9 Aturan Penulisan Kata Berimbuhan agar Tidak Salah

Dalam Artikel Ini

Kata berimbuhan merupakan salah satu aspek penting dalam bahasa Indonesia yang menentukan ketepatan dan kejelasan komunikasi tertulis. Penggunaan imbuhan yang tepat membuat kalimat menjadi jelas, bermakna, dan mudah dipahami. Sebaliknya, kesalahan penulisan kata berimbuhan dapat menimbulkan ambigu, mengganggu ritme bahasa, bahkan mengurangi kredibilitas penulis. Oleh karena itu, memahami aturan penulisan kata berimbuhan menjadi keterampilan krusial bagi penulis, akademisi, dan siapa saja yang sering menggunakan bahasa tulis.

Dalam praktiknya, kata berimbuhan mencakup penggunaan awalan, akhiran, sisipan, dan kombinasi di antaranya. Pemahaman mendalam terhadap struktur kata ini membantu penulis menulis dengan benar dan konsisten. Artikel ini akan membahas 9 aturan penulisan kata berimbuhan, dilengkapi dengan pengertian, unsur-unsur kata berimbuhan, dan tips agar penulis terhindar dari kesalahan umum.

Pengertian Kata Berimbuhan

Kata berimbuhan adalah kata dasar yang memperoleh imbuhan berupa awalan, akhiran, atau sisipan sehingga membentuk makna baru atau menyesuaikan fungsi gramatikal dalam kalimat. Menurut Poedjosoedarmo (2001), imbuhan merupakan salah satu ciri fleksibilitas bahasa Indonesia, di mana kata dasar dapat diubah bentuknya tanpa kehilangan akar makna.

Contohnya, kata dasar tulis dapat berubah menjadi menulis (dengan awalan me-), tertulis (dengan awalan ter-), atau penulisan (dengan awalan pe- dan akhiran -an). Pemahaman pengertian kata berimbuhan penting agar penulis bisa menyesuaikan bentuk kata dengan konteks kalimat, memperhatikan subjek, objek, dan tujuan komunikasi.

Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik mendefinisikan imbuhan atau afiks sebagai morfem terikat yang melekat pada bentuk dasar dan dapat mengubah makna gramatikal suatu bentuk dasar. Jadi, kata berimbuhan merupakan bentuk kata yang sudah mengalami proses afiksasi, yaitu penambahan imbuhan pada kata dasar.

Unsur utama yang membentuk kata berimbuhan adalah afiks (imbuhan) dan kata dasar (bentuk dasar). Afiks sendiri terbagi menjadi empat jenis berdasarkan posisinya, yang perlu kita kenali dengan baik:

  1. Prefiks (Awalan): Imbuhan yang berada di awal kata dasar, seperti me-, ber-, di-, ter-, pe-, per-, se-, dan ke-.
  2. Infiks (Sisipan): Imbuhan yang terselip di tengah kata dasar, seperti -el-, -em-, dan -er-.
  3. Sufiks (Akhiran): Imbuhan yang berada di akhir kata dasar, seperti -kan, -an, -i, dan -nya.
  4. Konfiks (Gabungan Awalan dan Akhiran/Apitan): Imbuhan yang hadir sekaligus di awal dan di akhir kata dasar, seperti ke-an, peN-an, per-an, dan me-kan.

Keempat jenis imbuhan ini membentuk kata turunan yang memiliki fungsi dan makna baru. Mustakim, dalam buku Bentuk dan Pilihan Kata, menegaskan bahwa pengimbuhan merupakan salah satu cara paling produktif dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Kesalahan dalam menuliskan gabungan antara afiks dan kata dasar ini sering terjadi, terutama karena adanya variasi bentuk afiks dan peluluhan fonem. Oleh sebab itu, kita wajib menguasai kaidah penulisannya.

Paket Penerbitan Buku

Sembilan Aturan Penulisan Kata Berimbuhan 

Kata berimbuhan sendiri, dalam studi linguistik yang mendalam, selalu menjadi topik sentral karena peranannya yang vital dalam pembentukan kosakata. Ia mengubah makna dasar, kelas kata, bahkan memberikan nuansa makna baru pada sebuah kata. Proses penambahan imbuhan ini, atau yang kita sebut afiksasi, menghasilkan keragaman bentuk kata yang sangat produktif dalam bahasa kita. Oleh karena itu, penulisan yang salah terhadap kata berimbuhan tidak hanya mengganggu estetika berbahasa, tetapi juga berpotensi mengubah makna yang ingin kita sampaikan.

Penulisan kata berimbuhan diatur secara rinci dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), yang memberikan kita kepastian dalam berbahasa tulis. Kita wajib memperhatikan setiap detail aturan ini agar tulisan kita mencapai standar kebahasaan yang baku dan jelas.

1. Awalan, Sisipan, dan Akhiran Kita Tulis Serangkai dengan Kata Dasar

Aturan paling fundamental dan paling sering kita gunakan adalah menuliskan imbuhan tunggal—baik awalan (prefiks), sisipan (infiks), maupun akhiran (sufiks)—secara serangkai (dirangkai tanpa spasi) dengan kata dasar.

  • Contoh: berjalan, gelembung, membuat, ditulis, tercinta, pelajar, perdana, semalam, keluarga, bukuku, makanan, dugaan, larangi.

Kita tidak boleh memisahkannya dengan spasi atau tanda hubung. Kesalahan seperti ‘di tulis’ atau ‘ber jalan’ harus kita hindari karena bentuk tersebut melanggar kaidah penulisan kata berimbuhan.

2. Gabungan Awalan dan Akhiran Kita Tulis Serangkai

Ketika sebuah kata dasar mendapat gabungan imbuhan, atau yang kita kenal sebagai konfiks atau apitan, kita tetap menuliskannya secara serangkai sebagai satu kesatuan kata.

  • Contoh: keadilan, pembuatan, perdagangan, berdatangan, melaporkan, diambilkan.

Aturan ini memastikan bahwa semua unsur pembentuk kata berimbuhan tetap terikat menjadi satu bentuk kata baru. Misalnya, kita menulis ‘pelaksanaan’, bukan ‘pe laksana an’ atau ‘pe-laksanaan’.

3. Penulisan Imbuhan pada Gabungan Kata (Kata Majemuk)

Aturan ini memiliki dua kondisi penting yang harus kita perhatikan saat kata dasar berbentuk gabungan kata (kata majemuk):

Kondisi A: Hanya mendapat Awalan atau Akhiran (Sufiks)

Jika gabungan kata hanya mendapat awalan atau hanya mendapat akhiran, kita menuliskan imbuhan itu serangkai hanya dengan kata yang langsung mengikutinya atau mendahuluinya.

  • Contoh Awalan: bertepuk tangan (bukan bertepuktangan), mengambil alih (bukan mengambilalih).
  • Contoh Akhiran: garisi bawah (bukan garisbawahi), jabat tangankan (bukan jabattangankan).

Kondisi B: Mendapat Awalan dan Akhiran Sekaligus (Konfiks)

Jika gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, kita menuliskan seluruh unsur gabungan itu menjadi satu kata yang serangkai.

  • Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan, ketidakteraturan.

Kita harus mengingat perbedaan dua kondisi ini, karena kesalahan di sini sangat sering terjadi. Misalnya, kita wajib menulis ‘menggarisbawahi’ dan ‘bertepuk tangan’—memisahkannya pada kondisi A dan menyambungkannya pada kondisi B.

4. Peluluhan Fonem pada Awalan meN- dan peN- Kita Tulis dengan Benar

Awalan meN- dan peN- merupakan imbuhan yang paling dinamis karena bentuknya berubah-ubah (me-, mem-, men-, meng-, meny-, dan pe-, pem-, pen-, peng-, peny-) dan sering menyebabkan peluluhan huruf awal kata dasar (K, T, S, P) jika diikuti huruf vokal. Kita harus menuliskan peluluhan ini secara benar:

  • Luluh: Jika kata dasar berawal K, T, S, P dan diikuti vokal, huruf awal kata dasar akan luluh dan digantikan oleh bentuk meN- atau peN- yang sesuai.
    • Contoh: meN- + ketik -> mengetik (K luluh), meN- + sapu -> menyapu (S luluh).
  • Tidak Luluh: Jika K, T, S, P diikuti konsonan (gugus konsonan) atau jika huruf awalnya B, D, G, J, C, Z, F, V, H, dan vokal.
    • Contoh: meN- + produksi -> memproduksi (P tidak luluh), meN- + baca -> membaca (B tidak luluh).

Menguasai aturan peluluhan ini sangat krusial, karena kesalahan seperti menulis ‘mensukseskan’ atau ‘mempraktekkan’ (seharusnya menyukseskan dan mempraktikkan) sering kita temukan dalam berbagai tulisan.

5. Awalan ber- Kita Tulis Sesuai Kaidah Peluluhan

Awalan ber- juga memiliki variasi bentuk yang perlu kita pahami:

  •  Awalan ber- juga memiliki variasi bentuk yang perlu kita pahami:
  • Ia berubah menjadi bel- jika bertemu kata dasar ajar -> belajar.
  • Ia berubah menjadi be- jika bertemu kata dasar yang diawali r atau kata dasar yang suku pertamanya mengandung er -> bekerja (kerja), berenang (renang).
  • Pada kondisi lain, ia tetap ber- -> berjalan, berdoa.

Kita perlu memastikan tidak ada pelesapan awalan ber- yang tidak sesuai kaidah, misalnya menulis ‘hasil’ padahal maksudnya ‘berhasil’ atau ‘bapak’ padahal maksudnya ‘berbapak’.

Paket Konversi Buku

6. Penulisan Imbuhan dengan Kata yang Berhuruf Awal Kapital

Ketika kita membubuhkan imbuhan pada kata yang berhuruf awal kapital, seperti nama diri, singkatan yang berupa akronim atau huruf kapital, kita wajib menggunakan tanda hubung (-) untuk merangkaikannya.

  • Contoh: non-Indonesia, anti-PKI, pro-Barat, di-PHK.

Tanda hubung ini berfungsi sebagai pemisah yang jelas antara imbuhan dan bentuk dasar yang penulisannya harus diawali huruf kapital. Kita tidak boleh menulis ‘nonIndonesia’ atau ‘diPHK’ tanpa tanda hubung.

7. Penulisan Bentuk Terikat Kita Tulis Serangkai

Bahasa Indonesia memiliki apa yang kita sebut sebagai bentuk terikat, yaitu unsur yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus digabungkan dengan unsur lain untuk membentuk kata bermakna penuh. Bentuk terikat ini, seperti adi-, infra-, pascwa-, nara-, manca-, dwi-, tuna-, dan anti-, harus kita tulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

  • Contoh: adibusana, infrastruktur, pascwasarjana, narapidana, mancanegara, dwiwarna, tunakarya, antibiotik.

Akan tetapi, jika bentuk terikat ini diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital, kita harus merangkaikannya dengan tanda hubung, seperti yang sudah kita bahas pada aturan nomor 6.

  • Contoh: anti-Amerika, non-Indonesia.

8. Pengecualian pada Bentuk maha

Bentuk terikat maha- mendapat perlakuan khusus karena sering merujuk pada sifat atau nama Tuhan.

  • Ditulis Terpisah: Jika maha- diikuti kata turunan (kata berimbuhan) atau gabungan kata yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan, kita menuliskannya terpisah dengan huruf awal kapital.
    • Contoh: Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Penyayang.
  • Ditulis Serangkai: Jika maha- diikuti kata dasar yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan, kita menuliskannya serangkai, kecuali kata Esa.
    • Contoh: Tuhan Yang Mahakuasa, tetapi Tuhan Yang Maha Esa.

Kesalahan pada aturan ini sering terjadi karena kita tidak membedakan antara kata turunan (seperti Pengasih) dan kata dasar (seperti Kuasa) saat merujuk pada Tuhan.

9. Imbuhan Serapan Asing Kita Tulis Serangkai

Imbuhan yang kita serap dari unsur asing, seperti -isme, -wan, -wati, dan -wi, juga wajib kita tulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

  • Contoh: sukuisme, wartawan, peragawati, duniawi.

Kita tidak memisahkan imbuhan serapan ini dengan spasi, misalnya ‘suku isme’ atau ‘wartawan’, karena bentuk tersebut sudah dianggap terintegrasi penuh dalam kosakata Bahasa Indonesia.

Mengatasi Kekeliruan Umum dalam Penulisan Kata Berimbuhan

Selain sembilan aturan utama di atas, kita juga sering menemui kekeliruan lain yang perlu kita benahi. Kesalahan dalam penulisan kata berimbuhan sering kali bersumber pada pengabaian peluluhan fonem dan pemisahan yang tidak perlu.

Misalnya, kita sering menulis ‘di’ sebagai awalan yang seharusnya serangkai, tetapi malah kita pisahkan karena terpengaruh oleh kata depan ‘di’ yang menunjukkan tempat. Sebagai contoh, kita menulis ‘di jual’ (salah) padahal seharusnya dijual (kata kerja pasif). Sebaliknya, kata depan ‘di’ yang menunjukkan tempat kita tulis terpisah, seperti di rumah.

Kata berimbuhan juga sering disalahpahami dalam konteks kata ulang berimbuhan. Ketika kata ulang mendapat imbuhan, kita menuliskannya serangkai dengan kata ulang tersebut, atau tanda hubung hanya ada pada kata ulang. Contohnya: bermain-main (prefiks), sayur-mayur (bentuk terikat), atau bermaaf-maafan (konfiks). Namun, ketika sebuah konfiks seperti ke-an dilekatkan pada kata ulang, kita menuliskannya seperti kerumah-rumahan, bukan kerumah-rumahan.

Prof. Dr. Gorys Keraf, seorang ahli linguistik, pernah menekankan bahwa afiksasi dalam Bahasa Indonesia merupakan proses morfologis yang kompleks karena melibatkan perubahan bentuk dan fungsi. Oleh karena itu, kita harus cermat memperhatikan bentuk-bentuk alomorf (variasi bentuk imbuhan) dan peluluhan yang terjadi. Kedisiplinan dalam menerapkan aturan, terutama terkait peluluhan meN- dan penulisan gabungan kata berimbuhan, akan menjauhkan kita dari kesalahan.

Kesimpulan  

Kesembilan aturan penulisan kata berimbuhan ini memberikan kita panduan yang jelas dan terperinci untuk menghasilkan tulisan berbahasa Indonesia yang baku. Kita harus selalu ingat bahwa awalan, sisipan, dan akhiran, termasuk gabungan awalan dan akhiran, pada dasarnya kita tulis serangkai dengan kata dasar. Pengecualian hanya berlaku pada beberapa kondisi spesifik, seperti ketika kata dasar diawali huruf kapital, atau ketika kita menggunakan bentuk terikat maha- yang merujuk pada sifat Tuhan.

Menguasai kaidah penulisan kata berimbuhan bukan hanya masalah teknis, tetapi juga menunjukkan komitmen kita pada kejelasan dan kebakuan berbahasa. Dengan terus berlatih menerapkan aturan ini, kita secara aktif berkontribusi dalam melestarikan dan memperkaya tata tulis Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, setiap penulis dan pengguna bahasa wajib memiliki pemahaman mendalam tentang setiap kaidah penulisan kata berimbuhan.