50 Daftar Kata Baku dan Tidak Baku

MBTI

Dalam Artikel Ini

Bahasa Indonesia memiliki aturan yang jelas mengenai pemakaian kata baku, terutama dalam konteks akademik, administratif, maupun jurnalistik. Penguasaan kata baku tidak hanya menunjukkan kemampuan berbahasa yang baik, tetapi juga mencerminkan ketepatan berpikir dan profesionalitas penulis. Dalam penulisan ilmiah maupun komunikasi resmi, memilih kata baku menjadi bentuk tanggung jawab intelektual yang sejalan dengan kaidah Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

Pengertian Kata Baku Menurut Para Ahli

Menurut Kridalaksana (2008: 99), kata baku merupakan satuan leksikal yang bentuk dan ejaannya sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Dengan kata lain, kata baku adalah bentuk yang dianggap benar berdasarkan pedoman ejaan dan tata bahasa resmi. Alwi dkk. (2010) dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia menegaskan bahwa kata baku digunakan dalam situasi resmi, seperti tulisan ilmiah, surat dinas, dan karya akademik.

Sementara itu, Chaer (2012) berpendapat bahwa kebakuan suatu kata tidak hanya ditentukan oleh ejaan, tetapi juga oleh penerimaan sosial. Artinya, kata yang diakui oleh masyarakat terdidik sebagai bentuk yang benar menjadi acuan kebakuan. Oleh karena itu, memahami kata baku berarti memahami kesepakatan bersama tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Ciri-Ciri Kata Baku dalam Bahasa Indonesia

Untuk membedakan kata baku dengan tidak baku, kita perlu mengenali ciri-cirinya. Pertama, kata baku mengikuti kaidah EYD dalam hal penulisan huruf, imbuhan, dan tanda baca. Kedua, kata baku tidak dipengaruhi oleh dialek daerah atau ragam lisan. Misalnya, kata nggak dan gak lazim dalam percakapan sehari-hari, tetapi bentuk bakunya adalah tidak.

Ketiga, kata baku digunakan dalam konteks resmi, sedangkan kata tidak baku muncul dalam situasi nonformal. Misalnya, kata sekedar sering digunakan dalam tulisan media sosial, padahal bentuk bakunya adalah sekadar. Keempat, kata baku tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Paket Penerbitan Buku

Penyebab Terjadinya Kesalahan dalam Penggunaan Kata Baku

Kesalahan penggunaan kata baku sering terjadi karena pengaruh bahasa daerah, bahasa asing, dan kebiasaan dalam ragam lisan. Moeliono (2015) menyatakan bahwa interaksi bahasa dalam masyarakat majemuk menyebabkan pergeseran bentuk kata dan munculnya variasi tidak baku. Selain itu, media digital juga berperan besar dalam memperkuat kebiasaan menulis bentuk tidak baku karena lebih cepat dan praktis.

Kesalahan lain juga muncul akibat kurangnya kesadaran literasi bahasa. Banyak penulis atau pelajar mengira bentuk yang sering digunakan di media sosial sudah benar, padahal tidak sesuai dengan kaidah. Misalnya, penulisan aktifitas yang seharusnya aktivitas.

Unsur-Unsur Pembentukan Kata Baku

Bahasa Indonesia mengenal proses morfologis dalam pembentukan kata baku. Menurut Ramlan (2001), ada tiga unsur utama dalam pembentukan kata, yakni dasar, imbuhan, dan proses morfemis. Kata baku terbentuk melalui proses penambahan afiks seperti me-, ber-, ter-, ke-, -an, dan sebagainya.

Contohnya, kata dasar ajar dapat menjadi belajar (melalui prefiks ber-) atau pelajaran (melalui kombinasi pe- + ajar + -an). Namun, bentuk seperti ngajar tidak termasuk kata baku karena tidak sesuai kaidah morfologi formal.

Pemahaman terhadap unsur pembentuk ini membantu penulis menghindari kesalahan yang sering terjadi pada bentuk turunan, seperti menyebarkan (baku) vs nyebarin (tidak baku).

Fungsi Penggunaan Kata Baku dalam Teks Resmi

Kata baku berfungsi untuk menjaga keseragaman bahasa dalam komunikasi tertulis maupun lisan yang bersifat resmi. Dalam karya ilmiah, misalnya, penggunaan kata baku menjamin kredibilitas penulis. Pembaca akan menilai ketelitian penulis dari kemampuannya menjaga kebakuan bahasa.

Selain itu, kata baku juga berfungsi sebagai penanda kesantunan bahasa. Bahasa yang baik dan benar mencerminkan sikap hormat terhadap pembaca atau lawan tutur. Dalam surat dinas, laporan penelitian, atau naskah akademik, kesalahan memilih kata dapat mengubah makna dan mengurangi nilai formalitas.

Perbandingan antara Kata Baku dan Tidak Baku

Untuk memperjelas perbedaan, berikut contoh 50 daftar kata baku dan tidak baku yang sering salah digunakan:

Kata Tidak Baku Kata Baku
acuh tak acuh tidak acuh
antri antre
ijin izin
resiko risiko
kwalitas kualitas
aktifitas aktivitas
sekedar sekadar
nasehat nasihat
hutang utang
himbauan imbauan
merubah mengubah
ijazah ijazah (baku, tetapi sering salah eja menjadi ijasah)
apotik apotek
cengkram cengkeram
faham paham
kwitansi kuitansi
kreatifitas kreativitas
praktekan praktikkan
pemutahiran pemutakhiran
tehnologi teknologi
subyek subjek
obyek objek
sekolahan sekolah
analisa analisis
diagnosa diagnosis
atlit atlet
silahkan silakan
respek respek (baku, tetapi sering ditulis respect)
fakultatif fakultatif (baku, namun kadang salah eja menjadi fakultasif)
lembab lembap
sumurbor sumur bor
tanggungjawab tanggung jawab
tanggunganjawab tanggung jawab
telpon telepon
universitas universitas (baku, tapi sering dikacaukan dengan “universiti”)
jendral jenderal
kwalifikasi kualifikasi
kwalifikasi kualifikasi
praktek praktik
kwalitatif kualitatif
karna karena
supaya supaya (baku, tapi sering salah konteks menjadi biar)
ngerasa merasa
ngambil mengambil
bikin membuat
ngomong berbicara
nggak tidak
banget sekali
cepet cepat
nyampe sampai

Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar bentuk tidak baku muncul karena pengaruh lisan dan penyederhanaan dalam komunikasi sehari-hari.

Kata Baku dalam Dunia Akademik dan Profesional

Dalam dunia akademik, kata baku menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas karya tulis. Penulis yang menggunakan kata baku menunjukkan kedisiplinan berbahasa dan penghargaan terhadap standar ilmiah. Sebaliknya, penggunaan kata tidak baku dapat menurunkan mutu tulisan.

Dalam bidang profesional, seperti hukum, pendidikan, dan jurnalistik, kata baku juga memiliki peran penting. Misalnya, dalam dokumen hukum, perbedaan satu huruf dapat menimbulkan tafsir ganda. Oleh karena itu, konsistensi dalam penggunaan kata baku menjadi indikator profesionalisme dan kejelasan makna.

Tips Menghindari Penggunaan Kata Tidak Baku

Menurut Sugono (2018), salah satu cara menghindari kesalahan penggunaan kata tidak baku ialah dengan selalu merujuk pada KBBI daring sebelum menulis. Selain itu, pembaca juga perlu membiasakan diri dengan ejaan dan tata bahasa melalui bacaan ilmiah. Berikut langkah sederhana:

  1. Biasakan membaca karya ilmiah atau berita resmi.
  2. Gunakan fitur cek kata di situs KBBI.
  3. Latih diri menulis ulang kata tidak baku ke bentuk baku setiap kali menulis.
  4. Hindari meniru bentuk populer di media sosial tanpa verifikasi.

Paket Konversi Buku

Peran EYD dalam Menentukan Kebakuan Kata

EYD, yang kini diperbarui menjadi PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia), menjadi acuan utama dalam penulisan kata baku. Menurut Pusat Bahasa (2017), PUEBI mencakup pedoman penulisan huruf, kata, tanda baca, dan unsur serapan. Kata baku tidak hanya ditentukan dari ejaan, tetapi juga dari penerimaan terhadap bentuk serapan asing yang sudah disesuaikan.

Sebagai contoh, kata teknologi berasal dari bahasa Inggris technology. Dalam bahasa Indonesia, bentuk baku mengikuti penyesuaian fonologis dan morfologis sehingga tetap mudah diucapkan tanpa kehilangan makna asalnya.

Pentingnya Literasi Bahasa untuk Menjaga Kata Baku

Kemampuan berbahasa yang baik berkaitan erat dengan tingkat literasi. Literasi bahasa membantu penulis memahami konteks, struktur, dan makna kata baku. Dengan literasi yang kuat, seseorang mampu menggunakan kata secara efektif sesuai situasi komunikasi.

Menurut Suyono (2020), literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga kesadaran terhadap fungsi sosial bahasa. Dengan demikian, kebakuan kata tidak boleh dipahami secara mekanis, melainkan sebagai bagian dari upaya menjaga martabat bahasa Indonesia.

Kesimpulan

Memahami dan menggunakan kata baku secara tepat merupakan bentuk penghargaan terhadap bahasa Indonesia sebagai identitas nasional. Kata baku menuntun penulis agar berkomunikasi secara efektif, santun, dan ilmiah. Kesalahan dalam penulisan kata sering kali terlihat kecil, namun dapat menurunkan kredibilitas dan kejelasan pesan.

Dengan berpedoman pada KBBI dan PUEBI, penulis dapat memperbaiki kebiasaan berbahasa dan menghindari bentuk tidak baku yang lazim dalam percakapan sehari-hari. Setiap penulis, pelajar, maupun profesional hendaknya menjadikan kata baku sebagai standar utama dalam menulis agar bahasa Indonesia tetap hidup, terpelihara, dan bermartabat di tengah arus globalisasi.