Dalam kancah jurnalisme dan literasi Indonesia, nama Rusdi Mathari atau Cak Rusdi memiliki resonansi yang unik. Ia bukan sekadar wartawan senior; ia adalah seorang penulis reportase yang mengangkat tema-tema kecil yang kerap luput dari pengamatan, seorang eseis yang menyentil kesombongan intelektual dengan humor sufistik, dan seorang pejuang yang menempuh jalur keras demi membela idealisme jurnalistik.
Meskipun Cak Rusdi telah berpulang pada tahun 2018, warisan tulisannya—yang sering disandingkan dengan gaya realisme magis ala Gabriel Garcia Marquez—terus hidup, menginspirasi ribuan pembaca dan penulis muda. Karya-karyanya, terutama Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, telah menjadi bacaan wajib bagi mereka yang mencari kedalaman, kejujuran, dan kritik sosial yang dibalut kehangatan humanis.
Bagi Anda yang ingin memahami bagaimana kejujuran dan keberanian dapat menghasilkan karya literasi yang abadi, memahami biografi Rusdi Mathari adalah suatu keharusan. Artikel ini akan membawa Anda menyelami kehidupan seorang wartawan old school, menempuh karir yang penuh gejolak, dan meninggalkan jejak kenangan melalui buku-buku yang mengkritik, tetapi juga merangkul realitas Indonesia.
1. Pengenalan: Sosok Keras Kepala, Humor yang Menyentuh, dan Warisan Kesederhanaan
Rusdi Mathari, lahir di Situbondo, Jawa Timur, pada 12 Oktober 1967, adalah perwujudan dari kontradiksi yang harmonis. Ia adalah sosok yang keras kepala dalam memegang prinsip, tetapi di saat yang sama, ia adalah seorang pencerita ulung yang kisah-kisahnya selalu mengundang tawa dan mengandung kehangatan. Sikap ini—memadukan idealisme yang kaku dengan humanisme yang lentur—menjadi ciri khas yang tak terpisahkan dari kepribadian maupun karyanya.
A. Titik Balik Kehidupan dan Panggilan Menulis
Masa muda Rusdi Mathari penuh dengan warna, dari urusan berkelahi, pacaran, hingga menjadi bagian dari sebuah geng saat SMA. Ia sempat mengambil jurusan Teknik Sipil di Malang, tetapi tidak menyelesaikannya. Titik balik dramatis terjadi ketika ia memutuskan meninggalkan bangku kuliah dan merantau ke Jakarta. Perpindahan ini menjadi momentum ketika ia memilih jalan wartawan sebagai panggilan hidupnya. Ia menyatakan bahwa jurnalisme adalah pilihan untuk memegang teguh prinsip—ia pantang menulis berita bohong dan menolak jurnalisme yang terburu-buru. Baginya, “Menulis adalah pekerjaan saya. Karena itu saya mencoba menulis menggunakan gajet, meskipun hanya dengan satu jari,” sebuah kutipan yang menunjukkan dedikasi totalnya terhadap profesi, bahkan ketika penyakit kanker telah merenggut kemampuan fisiknya.
B. Gaya Penulisan “Old School” yang Filosofis
Rusdi Mathari sering mendapatkan label sebagai wartawan old school (gaya lama). Ini bukan berarti ia gagap teknologi, melainkan merujuk pada prinsipnya dalam memproses informasi dan menuangkannya.
- Tidak Terburu-buru: Ia kerap memeram ide dan bahan tulisan hingga matang betul. Ia menolak tren media yang menjejalkan banyak angle dalam satu tulisan, memilih untuk fokus pada kedalaman dan satu esensi cerita.
- Humanisme di Balik Data: Meskipun mampu menulis laporan investigasi yang tajam mengenai konflik besar (seperti ekspansi sawit atau konflik agama), hati Cak Rusdi selalu tertuju pada tema-tema kecil yang luput dari pengamatan. Ia suka menugaskan reporter muda untuk meliput stasiun kereta. Bukan untuk mencari berita besar, melainkan untuk menemukan kisah sunyi, ironi, dan kejenakaan manusia biasa.
- Jurnalisme Sastrawi: Gaya penulisannya mempunyai ciri khas sudut pandang yang menarik dan mudah dipahami, gaya khas sastrawan Amerika Latin. Ia memasukkan humor dan sentuhan religius/sufistik ke dalam narasi reportase, membuat tulisan non-fiksi menjadi renyah, terbaca seperti fiksi. Ia tidak hanya melaporkan fakta, tetapi juga menelanjangi motif, rasa malu, dan kegilaan di balik tindakan manusia.
Rusdi Mathari adalah sosok yang membuktikan bahwa jurnalisme adalah bentuk sastra yang bertugas menemukan kebenaran di tengah keriuhan. Warisannya adalah ajakan untuk selalu bertanya, mencari yang tersembunyi, dan tidak pernah berkompromi dengan kejujuran, sekaku apa pun tantangannya.
2. Sepak Terjang Karir Jurnalisme: Keras Kepala yang Membawa Perubahan
Karir Rusdi Mathari di dunia jurnalistik membentang sejak awal tahun 1990-an hingga akhir hayatnya. Ia menjalankan dengan loyalitas dan enggan untuk tunduk pada kepentingan modal atau politik redaksi.
A. Melanglang Buana di Media Nasional
Rusdi Mathari meniti karir melalui berbagai institusi media terkemuka, dari media cetak hingga digital. Pengalaman ini memberinya pemahaman holistik tentang dinamika ruang redaksi.
- Awal Karir (1990-an): Ia memulai sebagai freelancer di Suara Pembaruan sebelum kemudian bekerja sebagai Redaktur di InfoBank (1994–2000). Pengalaman di InfoBank memberinya ketajaman dalam menganalisis data dan isu-isu ekonomi.
- Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT): Ia sempat menjadi penanggung jawab rubrik di PDAT Majalah Tempo, sebuah posisi yang sangat strategis dalam jurnalistik investigasi. Di bawah bimbingan senior seperti Bambang Bujono, Rusdi memperkuat pakem-pakem tradisionalnya dalam menulis reportase mendalam.
- Media Lain: Karirnya berlanjut sebagai redaktur di Majalah Trust, Redaktur Pelaksana di Koran Jakarta (2009–2010), Redaktur Pelaksana di BeritaSatu (2010–2011), dan bahkan memegang posisi Pemimpin Redaksi di VHR Media (2012–2013) sebelum akhirnya menjadi Redaktur Eksekutif di Rimanews.com.
B. Konflik dan Pembelaan Prinsip (Kasus “Keras Kepala”)
Sikap Rusdi Mathari yang keras kepala pada yang diyakininya sering kali membawanya pada masalah dengan manajemen media. Salah satu insiden paling terkenal terjadi pada tahun 2011. Rusdi gencar mengusulkan perbaikan manajemen ruang redaksi dan menuntut kesejahteraan yang lebih baik bagi jurnalis di sebuah koran tempatnya bekerja.
Protesnya memuncak menjadi aksi mogok yang melibatkan sejumlah wartawan. Manajemen merespons dengan menuduh Rusdi Mathari sebagai dalang dan bahkan melaporkannya ke polisi dengan sangkaan penggelapan aset kantor (laptop). Kisah pahit ini, yang berakar dari pembelaan terhadap etika dan kesejahteraan jurnalisme. Ia dokumentasikannya dalam bukunya Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan. Kasus ini menunjukkan bahwa bagi Cak Rusdi, jurnalisme adalah perjuangan kelas dan harga diri yang tidak mengenal kompromi.
C. Mentoring dan Warisan Kemanusiaan
Meskipun terkenal kaku terhadap sistem dan cepat marah pada tulisan yang dianggapnya tidak jujur atau dangkal, Cak Rusdi adalah sosok yang mengayomi anak-anak muda. Ia dikenal sangat humoris dan senang berbagi kisah jenaka, yang seringkali ia sisipkan nasihat filosofis. Ia mengajarkan reporter muda untuk tidak puas hanya dengan wawancara humas, tetapi harus turun langsung ke lapangan (reportase) dan mencari narasumber dari berbagai sudut pandang.
Bahkan ketika ia terbaring sakit karena kanker tulang yang parah, Rusdi Mathari terus menulis. Kalimatnya, “Saya harus mengetik, harus bertahan dan hidup. Menulis adalah pekerjaan saya,” menjadi inspirasi. Ini bukti bahwa menulis adalah iman baginya, sebuah tugas yang harus diselesaikan hingga napas terakhir.
3. Karya-karya Abadi: Menyelami Kedalaman Pemikiran Rusdi Mathari
Buku Rusdi Mathari terbagi dalam dua kategori besar: kumpulan reportase investigatif yang mencerminkan ketajaman jurnalisnya, dan esai/kisah fiksi yang kaya akan refleksi spiritual dan humanisme. Karya-karyanya ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Mojok dan mendapat sambutan luas karena gayanya yang unik.
A. Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura (Promo di sini)
- Genre: Esai Filsafat/Humor Sufistik
- Penjelasan: Ini adalah karya Rusdi Mathari yang paling ikonik dan melambungkan namanya di kalangan pembaca muda. Buku ini berawal dari serial tulisan yang dimuat di situs Mojok.co. Kisah ini berpusat pada tokoh Cak Dlahom, seorang sufi jalanan atau “orang gila” dari Madura yang selalu memberikan kritik tajam dan jenaka terhadap kesombongan intelektual dan ritual agama yang kaku.
- Kontribusi Intelektual: Melalui dialog antara Cak Dlahom dengan tokoh-tokoh lugu lainnya, Rusdi Mathari mengupas tuntas ironi kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia. Ia menantang pembaca untuk merenungkan, “Mengapa kita begitu sibuk merasa pintar, padahal untuk menjadi bodoh saja kita tidak punya waktu?” Buku ini mengajarkan kerendahan hati, kejujuran batin, dan hakikat ibadah yang sesungguhnya.
B. Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam: Sehimpun Reportase (Promo di sini)
- Genre: Jurnalisme Sastrawi/Reportase Non-fiksi
- Penjelasan: Kumpulan ini berisi reportase dan tulisan-tulisan terbaik Rusdi Mathari yang menunjukkan keahliannya dalam menggali tema-tema kecil yang memiliki resonansi besar. Judul buku ini sendiri mencerminkan perhatiannya pada detail remeh-temeh yang sering diabaikan.
- Kontribusi Intelektual: Buku ini adalah masterclass dalam jurnalisme sastrawi. Rusdi Mathari tidak hanya menyajikan fakta, tetapi ia menyajikan jiwa dari fakta tersebut. Ia membawa pembaca ke dalam kehidupan para korban, orang-orang biasa, dan anomali sosial, menggunakan diksi yang puitis dan narasi yang mengalir, mirip novel. Karya ini menunjukkan bahwa reportase terbaik adalah yang mampu menyentuh sisi kemanusiaan pembaca.
C. Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis (Ambil promonya di sini)
- Genre: Fiksi/Kisah Humanis
- Penjelasan: Karya ini, yang juga memiliki judul lain seperti Laki-Laki Memang Tidak Menangis, Tapi Hatinya Berdarah, Dik, mengeksplorasi tema-tema kerentanan, kejantanan, kesendirian, dan duka yang sering disembunyikan oleh laki-laki.
- Kontribusi Intelektual: Melalui cerita-cerita ini, Rusdi Mathari melakukan dekonstruksi terhadap mitos maskulinitas yang kaku. Ia membuka ruang bagi pembaca untuk merasakan emosi yang jujur dan melankolis, menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada keberanian mengakui kelemahan dan duka. Karya ini menjadi sangat populer karena resonansi emosionalnya yang kuat.
D. Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan (Ambil promonya di sini)
- Genre: Kritik Media/Non-fiksi
- Penjelasan: Buku ini adalah manifesto dan kritik tajam Rusdi Mathari terhadap praktik jurnalisme modern. Di dalamnya, ia mendokumentasikan perjuangannya menuntut profesionalisme dan kesejahteraan jurnalis, termasuk kronologi konflik dengan manajemen yang berujung pada kasus penggelapan.
- Kontribusi Intelektual: Buku ini adalah pelajaran wajib bagi setiap calon jurnalis. Rusdi Mathari berargumen bahwa jurnalisme terlalu penting untuk hanya diserahkan kepada wartawan, sebuah pernyataan yang menuntut agar masyarakat sipil dan pembaca juga mengambil peran aktif dalam mengontrol dan memproduksi informasi yang jujur. Di awal-awal mengajukan gagasan ini banyak wartawan yang tak sepandapat dengan Rusdi, tapi perkembangan media sosial justru memberi ruang terwujudnya gagasan itu.
F. Laki-laki Memang Tidak Menangis, Tapi Hatinya Berdarah, Dik (Ambil bukunya di sini)
- Genre: Puisi
- Penjelasan: Buku ini berisi kumpulan prosa pendek dari Almarhum Rusdi Mathari. Naskah ini telah terkirim ke redaksi Buku Mojok dan belum sempat terbit sampai ia wafat. Membaca buku ini seperti menyelami sisi lain Cak Rusdi. Melankolis, lembut dan begitu landai. Seperti seorang remaja yang sedang kasmaran pada cinta pertamanya, Cak Rusdi menulis prosa dalam buku ini.
G. Aleppo: Memoar Pendek tentang Hidup yang Panjang (Ambil bukunya di sini)
- Genre: Memoar nonfiksi
- Penjelasan: Membaca tulisan Cak Rusdi dalam kumpulan ini berarti membaca sosoknya. Bagaimana tingkahnya saat ia muda, keras kepalanya saat menjadi wartawan, hingga bagaimana ia ketika menjadi sosok suami sekaligus ayah.
H. Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit

- Genre: Memoar nonfiksi
- Penjelasan: “Saya harus mengetik, harus bertahan dan hidup. Menulis adalah pekerjaan saya. Karena itu saya mencoba menulis menggunakan gajet, meskipun hanya dengan satu jari. Tangan kiri memegang gajet, jempol tangan kanan mengetik.” Cak Rusdi menulis buku ini dengan satu jari, dan merupakan karya terakhir yang terlahir darinya. Namun, meskipun begitu Seperti Roda Berputar oleh banyak orang disebut sebagai buku yang paling mendapatkan tempat terladam di hati pembanya.
Rusdi Mathari adalah penulis yang mengubah pengalamannya, bahkan rasa sakitnya, menjadi materi yang mendalam. Karyanya—sebagai seorang wartawan, penulis, dan pencerita—adalah warisan abadi yang terus mendorong pembaca Indonesia untuk berpikir lebih dalam, merasakan lebih jujur, dan berani bersuara di tengah keriuhan. Ia telah menetapkan standar bahwa tulisan yang terbaik adalah yang berasal dari hati nurani yang paling keras kepala.











