Menulis review jurnal menjadi salah satu keterampilan akademik paling penting bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti. Melalui review jurnal, seseorang tidak hanya menilai kekuatan dan kelemahan penelitian, tetapi juga menunjukkan kemampuannya memahami teori, metodologi, dan konteks ilmiah secara kritis. Dalam dunia akademik modern, menulis review jurnal yang baik dapat membuka jalan menuju publikasi, memperkaya literatur, serta membangun reputasi keilmuan.
Menurut Creswell (2014), literature review atau tinjauan pustaka bukan sekadar rangkuman penelitian terdahulu, tetapi juga merupakan proses evaluasi terhadap arah, relevansi, dan kualitas penelitian sebelumnya. Dengan demikian, ketika seseorang menulis review jurnal, ia sebenarnya sedang berpartisipasi dalam percakapan ilmiah yang terus berkembang.
Artikel ini akan menguraikan secara mendalam langkah-langkah membuat review jurnal, kesalahan umum yang perlu dihindari, contoh penerapan nyata, serta tips agar tulisan kita relevan dan kredibel.
1. Memahami Tujuan dan Fungsi Review Jurnal
Langkah pertama sebelum menulis review jurnal adalah memahami fungsi dasarnya. Review jurnal tidak hanya berfungsi sebagai ringkasan isi artikel, tetapi juga sebagai bentuk evaluasi ilmiah terhadap kualitas, relevansi, dan kontribusi penelitian.
Hart (1998) dalam Doing a Literature Review, tujuan utama review jurnal adalah “to identify, evaluate, and synthesize the existing body of completed and recorded work produced by researchers, scholars, and practitioners.” Artinya, seorang penulis review tidak boleh berhenti pada tahap membaca dan meringkas, melainkan harus menilai posisi dan sumbangan penelitian terhadap bidang ilmu tertentu.
Dalam konteks mahasiswa S2 atau S3, review jurnal sering menjadi dasar penyusunan latar belakang tesis atau disertasi. Melalui proses ini, penulis dapat melihat celah penelitian (research gap) dan menemukan pengembangan ke arah baru. Tanpa kemampuan menulis review jurnal dengan baik, seseorang akan kesulitan membangun kerangka teoritis yang kuat.
2. Menemukan dan Memilih Jurnal yang Relevan
Langkah kedua dalam menulis review jurnal adalah menentukan sumber pengajian. Tidak semua jurnal memiliki kualitas yang sama. Sebuah artikel dari jurnal terindeks Scopus atau Sinta 1 tentu lebih kredibel daripada jurnal blog pribadi. Oleh karena itu, pemilihan sumber menjadi kunci awal kualitas review.
Menurut Machi dan McEvoy (2016) dalam The Literature Review: Six Steps to Success, proses pencarian sumber harus dilakukan secara sistematis dengan kriteria tertentu, seperti reputasi jurnal, tahun terbit, relevansi topik, serta metodologi penelitian.
Sebagai contoh, jika seseorang ingin menulis review jurnal tentang “penggunaan bahasa dalam media sosial,” maka jurnal-jurnal dari bidang linguistik terapan, sosiolinguistik, atau pragmatik akan lebih relevan daripada jurnal umum. Penulis dapat memanfaatkan basis data seperti Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, atau Garuda Dikti untuk menemukan artikel terkini.
Kesalahan umum pada tahap ini ialah memilih jurnal hanya berdasarkan kemudahan akses, bukan relevansi dan kredibilitas. Padahal, kualitas review sangat tergantung pada kualitas sumber review.
3. Membaca Kritis dan Mencatat Gagasan Utama
Setelah menemukan artikel yang sesuai, tahap berikutnya dalam review jurnal adalah membaca secara kritis. Membaca kritis berarti memahami tidak hanya “apa yang tertulis,” tetapi juga “mengapa ditulis” dan “bagaimana peneliti melakukannya.”
Menurut Wallace dan Wray (2016) dalam Critical Reading and Writing for Postgraduates, pembacaan kritis memerlukan tiga tahap: (1) memahami argumen utama penulis, (2) mengidentifikasi bukti yang mendukung, dan (3) mengevaluasi validitas dan logika argumen tersebut.
Selama membaca, penulis review harus mencatat elemen penting seperti:
- Tujuan penelitian
- Pertanyaan penelitian
- Landasan teori
- Metode dan data
- Hasil dan kesimpulan
Sebagai contoh, dalam jurnal Language and Education (2023), artikel berjudul “Digital Literacy and Critical Thinking in University Students” menyoroti hubungan antara kemampuan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Seorang penulis review dapat menyoroti bagaimana peneliti menggunakan metode survei dan analisis regresi, lalu menilai apakah data tersebut cukup untuk mendukung kesimpulan.
Dengan membaca secara kritis, penulis dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan penelitian dalam review, bukan hanya menceritakan ulang isinya.
4. Menyusun Kerangka Review Jurnal
Kerangka merupakan peta berpikir yang membantu penulis menyusun review jurnal secara sistematis. Tanpa kerangka yang jelas, tulisan akan terasa acak dan sulit dipahami.
Kerangka umum review jurnal meliputi:
- Identitas artikel (judul, penulis, tahun, jurnal, volume, halaman)
- Ringkasan isi jurnal
- Analisis dan evaluasi
- Relevansi terhadap bidang ilmu
- Kesimpulan atau rekomendasi
Penyesuaian struktur tergantung tujuan penulisan. Misalnya, review untuk tugas kuliah mungkin lebih menonjolkan ringkasan dan evaluasi, sedangkan review untuk publikasi ilmiah menekankan analisis teoretis dan metodologis.
Menurut Swales dan Feak (2012) dalam Academic Writing for Graduate Students, struktur tulisan yang jelas membantu pembaca mengikuti alur argumen dan memahami posisi penulis terhadap penelitian yang direview.
5. Menulis Ringkasan yang Informatif
Bagian ringkasan dalam review jurnal harus tertulis dengan bahasa yang padat dan objektif. Penulis perlu menguraikan poin-poin penting dari artikel tanpa menambahkan opini pribadi terlebih dahulu.
Contoh:
Artikel karya Rahmawati (2023) berjudul “Analisis Pragmatik pada Tuturan Politik di Media Sosial” membahas bagaimana penggunaan bahasa dapat membentuk persepsi publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik dengan data dari unggahan akun politikus di X (Twitter). Hasilnya menunjukkan bahwa tindak tutur direktif paling dominan dan berperan dalam membangun citra positif.
Ringkasan seperti ini menampilkan informasi inti tanpa terlalu panjang, tetapi tetap memperlihatkan aspek metodologi dan hasil.
6. Menilai Kekuatan dan Kelemahan Penelitian
Tahap evaluatif merupakan inti dari review jurnal. Pada tahap ini, penulis harus berani menilai keunggulan dan kekurangan penelitian secara ilmiah.
Menurut Ridley (2012) dalam The Literature Review: A Step-by-Step Guide for Students, analisis kritis dapat mencakup aspek-aspek seperti kejelasan teori, ketepatan metode, kecukupan data, serta konsistensi antara hasil dan kesimpulan.
Sebagai contoh, jika peneliti hanya menggunakan sampel kecil tanpa menjelaskan kriteria pemilihannya, maka penulis review dapat menyoroti keterbatasan tersebut dan menyarankan penggunaan sampel yang lebih representatif.
Namun, kritik harus bersifat konstruktif. Hindari bahasa yang merendahkan. Gunakan ungkapan seperti “penelitian ini dapat diperkuat dengan…” atau “hasil penelitian ini membuka peluang untuk studi lanjutan.”
7. Mengaitkan dengan Penelitian Lain
Salah satu ciri review jurnal yang kuat adalah kemampuannya menghubungkan penelitian satu dengan penelitian lain yang sejenis. Dengan begitu, pembaca dapat melihat posisi artikel tersebut dalam konteks yang lebih luas.
Sebagai contoh, jika artikel yang direview membahas strategi belajar bahasa kedua, penulis dapat membandingkannya dengan penelitian Ellis (2015) yang menekankan peran kesadaran metalinguistik. Dengan cara ini, review tidak hanya berdiri sendiri, tetapi juga memperlihatkan pemahaman mendalam terhadap bidang kajian.
8. Menulis Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan dalam review jurnal harus menyatukan semua poin sebelumnya secara ringkas dan tegas. Penulis perlu menegaskan nilai kontribusi penelitian yang direview sekaligus menyarankan arah penelitian selanjutnya.
Contoh:
Secara umum, penelitian Rahmawati (2023) memberikan kontribusi penting dalam memahami praktik komunikasi politik di media sosial melalui perspektif pragmatik. Namun, penelitian lanjutan perlu mempertimbangkan faktor multimodalitas untuk memahami bagaimana teks, gambar, dan emoji bekerja bersama dalam membentuk makna politik digital.
Kalimat semacam ini menunjukkan kemampuan berpikir reflektif dan analitis yang menjadi ciri utama seorang akademisi.
9. Kesulitan Umum dalam Menulis Review Jurnal
Banyak penulis pemula mengalami kesulitan saat menulis review jurnal. Kesalahan paling sering terjadi adalah mencampur ringkasan dengan opini pribadi tanpa struktur yang jelas.
Kesulitan lain mencakup:
- Tidak memahami metode penelitian
- Tidak mampu membedakan antara data dan interpretasi
- Mengutip tanpa analisis
- Tidak menemukan relevansi dengan bidang kajian sendiri
Menurut Booth, Colomb, dan Williams (2008) dalam The Craft of Research, penulis yang baik bukan hanya mengutip penelitian, tetapi juga menegosiasikan maknanya dalam konteks baru. Artinya, menulis review jurnal menuntut kemampuan berpikir reflektif dan argumentatif, bukan hanya reproduktif.
10. Tips Menulis Review Jurnal yang Baik
Untuk menghasilkan review jurnal yang kredibel, beberapa tips berikut dapat membantu:
- Gunakan gaya akademik yang konsisten (misalnya APA 7th Edition).
- Fokus pada satu ide utama per paragraf.
- Hindari bahasa evaluatif yang emosional seperti “buruk” atau “salah besar.”
- Gunakan kutipan langsung hanya bila perlu; selebihnya parafrase dengan akurat.
- Gunakan kata transisi seperti selain itu, di sisi lain, sebaliknya, agar tulisan mengalir.
Selain itu, penting juga menjaga etika akademik. Plagiarisme, baik disengaja maupun tidak, dapat merusak kredibilitas penulis. Gunakan alat bantu seperti Turnitin atau Grammarly untuk memastikan orisinalitas dan konsistensi gaya.
11. Contoh Review Jurnal Terbaru (2024–2025)
Sebagai ilustrasi, berikut contoh ringkas review jurnal dari artikel terbaru tahun 2024:
Judul artikel: “AI-Assisted Writing Feedback and Students’ Revision Behavior” (Journal of Applied Linguistics, 2024).
Isi singkat: Artikel ini meneliti dampak penggunaan umpan balik otomatis berbasis kecerdasan buatan terhadap revisi tulisan mahasiswa.
Analisis: Penulis menggunakan metode eksperimen dengan dua kelompok mahasiswa. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan umpan balik AI mengalami peningkatan signifikan dalam kohesi tulisan.
Kelemahan: Penelitian hanya dilakukan selama dua minggu, sehingga efek jangka panjang belum terlihat.
Relevansi: Artikel ini relevan untuk kajian linguistik terapan dan pendidikan bahasa di era digital.
Dari contoh ini, kita melihat bagaimana penulis review menyoroti aspek metodologis, hasil, dan keterbatasan dalam bahasa yang lugas dan akademik.
12. Dampak Positif Menulis Review Jurnal
Menulis review jurnal memiliki dampak yang luas terhadap perkembangan intelektual seseorang. Kegiatan ini melatih kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif. Selain itu, review jurnal juga memperluas wawasan terhadap perkembangan penelitian terbaru.
Bagi dosen dan peneliti, review jurnal membantu dalam memantau arah riset dan menemukan peluang kolaborasi. Sementara bagi mahasiswa, aktivitas ini menjadi sarana latihan menuju publikasi ilmiah.
Dengan kata lain, menulis review jurnal bukan hanya tugas akademik, tetapi juga proses membangun kepekaan ilmiah dan etika keilmuan.
13. Penutup: Menjadikan Review Jurnal Sebagai Praktik Akademik Berkelanjutan
Menulis review jurnal menuntut ketelitian, kedalaman berpikir, dan sikap ilmiah yang jujur. Proses ini bukan sekadar menilai karya orang lain, melainkan juga belajar tentang cara berpikir ilmiah yang sistematis.
Sebagaimana dikatakan Zinsser (2006) dalam On Writing Well, “Good writing is rewriting.” Artinya, setiap kali menulis review jurnal, penulis juga sedang merevisi cara berpikirnya sendiri agar lebih tajam dan reflektif.
Dengan memahami langkah-langkah yang tepat, memilih sumber kredibel, membaca kritis, serta menulis dengan struktur yang baik, siapa pun dapat menghasilkan review jurnal yang bermutu tinggi dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.






