dia sadar sepenuhnya. Dia sadar akan kondisinya, dia sadar akan lingkungannya. Dia melihat tekstur kasar batu itu, dia merasakan sejuknya angin pegunungan, dan dia merasakan otot-ototnya yang kuat.
Batu itu adalah miliknya. Usahanya adalah miliknya.
Dalam konteks kehidupan kita hari ini, kebahagiaan absurdis bukanlah kebahagiaan euforia yang meledak-ledak seperti di iklan pariwisata. Ini adalah kebahagiaan yang tenang dan tangguh. Kebahagiaan yang muncul dari sikap “masa bodoh” yang sehat.
Sebagai ilustrasi, saat kamu terjebak macet di jalan tol dan tidak bergerak selama satu jam, kamu punya dua pilihan. Pertama, kamu bisa marah-marah, memukul setir, dan memaki keadaan (yang tentu saja tidak akan mengubah kemacetan). Kedua, kamu bisa menerima absurditas situasi itu, menyetel musik favoritmu, mengamati langit sore yang mungkin berwarna jingga indah, dan berkata pada diri sendiri, “Ya, ini macet. Ini bagian dari hidupku sekarang. Aku akan menikmatinya.”
Pilihan kedua adalah cara Sisifus.
Kita sering merasa kosong karena kita menaruh kebahagiaan di masa depan. Kita sering berkata, “Aku akan bahagia kalau sudah menikah,” atau “Aku akan bahagia kalau gaji naik.” Absurdisme menampar kita untuk sadar bahwa masa depan itu tidak pasti. Satu-satunya yang benar-benar kita miliki adalah masa kini. Momen saat ini.
Kamu, yang sedang membaca tulisan ini melalui layar ponsel atau laptop, kamu ada di sini. Napasmu nyata. Masalahmu nyata, tapi kemampuanmu untuk bertahan juga nyata.
Oleh sebab itu, jangan biarkan tekanan untuk “menjadi seseorang” merampok kegembiraanmu menjadi “manusia”. Kadang, menjadi manusia saja sudah cukup melelahkan, dan kamu layak mendapat tepuk tangan hanya karena masih bertahan sampai detik ini.
Penutup
Mungkin besok pagi saat alarm berbunyi, perasaan berat itu masih ada. Camus memang tidak menawarkan obat ajaib yang menghilangkan kegelisahan dalam semalam. Namun, setidaknya kini kamu memiliki cara pandang baru untuk menghadapinya.
Kamu bukan korban dari kehidupan yang kejam. Sebaliknya, kamu adalah pemberontak yang gagah berani. Setiap kali kamu memilih untuk bangun dari tempat tidur meski hatimu lelah, kamu sedang melakukan perlawanan. Setiap kali kamu tersenyum pada barista kopi atau teman kantormu meski pikiranmu kacau, kamu sedang menciptakan makna.
Dunia mungkin tidak peduli padamu, dan hidup mungkin tidak memiliki skenario besar yang tertulis di bintang-bintang. Tapi justru karena itulah, pena ada di tanganmu. Kertasnya kosong dan luas. Kamu bebas mencoretnya, menggambarnya, atau sekadar melipatnya menjadi pesawat kertas dan menerbangkannya.
Dorong batumu. Nikmati keringatnya. Dan jangan lupa, di sela-sela dorongan itu, berhentilah sejenak untuk melihat matahari terbit. Hidup ini absurd, maka nikmatilah pertunjukannya.






